
Jika menghitung usia persalinan, kehamilan Marsha barulah 38-39 weeks. Dokter Indri pun menyampaikan bahwa hari perkiraan lahir masih minggu depan, tetapi yang terjadi sekarang justru Marsha merasakan perutnya yang begitu kencang. Sessi curhat yang berakhir dengan tangis haru, kini berubah menjadi kepanikan jadinya.
“Sabar ya Sha … Mama akan menghubungi Abraham terlebih dahulu,” ucap Mama Diah.
Sekadar mengambil handphone yang berada di atas nakas saja, tangan Mama Diah rasanya menjadi tremor. Namun, Mama Diah tetap mencari kontak Abraham di handphonenya dan sekarang melakukan panggilan telepon kepada anaknya itu.
“Halo,” ucap Mama Diah begitu panggilan telepon itu sudah terhubung.
“Ya, halo Ma … ada apa?” jawab Abraham melalui panggilan seluler itu.
“Bram, pulanglah sekarang yah … ini Marsha mengeluh perutnya sakit. Mama tidak tahu ini kontraksi palsu atau memang sudah waktunya bersalin,” ucap Mama Diah.
Mendengar kabar dari Mamanya, sontak saja Abraham juga merasa panik. Berbagai pikiran pun memenuhi kepalanya. Bagaimana jika Marsha melahirkan? Bisakah Marsha sabar menunggunya? Bagaimana persalinan nanti? Beragam pertanyaan yang datang justru membuat Abraham seakan tak bisa lagi berpikir.
"Ma, tolong jagain Marsha dulu ya Ma ... Abraham akan pulang sekarang. Bantuin Marsha dulu ya Ma," balas Abraham dengan suara yang terdengar begitu panik.
"Iya Bram, iya ... Mama akan jagain Marsha dulu. Hati-hati nyetirnya ya Bram," pesan Mama Diah kepada Abraham.
Sebab menyetir dalam keadaan panik itu berbahaya, sehingga Mama Diah berpesan supaya Abraham berhati-hati. Bagaimana pun keselamatan berkendara itu nomor satu.
"Iya Ma ... Abraham akan berhati-hati. Tolong jagain Marsha dulu buat Bram," balasnya.
Tanpa menunggu lama, Abraham memasrahkan studio fotonya kepada staf kepercayaannya dan kemudian pria itu berlari menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Walau panik, Abraham tetap berusaha menyetir dengan hati-hati. Namun, Abraham juga tidak ingin membuat Marsha menunggu terlalu lama. Entah itu kontraksi palsu, atau kontraksi sungguhan yang pasti jantung Abraham menjadi berdebar-debar rasanya.
Membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit, sampai Abraham tiba di unit miliknya. Pria itu berlari menyusuri koridor, dadanya sampai kembang kempis karena Abraham benar-benar berlari.
__ADS_1
"Mama," ucap Abraham begitu membuka pintu unitnya.
"Bram," sahut Mama Diah.
"Gimana Marsha Ma?" tanya Abraham.
"Perutnya masih sakit katanya Bram ... untung kami udah bersiap dengan koper yang akan dibawa untuk persalinan. Jadi, sekarang mending ke Rumah Sakit dulu deh Bram," perintah dari Mama Diah kepada Abraham.
Abraham pun mendekat ke Marsha. Wanita itu tidak menangis lagi, tetapi tangannya bergerak dan memberikan usapan di perutnya.
"Sakit ya Shayang?" tanya Abraham.
"Ii ... iya, Mas," jawab Marsha dengan berusaha keras menahan tangisnya.
"Kita ke Rumah Sakit sekarang yah?" Abraham mengajak Marsha untuk ke Rumah Sakit sekarang juga. Entah itu kontraksi palsu atau apa pun, yang pasti Dokter bisa memeriksa dan memastikan terlebih dahulu.
"Hmm, iya ...."
