Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Pizza Kenangan


__ADS_3

Dengan dada yang bergemuruh karena begitu kecewa dan juga ada amarah, Marsha memilih kembali ke apartemennya. Sebagaimana janjinya dengan Abraham beberapa pekan yang lalu, kali ini Marsha akan mengunjungi Abraham terlebih dahulu.


Bukan dengan tangan kosong, kali ini Marsha datang dengan membawa dua box Pizza di tangannya. Wanita itu mengingat bahwa Abraham menyukai makanan khas Italia itu. Untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Abraham, Marsha membelikan Pizza dengan rasa kesukaan Abraham yaitu Supreme Meat dan juga Tuna Melt. Berharap, sedikit bentuk ucapan terima kasih untuk kebaikan dan pertolongan Abraham kepadanya selama ini.


“Bram,” panggil Marsha sembari mengetuk pintu unit apartemen milik Abraham.


“Ya, sebentar,” sahutan suara dari dalam yang tentunya adalah suara Abraham. Tidak berselang lama, Abraham pun keluar membukakan pintu bagi Marsha.


“Bram,” ucap Marsha lagi yang hanya bisa menyebutkan nama pria itu.


“Masuk, Sha,” balas Abraham yang membukakan pintu dan mempersilakan Marsha untuk untuk di sofa yang berada di ruang tamu apartemennya.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian duduk di sudut sofa itu, sembari mengamati satu sudut di apartemen itu yang penuh beberapa kertas.


“Baru sibuk?” tanya Marsha kepada pria itu.


“Iya, itu aku baru ujicoba cetak beberapa foto sih. Cuma sudah selesai kok,” balas Abraham.


“Oh, kukira masih sibuk kerjanya. Kalau masih sibuk gak apa-apa dilanjut aja,” balas Marsha.


Sungguh, Marsha tidak ingin jika Abraham tidak mengerjakan semua pekerjaannya dan memilih meluangkan waktu untuknya. Jauh lebih baik jika Abraham bisa kembali bekerja, karena Marsha bisa kembali ke unit apartemennya dan beristirahat.


“Tidak, aku sudah selesai kok … sebentar, aku rapikan dulu,” ucap Abraham.


Abraham lantas menuju ke salah satu sudut apartemen itu, tempat di mana terdapat sebuah Personal Computer dan mesin printer di sana. Abraham merapikan beberapa kertas foto yang berhamburan di lantai.


Sementara Marsha memilih menunggu Abraham. Terkadang Marsha menatap pria itu, terkadang Marsha membuang arah pandangannya dan melihat ke hal yang lain. Sampai akhirnya, Abraham pun sudah duduk di samping Marsha.


“Bagaimana hari ini?” tanya Abraham kemudian.

__ADS_1


“Berjalan dengan baik … hanya saja sebagai prosedur pengadilan kami ditawarkan untuk melakukan proses mediasi. Persidangan akan dilanjutkan tiga pekan lagi,” balas Marsha.


Abraham merespons dengan menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu beringsut dan menatap wajah Marsha.


“Kamu terlihat tenang Marsha … apakah kamu tidak akan menyesalinya? Dulu, kamu begitu hancur saat Mama dan Papamu melihat bercerai dan meninggalkanmu begitu saja. Sekarang, kamu juga harus menghadapi perceraian lagi dan justru perceraianmu sendiri. Sungguh kamu tidak apa-apa?” tanya Abraham.


Sebagai orang yang di masa lalu pernah dekat dengan Marsha, mengetahui hari-hari terberat dalam hidup Marsha ketika perceraian kedua orang tuanya terjadi, Abraham sangat tahu bahwa Marsha sekarang pun kembali hancur. Hanya saja, Marsha sekarang jauh lebih tenang.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Marsha dengan helaan nafas panjang.


Kemudian Marsha mengalihkan pembicaraan itu, wanita itu membuka satu kotak Pizza dengan rasa supreme meat itu dan menyerahkannya kepada Abraham.


“Pizza, Bram … rasa kesukaanmu dengan melt chesse,” ucap Marsha sembari menyodorkan kotak Pizza itu.


“Thanks, Sha,” balas Abraham dengan mengambil satu potong Pizza. Namun, kali ini Abraham memberikan satu potong yang sudah dia ambil itu untuk Marsha.


