
"Marsha bisa jelaskan semuanya, Ma … ini tidak seperti yang Mama kira," ucap Marsha yang seakan berharap bahwa Mama mertuanya bisa mendengarkan penjelasannya.
Akan tetapi, Mama Saraswati seakan enggan untuk mendengar penjelasan dari Marsha. Wanita paruh baya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menatap Marsha dengan sorot mata yang tajam. Mama Saraswati sendiri juga tidak menyangka sebenarnya akan bertemu dengan Marsha di mall ini.
“Sebaiknya dijelaskan semua di rumah. Mama tunggu,” ucap Mama Saraswati.
Lantas Mama Saraswati memilih pergi begitu saja dari hadapan Marsha, dan meminta Marsha untuk menjelaskan semuanya di rumah.
Tautan tangan Marsha di tangan Abraham pun terurai begitu saja. Bahkan lantaran terpergok mertuanya sendiri tidak dipungkiri membuat Marsha begitu cemas, sampai keningnya berkeringat dengan sendirinya.
“Bram, aku pamit pulang dulu yah,” pamit Marsha kali ini kepada Abraham.
Pria itu akhirnya menganggukkan kepalanya, “Iya, Sha … kabarin aku kalau ada sesuatu yang terjadi aku. Atau, aku akan mengantarmu pulang?” tawar Abraham kali ini kepada Marsha.
Akan tetapi, dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak usah, Bram … aku bisa pulang sendiri kok,” balas Marsha dengan cepat.
“Kalau terjadi apa-apa sama kamu?” tanya Abraham.
Kali ini Abraham terlihat khawatir. Tidak dipungkiri bahwa melihat sorot mata yang tajam dari wanita paruh baya yang tidak lain adalah mertua Marsha membuat Abraham takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Marsha. Hal yang buruk bisa saja terjadi, dan Abraham ingin melindungi Marsha untuk semua kemungkinan buruk itu.
“Tenang saja, Bram … aku bisa membela diriku,” balas Marsha.
Membela diri yang seperti apa yang dimaksud Marsha, sebenarnya Marsha sendiri pun tidak tahu. Sebab, Marsha juga tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Dia hanya bisa menjelaskan semuanya kepada Mama Saraswati terlebih dahulu.
Meninggalkan Abraham seorang diri di mall itu, Marsha akhirnya berpisah dari pria itu, tidak lupa Marsha meminta maaf karena terjadi hal yang benar-benar di luar batas kendalinya.
__ADS_1
Saat mengemudikan mobil pun, Marsha merasa gusar, tetapi Marsha berusaha tetap tenang dan fokus selama mengemudikan mobilnya. Paling tidak dia bisa sampai di rumah dengan selamat. Setelah lebih dari setengah jam, barulah mobil Marsha memasuki kediaman Melvin, rumah mewah berlantai dua yang menjadi tempat huniannya itu.
Membuka pintu utama, rupanya di sana sudah ada Mama Saraswati yang menatapnya tajam.
“Duduk, Sha,” pinta Mama Saraswati.
Wajah wanita paruh baya itu terlihat menyorot tajam pada sosok Marsha. Sama sekali tidak bersahabat dengan Marsha.
“Iya, Ma,” balas Marsha.
“Jadi, yang Mama lihat tadi apa Sha?” tanya Mama Saraswati.
Marsha diam, kedua tangannya saling bertaut satu sama lain. Tidak dipungkiri Marsha bingung harus memulai dari mana semua ceritanya bersama Abraham. Akan tetapi, Marsha memang harus memberikan penjelasan kepada Mama mertuanya itu.
“Dia temannya Marsha, Ma,” ucap Marsha. Tentu itu adalah sebuah kalimat pembukaan saja.
Seolah Mama Saraswati mencecar Marsha dengan berbagai pertanyaan. Tidak mungkin ada perteman di mana dia melihat sendiri bagaimana menantunya bergandengan tangan dengan mesranya bersama laki-laki lain.
“Akui saja semuanya, Sha … untuk apa kamu bertahan dengan Melvin, anak Mama jika di luar sana kamu justru bermain serong dengan pria lain,” ucap Mama Saraswati.
Marsha lagi-lagi hanya diam, sebenarnya Marsha ingin sekali membela dirinya sendiri. Secara logika, Marsha tahu apa yang sudah dilakukannya adalah kesalahan, tetapi untuk semua kesalahan yang terjadi sudah pasti ada pemicunya bukan? Sara melakukan perbuatan seperti ini juga ada pemicunya.
