Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Mengunjungi Baby E!


__ADS_3

Sore harinya, Marsha dan Abraham mengajak Mira untuk mengunjungi adik bayi yang baru saja dilahirkan oleh Bu Sara. Sehingga siang, usai dari maternity shoot, Marsha mengajak Mira untuk mengunjungi baby store di salah satu mall dan membelikan hadiah untuk Baby Eiffel. Sebenarnya, Marsha pun merasa bingung harus memberikan apa untuk Bu Sara dan bayinya, mengingat bahwa mereka adalah keluarga berada dan juga bisa membeli apa pun yang mereka mau.


Namun, Marsha mencoba mengesampingkan semua itu dan memang memiliki niat yang tulus untuk memberikan bagi Bu Marsha dan bayinya. Marsha pun percaya bahwa memang Bu Marsha dan Pak Belva menghargai pemberian dari orang lain, tidak memandang harganya.


"Kita ke rumahnya Mama Sara dulu ya Mira," ajak Marsha kali ini kepada Mira.


"Iya Mama ... mau nengokin adik bayi ya Ma?" tanyanya.


"Iya, kan Mama Sara usai melahirkan, jadi sekarang ketika Mama Sara sudah lebih sehat, kita tengokin ya Sayang," ajaknya.


"Oke Mama ... Mira juga mau sama Kak El ya Ma," balasnya.


Marsha pun tertawa. Sebab, tanpa Mira berbicara sudah pasti bahwa dia ingin bermain dengan Kakak Elkan. Jadi, Marsha sudah hafal, ketika bermain ke rumah Mama Sara, sudah pasti Mira akan bermain dengan Kakak Elkan.


Kemudian mereka menuju ke kediaman Agastya, dengan menaiki sepeda motor, ada Papa Abraham yang memboncengkan Marsha di belakang dan Mira memilih berdiri di depan. Hanya beberapa menit saja, dan mereka sudah sampai di rumah mewah keluarga Agastya. Sekuriti di rumah itu pun sudah hafal dengan Marsha dan Abraham. Sehingga, sudah pasti langsung dibukakan pintu gerbang dan dipersilakan untuk masuk.


"Mau nengokin Bu Sara, Pak," ucap Marsha kepada sekuriti di sana.


"Ya, Bu Marsha dan Pak Abraham ... silakan masuk."


Mereka bahkan diantar sampai ke depan pintu rumah dan dipersilakan masuk ke dalam rumah mereka. Kemudian, Abraham pun memasuki rumah itu dan mengucapkan salam.


"Permisi Pak Belva," sapanya.


"Masuk saja Bram ... sini langsung masuk," balas Pak Belva yang ternyata dengan menimang si baby kecil di ruang tamu. Di sana juga ada Bu Sara yang duduk di samping suaminya.


"Mama Sara," sapa Mira yang begitu senang bisa melihat Mama Sara.


"Hai, Cantik ... sini duduk dekatnya Mama," balasnya.

__ADS_1


Marsha pun tersenyum, "Papa Belva tidak disapa?" tanyanya kepada Mira.


"Halo Papa Belva," sapa Mira yang kemudian duduk di tengah-tengah antara Belva dan Sara. Terlihat begitu menggemaskan, padahal sebenarnya mereka berdua hanya sebatas tetangga dekat saja.


"Bu Sara selamat yah untuk persalinannya. Semoga babynya sehat dan Bu Sara cepat pulih yah," ucap Marsha dengan menyerahkan kado untuk si baby.


"Wah, makasih Tante Marsha dan Om Abraham ... makasih banyak yah," balas Sara dengan senang.


"Sama-sama Bu," balas Marsha dan Abraham bersama-sama.


"Nama adik bayinya sapa Ma?" tanya Mira kepada Mama Sara.


"Namanya Eiffel, Sayang ... nanti Kak Mira kalau adik Eiffel makin besar, diajakin bermain yah?"


"Iya Mama ... nanti Eiffel diajakin main boneka yah," balas Mira.


Selang beberapa saat, ada Elkan yang turun dari kamarnya dengan Omanya yang datang dari Singapura. Melihat Mira, rupanya Elkan segera berlari menuju ke ruang tamu.


"Hati-hati, El," ucap sang Oma yang meminta Elkan untuk berhati-hati.


"Iya Oma," balas Elkan yang kadung berlari ke arah Mira.


"Tuh, Bram ... kalau ketemu Mira sebahagia itu," ucap Pak Belva dengan lirih kepada Abraham.


"Lucu ya Bos," balasnya.


Kemudian Abraham dan Marsha berdiri untuk memberikan salam kepada orang tua Pak Belva yang datang dari Singapura itu.


"Halo, salam Tante," sapa Abraham dan Marsha dengan sopan.

__ADS_1


"Aduh, saya sudah tua. Sudah paruh baya, panggil Mama dan Papa saja, seperti Belva dan Sara," balas Tante Diana yang tak lain adalah Mama kandung Pak Belva.


"Oh, iya ... salam kenal Mama," balas Marsha dengan menundukkan kepalanya.


"Hamil ya Marsha?" tanya Mama Diana.


"Benar Ma ... hampir tujuh bulan. Jadi, dua bulan lagi sudah waktunya bersalin," balasnya.


"Elkan, kok langsung duduk dekatnya Mira. Sini, duduk sini, biar di situ tidak penuh," ucap Mama Diana yang meminta Elkan untuk bergeser tempat duduk.


"Elkan di sini aja Oma ... mau main sama Mira kok," balasnya.


"Sudah pulih Bu Sara?" tanya Marsha kemudian.


"Sudah, pakai metode ERACS cepat kok, Sha ... tidak begitu sakit. Cuma kalau ngilunya ya masih sih," balasnya.


"Iya, Marsha ... caesar saja ... dulu Mira ini normal atau caesar?" tanya Mama Diana.


"Normal, Ma ... waktu itu juga pembukaan dua ke pembukaan selanjutnya itu lama banget," balasnya.


"Caesar saja ... itu sehari usai melahirkan Sara sudah bisa berjalan," balas Mama Diana.


Bu Sara pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... sehari sudah bisa berjalan sih, Sha ... cuma ya sampai sekarang ngilu bekas jahitan itu masih terasa. Gak sakit kok," balasnya.


"Saya belum kepikiran Bu Sara, konsultasi dengan Dokter Indri dan dengan Mas Abraham dulu," jawabnya.


"Caesar tidak masalah Shayang ... senyamannya kamu saja," balasnya.


"Nah, betul gitu, Bram ... kan kita berpikirnya yang tidak terlalu sakit untuk istri kita yah?"

__ADS_1


"Benar Bos ... senyamannya istri saja. Suami penting siap siaga," balas Abraham.


__ADS_2