Abraham kemudian membantu Marsha untuk berdiri, membawa istrinya itu untuk masuk ke dalam mobilnya, tidak perlu menunggu lama Abraham akan membawa Marsha ke Rumah Sakit.
"Bisa jalan? Mau aku gendong?" tawar Abraham.
"Bisa, aku bisa jalan ... cuma pelan-pelan ya Mas," balas Marsha.
Sungguh, jika hanya sekadar berjalan saja dirinya masih kuat hanya saja, dia meminta kepada Abraham untuk berjalan pelan-pelan saja. Marsha berdiri, dan kini dia berdiri di depan Mama Diah dan memeluk mertuanya itu.
__ADS_1
"Ma, jika hari ini adalah hari persalinan ... doakan Marsha ya Ma ... doakan sehat dan selamat. Marsha minta maaf untuk kesalahan Marsha," ucapnya.
Mama Diah pun berbalik memeluk Marsha dan mengusapi punggung menantunya itu, "Pasti Sha ... pasti Mama akan mendoakan kamu dan si bayi. Sehat-sehat dan kuat ya Sha. Mama akan tunggu di sini yah, jika membutuhkan Mama, kirim pesan saja, Mama bisa langsung ke Rumah Sakit," balas Mama Diah.
Sungguh, jikalau hari ini adalah hari persalinan, Mama Diah berharap bahwa Marsha bisa melahirkan dengan selamat. Proses demi proses memang mendatangkan sakit luar biasa. Hanya saja, Mama Diah percaya bahwa Marsha bisa menghadapi semuanya.
Setelah berpamitan, Abraham segera membantu Marsha untuk berjalan dan menuju ke mobil. Dia bahkan sudah menghubungi Dokter Indri, dan menyampaikan bahwa mungkin saja terjadi kontraksi dan Dokter Indri juga meminta kepada Abraham untuk membawa Marsha ke Rumah Sakit terlebih dahulu.
"Sakit Shayang?" tanya Abraham kepada Marsha.
"Agak sakit, Mas ... mules rasanya," balas Marsha.
Menjawab pertanyaan dari suaminya, Marsha berusaha untuk tersenyum. Padahal rasa mules di perut kali ini benar-benar sakit rasanya.
"Sabar yah ... kita ke Rumah Sakit dulu. Kalau sakit bilang saja, tidak usah ditahan-tahan," balas Abraham.
Abraham hanya ingin jikalau Marsha sakit, dia bisa berbagi rasa sakitnya itu. Walau Abraham tidak bisa berbuat banyak, tetapi Abraham akan terus ada di samping Marsha dan menguatkan istrinya itu.
"Iya, ya sakit ... cuma masih bisa nahan. Pelan-pelan saja nyetirnya, Mas ... aku bisa nahan," balas Marsha.
Selain bisa menahan, Marsha pernah membaca di setiap artikel bahwa proses pembukaan itu membutuhkan waktu berjam-jam. Terlebih anak pertama, membutuhkan waktu bisa berhari-hari, sampai berminggu-minggu. Oleh karena itu, Marsha meminta Abraham untuk berhati-hati.
"Iya Shayang ... walaupun aku panik banget, cuma aku akan berhati-hati. Sabar ya Sayang," balas Abraham. Kini tangan Abraham bergerak dan memberikan usapan di perut Marsha, "Dedek ... sabar yah ... kami sedang membawamu dan Mama ke Rumah Sakit. Sabar yah ... kalau mau lahir tidak apa-apa. Mama dibantuin yah, biar Mama enggak terlalu kesakitan, kasihan Mama kamu kalau sampai kesakitan banget," ucap Abraham dengan lirih.
Itu adalah doa dan harapannya untuk Marsha. Jikalau bisa memang tidak perlu Marsha kesakitan sampai benar-benar sakit. Jikalau sekarang waktunya bersalin, proses pembukaan pun bisa lebih cepat.
__ADS_1