
Selang beberapa hari berlalu, datang sebuah surat pemeriksaan untuk Melvin Andrian di rumahnya. Rupanya kali ini pun Mama Saraswati masih tinggal di rumah putranya itu. Sang Mama sendirilah yang menerima surat yang dikirimkan secara resmi dari kantor kepolisian itu.
Dengan menggenggam surat dalam amplop cokelat itu, Mama Saraswati mengernyitkan keningnya. Wanita paruh baya itu menduga-duga, apa yang sebenarnya dikirimkan pihak kepolisian untuk Melvin. Seakan ingin mendahului Melvin, Mama Saraswati yang membuka terlebih dahulu surat itu. Ya, Mama Saraswatilah yang membuka surat itu, setelahnya barulah dia akan memberitahu kepada Melvin apa isi dari surat itu.
Surat Panggilan
Pertimbangan: bahwa untuk kepentingan pemeriksaan dalam rangka penyidikan tindak pidana, maka perlu memanggil seseorang untuk didengar keterangannya.
Dasar: Pasal 7 ayat 1 huruf g, pasal 11, dan pasal 13 KUHAP.
Memanggil:
Nama: Melvin Andrian
Jenis Kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Aktor
Kewarganegaraan: Indonesia
Untuk: hadir menemui penyidik AKBP Handoko di kantor Barekrim Polri, untuk didengar dan diminta keterangan sehubungan dengan dugaan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Saudari Marsha Valentina.
Membaca isi surat itu, kian geramlah Mama Saraswati. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa Marsha membawa perkara ini ke jalur hukum. Agaknya mereka terlalu memberi kelonggaran kepada Marsha, hingga Marsha melakukan tindakan sekehendak hatinya, dan kini kebebasan Melvin pun terancam.
Dengan cepat Mama Saraswati menghubungi putranya itu untuk memberitahukan terkait surat panggilan pemeriksaan dari pihak berwajib.
“Halo, Vin … baru di mana?” tanya Mama Saraswati kepada putranya itu.
Sementara Melvin sekarang tidak berada di lokasi syuting. Melvin sedang bergelung tanpa busana dengan Lista di salah satu hotel bintang lima di Ibukota. Untung saja Mamanya menelpon setelah Melvin menuntaskan kegiatan panasnya bersama dengan Lista. Jika tidak, sudah pasti Melvin akan menerima telepon itu dengan nafas yang terengah-engah. Kini pria itu sedikit beringsut dan meninggalkan kecupan di kening Lista.
__ADS_1
“Ya, Ma … ada apa?” tanya Melvin dengan menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang super king size di hotel bintang lima itu.
“Ada surat pemeriksaan dari kepolisian. Rupanya wanita sialan itu melaporkanmu ke pihak berwajib atas tuduhan KDRT,” ucap Mama Saraswati.
Mendengar bahwa Marsha melaporkannya ke pihak berwajib, Melvin pun menyeka wajahnya secara kasar. Lista yang berbaring di sampingnya, tampak mengamati raut wajah Melvin yang seketika berubah itu dan memberikan usapan di lengan pria yang merupakan partner ranjangnya itu.
“Lalu, Ma?” tanya Melvin.
Pria itu juga memberikan anggukan kepada Lista, dan mengusapi puncak kepala wanita yang masih berbaring tanpa mengenakan busana di sampingnya itu.
“Dua hari lagi, kamu harus menjalani pemeriksaan, Vin,” sahut Mama Saraswati.
“Tidak bisakah mangkir Ma?” tanya Melvin. Sebab, jika bisa mangkir tentu saja Melvin akan memilih mangkir.
“Tidak bisa, harus datang.” jawab Mama Saraswati.
Yang disampaikan Mama Saraswati benar. Sebab, secara prinsip, siapapun yang dipanggil untuk dimintai keterangan wajib datang. Jika tidak hadir, bisa saja dianggap menghalangi proses penegakan hukum. Ada risiko hukum jika mangkir dari panggilan polisi. Bahkan pihak kepolisian bisa menangkap paksa mereka yang mangkir beberapa kali dari proses penyidikan. Sehingga kali ini, Melvin lebih baik hadir.
Seketika, Lista pun bertanya kepada Melvin, wanita itu beringsut dan kini duduk dengan menghadap Melvin.Duduk santai walaupun tubuhnya dengan lekuk-lekuk feminitasnya terekspose begitu saja. Tidak merasa malu di hadapan Melvin.