Bahkan tindakan Abraham pun masih sama saat mereka masih berpacaran di bangku kuliah dulu. Setiap kali mereka memakan Pizza, Abraham akan mengambil potongan pertama dan menyerahkannnya untuk Marsha.


“Kamu pun masih sama, Bram,” ucap Marsha yang menerima sepotong Pizza dari tangan Abraham.


“Aku selalu sama, Sha … juga dengan perasaanku,” ucap Abraham kali ini dengan pandangan yang sekilas melirik kepada Marsha.


Sungguh, sebatas mengingat kembali memori kebersamaan mereka di masa lalu dan mendengar bahwa perasaan Abraham yang sama masih membuat hati Marsha berdesir. Namun, Marsha segera menenangkan perasaannya tidak ingin terjebak dalam nostalgia dengan mantan kekasihnya itu.


“Aku berharap kamu segera bebas dari jerat rumah tanggamu. Berbahagialah Marsha, aku ingin kamu bahagia,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.


Sebagai pria yang sudah lama mencintai Marsha, Abraham tahu dengan pasti tidak ada kebahagiaan di dalam hidup Marsha. Terlebih akhir-akhir ini dengan berbagai masalah rumah tangga yang menimpanya, Abraham sangat yakin hidup Marsha akan penuh dengan kepdihan.


“Iya Bram, makasih … ayo dimakan Pizzanya. Aku belikan Pizza, makanan favorit kamu,” balas Marsha.

__ADS_1


Abraham tersenyum, kemudian dia mulai menggigit potongan Pizza yang berbentuk segitiga itu. Mengunyahnya perlahan, kemudian sesekali Abraham melirik ke arah Marsha yang juga tampak menikmati Pizza di tangannya.


“Kapan kamu siap untuk bekerja lagi, Sha?” tanya Abraham kali ini kepada Marsha.


Bagi Abraham sudah sebulan lamanya Marsha tidak mengambil pemotretan. Selain karena tubuhnya yang terluka, Abraham juga tahu bahwa Marsha mengambil cuti karena permasalahan rumah tangganya yang pelik. Namun, Abraham ingin Marsha kembali bekerja dan mengisi hari-harinya dengan pekerjaan yang bisa mengalihkan kesedihannya.


“Mungkin setelah perceraianku usai. Sebulan ini, aku ingin fokus ke perceraianku terlebih dahulu,” balas Marsha.


Tidak ingin terbebani, Marsha memilih fokus dengan perceraiannya terlebih dahulu. Menyelesaikan semuanya satu per satu. Setelahnya, Marsha akan kembali ke dunia modelling.


Marsha lantas melihat ke jendela dengan pemandangan Ibukota di mana langitnya mulai redup. “Hujan, Bram … jadi teringat saat di Semarang, waktu kita ke sebuah restoran Pizza, dan hujan deras turun kali itu,” gumam Marsha dengan lirih. Terbayang kenangan saat mereka berdua masih berada di Semarang dulu.


Abraham pun tersenyum, satu tanganya terulur dan mengusapi puncak kepala Marsha di sana. “Kamu masih ingat?” tanyanya.


“Tentu aku ingat,” balas Marsha pada akhirnya.


Semua kenangan bersama Abraham dulu, selalu ada di dalam ingatannya. Mengenang masa lalu ditemani rintik hujan di hari yang telah redup itu nyatanya membuat Marsha sedikit melupakan masalah rumah tangganya yang pelik bersama Melvin. Melupakan kenangan pahit karena menikahi aktor terkenal yang sudah menorehkan banyak luka di hatinya.


“Berarti bukan hanya aku yang mengingat semua kenangan di antara kita. Kamu juga mengingatnya. Boleh kutebak varian di box Pizza yang masih tertutup ini?” tanya Abraham kemudian.


“Silakan, tebak saja,” sahut Marsha.


“Pasti Tuna Melt,” balas Abraham.


Marsha pun tersenyum, tidak mengira bahwa tebakan pria itu benar. “Bagaimana bisa?” tanya Marsha kemudian.


“Katamu tadi … kamu membelikan Pizza kesukaanku, jadi sudah pasti Tuna Melt,” balas Abraham dengan yakin.


Marsha tertunduk, malu-malu rasanya. Kenapa selalu ada kebahagiaan yang dia rasakan saat bersama dengan Abraham. Rasa yang membuatnya nyaman dan terkadang menyulut hasrat terlarang di dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2