
Kelahiran bayi bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga memberikan waktu adaptasi untuk anggota keluarga di rumah. Mama Marsha yang akan beradaptasi untuk mengurus bayi lagi dan dekat dengan dunia per-ASI-an, Papa Abraham yang harus menjadi Papa dari dua orang anak di rumah dan mendukung Marsha dalam proses meng-ASI-hi, dan juga Mira yang perlu beradaptasi untuk menjadi seorang Kakak.
"Adiknya bobok ya Ma?" tanya Mira yang menyusul Mamanya ke dalam kamar.
"Iya Sayang ... masih bobok. Kalau bayi seperti ini, boboknya masih mengikuti waktunya ketika masih berada di dalam kandungan Sayang," jelas Marsha kepada putrinya itu.
"Lalu, menangis itu kenapa Ma?" tanya Mira lagi.
"Bisa karena dia haus dan minta ASI, bisa juga karena diapersnya penuh, atau juga karena tidak nyaman. Dulu Mira waktu bayi juga seperti ini," balas Marsha.
Tampak Marsha menganggukkan kepalanya perlahan dan mengamati adik bayinya itu. Rasanya lucu, gemas, tetapi juga itu Mira juga harus berbagi dengan adiknya terutama untuk waktu pengasuhan dengan Mama dan Papanya. Sebab, Mama dan Papanya juga akan mengasuh adik bayi.
"Berarti sekarang Mama sama adiknya terus yah?" tanya Mira.
Marsha menggelengkan kepalanya dan kemudian tersenyum, "Enggak ... waktunya dibagi-bagi dengan Kak Mira dan Adik Marvel. Yang penting untuk kalian berdua," jawab Marsha.
Mira pun duduk mendekat ke Mamanya dan menyandarkan kepalanya di dekat dada Mamanya. "Mama, Mira sayang Mama loh ... penting bisa main dan belajar sama Mira ya Ma," pintanya.
"Iya, pasti Sayang ... kalau tidak pas Adik menangis dan minta ASI, sudah pasti Mama akan sama dengan Mira. Oke?"
"Oke Mama ... Mira main sama Eyang dulu ya Ma," pamitnya kemudian.
Sementara itu, Abraham pun memasuki kamar untuk menaruh beberapa barang di dalam kamarnya. Pria itu melihat Marsha yang sedang hati-hati menaruh Baby Marvel di dalam box bayi, dan kemudian hendak mengambil tissue yang ada di dekat nakas. Rupanya, Abraham mendahului dan mengambilkan tissue untuk Marsha.
"Perlu tissue? Bilang saja Sayang ... aku akan mengambilkannya buat kamu," balasnya.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... gerah Mas, keningku berkeringat."
__ADS_1
Abraham kemudian mengambil satu helai tissue dan mulai menyeka keringat di kening Marsha itu. Dengan pelan-pelan, Abraham menyeka kening itu.
"Sekarang Marshaku sudah menjadi Mama untuk dua orang anak ... Mama yang hebat," ucap Abraham dengan memandang wajah istrinya.
"Kamu juga ... Mas Abraham sudah menjadi Papa untuk dua orang anak ... sekarang lebih perhatian ke Mira juga ya Mas. Jangan sampai dia merasa terabaikan karena sudah ada adiknya. Walau waktu memang dibagi, pastikan Mira bisa diakomodasi dengan baik," ucap Marsha.
"Kenapa emangnya Sayang?" tanya Abraham kemudian.
"Iya, tadi Mira tuh bertanya, apakah nanti Mamanya akan sama adik terus? Terus aku jawab, ya tidak ... waktunya dibagi untuk Mira dan Adik Marvel. Jadi, kita harus kerja sama lebih baik lagi untuk Mira dan Marvel ya Mas," balas Marsha.
Abraham tampak menganggukkan kepalanya, "Benar Sayang ... bukan cuma kita berdua yang beradaptasi dengan bayi lagi. Mira juga butuh waktu untuk beradaptasi. Ya sudah, aku turun ya Sayang ... aku main sama Mira. Biar dia tidak merasa terabaikan setelah adiknya lahir. Kamu di sini sama Marvel tidak apa-apa," balas Abraham.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya, temenin Mira dulu ya Papa," balasnya.
"Pasti Mama Marsha," jawab Abraham dengan memeluk Marsha perlahan dan mulai mengurai pelukannya, lantas keluar dari kamarnya untuk bermain dengan Mira.
"Mira baru main apa ini?" tanyanya.
"Main masak-masakan Pa ... Mira yang jualan, Papa yang beli yah. Jualan es krim," balas Mira.
Bahkan sekarang gadis kecil itu tampak bernyanyi yang membuat Abraham tertawa dengan sikap lucu Mira.
Es krim es krim
Dari susu dan krim
Aku mau makan es krim
__ADS_1
Rasa apa yang kamu sukai?
"Papa mau beli es krim rasa apa?" tanya Mira.
"Es Krim rasa Kopi ada tidak?"
"Ada, Mira buatkan kopi dulu yah ... kayak Mama kalau membuatkan Papa kopi di pagi hari," balasnya.
Abraham pun tertawa, benarkah sebenarnya selama ini putrinya itu mengamati keseharian mereka di dalam rumah. "Mira tahu yah, kalau Mama membuatkan kopi untuk Papa?" tanyanya.
"Iya, tahu dong ... kopi hitam dikasih dua sendok teh gula, dikasih air panas dan kemudian diaduk-aduk. Begitu kan?" tanya Mira kemudian.
"Yak, benar sekali. Mama memang membuatnya begitu Sayang. Jadi, nanti kalau Mira sudah besar bisa enggak bisa membuatkan kopi untuk Papa?"
"Bisa ... bisa dong Papa, kan nanti Mira belajar dulu sama Mama," balasnya dengan tampak begitu yakin bahwa dia bisa membuatkan kopi untuk Papanya nanti.
Abraham menganggukkan kepalanya, dia meyakini bahwa anak-anak memang akan mengamati aktivitas dan perilaku yang terjadi di dalam rumah. Seperti Mira yang diam-diam tahu bahwa Mamanya selalu menyeduh kopi setiap pagi.
"Papa ini ... es krimnya buat Papa," ucap Marsha dengan memberikan es krim kepada Papanya.
"Wah, ada dua scope es krim di sini. Rasa apa saja ini?" tanyanya.
"Yang coklat muda ini kopi, dan yang putih ini vanilla. Jadi, kopi susu, Papa ... kalau yang dijual di kedai kopinya Mama Sara," balasnya.
Lagi-lagi Abraham tertawa dan menganggukkan kepalanya perlahan, "Oke deh ... terima kasih. Berapa harganya?" tanya Papa Abraham.
"Lima ribu saja, Papa," balasnya.
__ADS_1
Ya, siang itu Abraham dan Mira memilih untuk bermain peran (role play). Mira yang menjadi penjual dan Papa Abraham yang menjadi pembeli. Sembari bermain Papa dan anak itu juga terlibat dengan obrolan yang seru.