“Ada apa? Wajah kamu berubah, Babe,” ucap Lista. Wanita itu membawa tangannya dan membelai wajah Melvin di sana. Memberikan usapan dari pihak hingga ke rahang pria itu.
“Marsha melaporkanku ke kepolisian untuk tuduhan kekerasan dalam rumah tangga,” jawab Melvin dengan jujur.
Bukan hanya Melvin, Lista pun juga menghela nafas. Wanita itu kemudian membawa telapak tangannya dan menyisiri wajah Melvin, membelainya dengan lembut di sana.
“Tenang saja … aku yakin kamu bisa menjalaninya, sini dengarkan aku,” ucap Lista.
Wanita itu mendekat, menyampai sesuatu dengan berbisik di telinga Melvin. Seakan ada siasat lagi yang akan dilakukan Melvin kali ini.
__ADS_1
“Bisakah?” tanya Melvin.
“Coba saja,” ucap Lista.
Melvin menganggukkan kepalanya, lantas pria itu kembali mendorong Lista dan menindihnya. Di saat suasana hatinya buruk dan pikirannya berat, Melvin sangat membutuhkan Lista untuk bersenang-senang bersama di atas ranjang dan menggapai puncak kenikmatan dengan partner ranjangnya itu. Lista juga membuka akses secara penuh, dan membiarkan Melvin melakukan apa pun atas tubuhnya. Tidak mempermasalahkan untuk setiap kegiatan panas yang dilakukan Melvin atasnya. Asalkan Melvin puas, Lista pun sama sekali tidak akan keberatan.
Kali ini Melvin kembali menyetubuhi Lista dengan liar, sedikit keras, karena dengan mengeluarkan seluruh energinya untuk bercinta, Melvin merasa dirinya menjadi lebih baik. Selain itu, Lista yang tidak merintih dan justru mengikuti permainan Melvin membuat suasana di dalam kamar hotel itu kian panas. Berbagai gaya mereka coba dan lakukan bersama. Tidak ada gerakan seduktif yang lembut, yang ada adalah menyalurkan seluruh hasrat dan gelombang yang memenuhi diri Melvin kala itu.
***
Dua Hari Berselang …
Dengan didampingi kuasa hukumnya, Melvin menyambangi kantor Bareskrim Polri untuk menghadiri pemeriksaan atasnya. Kali ini Melvin terlihat tenang dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan penyidik.
"Berdasarkan laporan pengaduan Saudari Marsha tentang terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, benarkah itu terjadi?" tanya AKBP Handoko sebagai penyidik.
"Benar," jawab Melvin.
"Apa permasalahannya sehingga Saudara melakukan kekerasaan dalam rumah tangga kepada Saudari Marsha yang masih berstatus sebagai istri Anda?" tanya sang penyidik lagi.
"Dipicu oleh perselingkuhan istri saya," jawab Melvin.
Melvin menggunakan perselingkuhan Marsha sebagai pemicu dia melakukan KDRT kepada Marsha. Menggunakan sebuah alibi bahwa sebagai suami tentu saja perasaan Melvin terluka saat mengetahui perselingkuhan istrinya itu. Terlihat jelas bahwa Melvin juga ingin menyudutkan Marsha di sini.
Beberapa jam berlalu, puluhan pertanyaan pun ditanyakan penyidik kepada Melvin. Dari bukti, keterangan saksi, dan hasil penyelidikan. Melvin dinyatakan bersalah dan memang pelaku dari tindak KDRT itu. Namun secara tidak terduga, pihak Melvin bisa membalikkan keadaan.
"Mohon maaf, tetapi kami mengajukan penangguhan penahanan karena Saudara Melvin mengidap Bipolar Disorder. Gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, dan konsentrasi. Kami mengajukan penangguhan karena kondisi mental Saudara Melvin yang tidak stabil," ucap sang Pengacara.
Sebuah pengakuan yang mengejutkan penyidik tentunya. Tidak mengira aktor besar sekaliber Melvin Andrian bisa mengalami gangguan mental. Mendengar pengakuan dari Sang Pengacara, pihak kepolisian pun akan menimbang kembali penahanan Melvin Andrian karena mengingat kondisi mental sang aktor yang tidak stabil.
__ADS_1
Benarkah Melvin sungguh-sungguh mengidap Bipolar? Atau itu hanya sebatas alibi saja?