“Kamu diam kan? Karena kamu tidak bisa menjawab Mama … kamu sudah bersalah, Sha,” balas Mama Saraswati.
Justru dari sebuah perkataan yang diucapkan Mama Saraswati, wanita paruh baya itu tengah memojokkan menantunya itu.
__ADS_1
Terlihat dengan dengan jelas bahwa posisi Marsha sama sekali tidak menguntungkan. Ingin memberikan jawaban pun, seakan tidak diberikan kesempatan oleh mertuanya itu. Sampai akhirnya, Marsha menghela nafas. Wanita yang semula menundukkan wajahnya itu, perlahan mengangkat wajahnya perlahan.
“Sudah Ma, bertanyanya? Sekarang biar Marsha menjelaskan semuanya satu per satu,” jawab Marsha pada akhirnya.
“Untuk segala sesuatu ada pemicunya, Ma … benar tadi bukan teman, Marsha … dia adalah Abraham, mantan pacar Marsha pada masa kuliah dulu. Kami kembali bertemu dan kami menjadi dekat satu sama lain. Kesibukan Melvin dan perilaku Melvin yang buruk membuat Marsha menemukan kenyamanan dari sosok Abraham,” aku Marsha dengan jujur.
Agaknya sekarang tidak ada lagi yang perlu Marsha sembunyikan kali ini dari mertuanya. Marsha mengakui semuanya secara jujur.
“Benar tebakan Mama … kamu memang bukan wanita yang baik untuk Melvin. Bisa-bisanya kamu berselingkuh di saat Melvin mati-mati mencari Rupiah untuk kamu,” balas Mama Sarasawati.
Perkataan itu terasa pedas, tetapi memang Marsha menyadari bahwa yang sudah dia lakukan salah. Di saat kehambaran menyapa rumah tangganya, justru dia tergoda dengan sosok pria lain.
“Tadi kamu bilang, Melvin berperilaku buruk? Perilaku buruk seperti apa yang kamu maksud?” tanya Mama Saraswati.
Marsha melepas blazer yang sedari tadi dia pakai, melihatkan area dadanya dengan bekas-bekas perbuatan Melvin di sana. Noda merah kebiruan, nyaris ungu. Bukankah semua itu cukup menjadi bukti bahwa secara fisik pun Marsha terluka.
“Seperti ini bukankah buruk Ma? Memangnya ada seorang suaminya memperlakukan istrinya seperti ini? Hubungan suami istri itu tanda cinta, Ma … bukan untuk menyakiti satu sama lain,” balas Marsha.
Bukan membuka aib suaminya, tetapi setidaknya Mama Saraswati harus melihat sedalam apa luka yang sudah Melvin torehkan pada diri Marsha.
Mama Saraswati menggelengkan kepalanya dan segera menyangkalnya, “Tidak mungkin … tidak mungkin Melvin melakukan semua itu. Jika ada luka seperti itu, pasti karena pria itu. Pria yang bersamamu tadi. Kamu pasti sudah tidur dengannya,” balas Mama Saraswati.
Marsha tersenyum getir menatap mertuanya itu. “Apa kasih sayang seorang ibu tidak bisa melihat bagaimana perbuatan buruk anaknya sendiri? Sehingga di mata Mama hanyalah Marsha yang bersalah dalam masalah ini,” jawabnya.
“Tutup mulutmu itu, Marsha! Dari awal Mama tidak suka denganmu karena kamu tidak layak mendampingi Melvin dan sekarang semuanya terbukti bukan bahwa kamu bukanlah istri yang setia. Istri yang bermain serong dengan pria lain di luar sana. Murahan!”
__ADS_1
Akhirnya perkataan pedas dan umpatan itu keluar juga dari mulut Mama Saraswati. Seorang Mama mertua yang dengan teganya mengatakan menantunya sendiri murahan. Kali ini Marsha juga menyadari bahwa memang sejak awal Mama mertuanya itu tidak suka dengannya. Semuanya terjawab sudah, bahwa memang sia-sia saja untuk semua yang Marsha lakukan jika memang di dalam hati Mama mertuanya tidak menyukainya.
Rasanya Marsha tersenyum getir, seorang mertua yang dengan teganya mengatakan menantunya sendiri murahan. Sungguh, Marsha tidak menyangka bahwa Mamanya itu akan mengatakan hal yang demikian kepadanya.