
Lusa pun tiba, kali ini Mama Diah akan kembali ke Semarang. Setelah lebih dari 4 bulan Mama Diah tinggal di Jakarta bersama Abraham dan Marsha, kini adalah saatnya bagi Mama Diah untuk kembali ke Semarang. Jika ada orang yang merasa begitu sedih, tentu dia adalah Marsha.
Bagi Marsha, Mama Diah tak hanya sekadar mertua. Mama Diah sudah selayaknya Ibu bagi Marsha. Mertuanya yang menempatkan diri dengan baik, menyayangi menantunya, bahkan tak segan membantu Marsha di dapur. Dalam waktu lebih dari empat bulan ini, Marsha begitu bersyukur ada Mama Diah yang menemaninya.
"Mama, sebenarnya Mama tidak usah kembali ke Semarang saja. Mama tinggal di Jakarta saja bersama kami," ucap Marsha dengan berlinang air.
Di Stasiun Gambir, Marsha yang menangis pun menjadi sorotan beberapa penumpang maupun pengantar di stasiun itu. Namun, Marsha yang sedih tidak menghiraukan tatapan aneh dari orang yang menatapnya.
"Sudah, tidak usah menangis. Jakarta ke Semarang naik kereta juga cuma lima jam kok ... jadinya kan dekat. Nanti Mama akan tinggal lama lagi bersama kalian," balas Mama Diah.
"Marsha bakalan kangen sama Mama, Mira juga," balasnya.
Sungguh hubungan mertua dan menantu jika sudah begitu baik bisa membuat hubungan layaknya anak dan Ibu kandung. Abraham yang melihat Marsha pun tersenyum di sana.
"Sudah Shayang, orang-orang pada lihatin kamu loh," balasnya.
"Mama, jangan lama-lama yah di Semarang nya, Marsha bakalan kesepian dan kangen sama Mama."
__ADS_1
Sungguh, jika sedang seperti ini Marsha seolah tengah merajuk kepada Mamanya sendiri. Layaknya seorang anak kecil yang selalu ingin menempel pada ibunya. Atau seperti anak ayam yang tidak ingin lepas dari induknya.
"Iya Sha, Mama akan ke Jakarta lagi. Nanti Mama bawakan makanan kesukaan kamu. Secepatnya Mama akan kembali ke Jakarta," balas Mama Diah.
Tidak berselang lama terdengar suara pemberitahuan bahwa penumpang dipersilakan untuk memasuki kereta. Di sana tangisan Marsha kian pecah rasanya. Tanpa ragu Marsha segera memeluk Mama Diah.
“Ma, hati-hati ya Ma … maafkan Marsha jika selama ini banyak merepotkan Mama. Marsha tunggu kedatangan Mama kembali ke Jakarta,” ucapnya.
“Iya Sha … pasti, pasti Mama akan kembali ke Jakarta untuk menjenguk kamu dan juga Mira.” setelah itu Mama Diah menatap kepada Abraham. “Bram, Mama pamit ya … jadi suami yang bertanggung jawab dan Ayah yang hebat untuk Mira. Mama percaya kamu kian hari kian dewasa. Selalu jaga istri dan anakmu,” pesan Mama Diah kepada Abraham.
Abraham pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, "Iya Ma ... pasti Abraham akan selalu menjaga Marsha dan Mira. Mama juga baik-baik di Semarang, sehat selalu. Sering hubungi kami ya Ma," balasnya.
"Dadaaa ... Marsha, Bram, dan Mira yang cantik. Sampai bertemu lagi," ucap Mama Diah dengan melambaikan tangannya kepada anak, menantu, dan cucunya itu.
Kereta api pun perlahan-lahan berjalan meninggalkan Stasiun Gambir. Marsha masih menangis dengan sesegukan dan Abraham segera merangkul bahu istrinya itu.
"Sesedih ini banget sih ... udah ya nangisnya," ucap Abraham yang berusaha menenangkan Marsha.
__ADS_1
"Udah terbiasa sama Mama, udah sayang sama Mama," balas Marsha.
"Ya, nanti lain waktu kan Mama bisa datang ke Jakarta lagi, atau kita nanti yang main-main ke Semarang. Mira juga biar main-main ke kampung halaman Mama dan Papanya," balas Abraham.
Pria itu segera membawa istrinya untuk keluar dari stasiun dan kembali ke mobil mereka. Marsha masih menangis dan menyeka air matanya sendiri, dengan masih menggendong Mira juga.
"Aku seneng banget Shayang ... kamu dan Mama saling menyayangi. Mengingat betapa dulu kalian tidak cocok satu sama lain saat kita pacaran dan sekarang Mama terlihat sayang banget sama kamu, pun begitu juga dengan kamu, tentu aku sangat senang," ucap Abraham.
Marsha pun tersenyum di sana, "Kasih sayang bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Cuma memang aku dari dulu tidak pernah membenci Mama walau Mama tidak merestui hubungan kita. Aku selalu hormat kepadanya. Sebab, tidak mungkin aku membenci seorang wanita yang sudah melahirkan suamiku dan mengasuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Aku akan menjadi istri yang berdosa," balas Marsha.
Abraham merespons dengan tersenyum kecil di sana, "Itu karena kamu adalah wanita yang baik, Shayang ... kamu disakiti pun kamu mau mengampuni. Aku belajar arti sabar itu dari kamu," balas Abraham.
Rupanya Marsha dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Salah, aku belajar menjadi orang yang sabar itu dari kamu. Kamu itu sabar banget. Bahkan di saat aku keras kepala dulu, kamu yang paling sabar ngadepin aku," balas Marsha.
"Ya sudah ... kita sama-sama sabar kalau begitu. Mau langsung pulang atau mau ada mampir ke mana gitu? Masih pagi ini Shayang," balas Abraham kemudian.
"Cari sarapan yuk Mas ... sekalian mengisi perut, soalnya tadi aku gak enak sarapan, sedih karena ditinggal Mama," balas Marsha.
__ADS_1
"Oke ... yuk cari sarapan dulu. Habis itu baru pulang ke rumah."