
Tidak terasa sudah lewat beberapa hari, bayi kecil yang begitu cantik dan memiliki bulu mata yang lentik itu ternyata sudah lepas pusar. Tentu Marsha merasa senang karena putri kecilnya sudah lepas tali pusarnya. Kini, Marsha bisa lebih leluasa untuk menyabun area perut bayinya. Hampir seminggu juga menjadi seorang Ibu, Marsha mulai bisa beradaptasi dan mengasuh si bayi kecil dengan bantuan Mama Diah tentunya.
"Ini tadi tali pusarnya sudah lepas, Ma," cerita Marsha siang itu kepada Mamanya.
"Lepas sendiri kan?" tanya Mama Diah.
"Iya Ma ... lepas sendiri kok. Waktu Marsha gantiin diapersnya, eh, ternyata kok nyangkut di perekatan diapersnya," balas Marsha.
"Ya sudah ... yang penting dijaga, terus jangan diberi alkohol ya Sha ... nanti bisa sembuh sendiri kok. Dilap saja pakai air hangat terus dikeringkan kalau ada luka," balas Mama Diah lagi.
"Iya Ma ... tadi begitu lepas kan ada sisa air dan sedikit hitam gitu di pusarnya, Marsha lap dengan air hangat dan keringkan kok. Sudah bagus pusarnya Ma," balas Marsha dengan senang.
Menjadi Ibu di rumah dan melihat tumbuh kembang bayinya membuat Marsha begitu bahagia. Saking bahagianya dan tidak ingin melewatkan momen tumbuh kembang Mira, Marsha sampai memotret bayinya beberapa belas kali dalam sehari. Sampai galeri penyimpanan foto di handphonenya kini dipenuhi dengan foto Mira.
"Cucunya Eyang sudah lepas tali pusar, nanti kalau sudah berusia 40 hari, ditindik telinganya ya Sayang ... Eyang sudah belikan anting kecil buat Mira," ucap Mama Diah.
Mendengar bahwa Mama Diah sudah membeli anting kecil untuk Mira, Marsha pun tersenyum, Sang Eyang juga begitu mencurahkan kasih sayangnya kepada Mira. Mungkin karena Mira cucu pertama, sehingga semua kasih sayang dicurahkan kepada Mira. Kasih sayang dari Nenek dan Kakek untuk cucu pertama memang rasanya meluap-luap. Kendati demikian, Marsha juga merasa senang, itu tanda sayang dari Mama Diah kepada Mira.
"Terima kasih banyak Eyang ... wah, nanti Mira pasti makin cantik nih memakai anting dari Eyang," balas Marsha.
Siang ini, ada kalanya di mana Marsha mengobrol dengan mertuanya, tetapi ada kalanya Marsha turut tertidur jika Mira tertidur. Mama Diah juga adalah tipe mertua yang baik. Sehingga jika Marsha tidur juga tidak apa-apa, karena Mama Diah sepenuhnya tahu menjadi Ibu baru itu banyak capeknya. Kendati demikian, Marsha juga tidak pernah mengeluh, hanya saja terkadang di siang hari Marsha memang tertidur.
Hingga tidak terasa, hari sudah hampir sore. Marsha pun segera mempersiapkan mandi sore untuk Mira, dan menyambut suami tercintanya yang akan segera pulang dari kantor. Sebisa mungkin Marsha memang selalu sudah mandi ketika suaminya itu pulang dari bekerja.
"Mandi yuk Sayang ... Papa sudah mau pulang, nanti digendong Papa yah," ucap Marsha dengan tersenyum lebar sembari melepas pakaian bayi yang dikenakan bayinya itu.
__ADS_1
Ibu muda itu terlihat begitu terlatih dan juga memandikan Mira dengan sabar. Memberikan shampoo di rambut Mira, memberikan sabun dan mengusapi tubuh Mira, kemudian membilasnya dengan air hangat. Setelahnya, Marsha mengeringkan tubuh Mira dan mengenakan pakaian untuk putrinya itu.
Setelah mengurus Mira selesai, Marsha menitipkan Mira kepada Mama Diah, dan Marsha mandi terlebih dahulu. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit, Marsha sudah keluar dari kamarnya dengan piyama rumahan. Wajahnya juga lebih segar, walau memang sehari-hari Marsha tidak menggunakan make up.
"Sha, minum jamu kunyit asam dulu, Sha ... tadi siang Mama buatkan buat kamu," ucap Mama Diah.
"Buatin sendiri Ma?" tanya Marsha.
"Iya ... diminum dulu yah ... itu ambil sedikit di dapur. Biar sehat organ kewanitaannya usai melahirkan," ucap Mama Diah lagi.
Marsha pun ke dapur terlebih dahulu dan mulai meminum jamu kunyit yang dibuatkan oleh Mama Diah. Meminumnya perlahan-lahan, dan memang Marsha yang suka jamu, sehingga meminum jamu kunyit pun rasanya enak baginya. Dulu, ketika masih di Semarang, Marsha selalu suka meminum jamu kunyit asem.
Baru selesai Marsha meminum jamu, rupanya suaminya sudah datang dari studio foto dan mengetuk pintu unit apartemennya.
"Selamat datang Papa," balas Marsha yang sudah tersenyum menyambut suaminya itu.
"Seharian rewel enggak Mira?" tanya Abraham.
"Enggak ... manis kok. Tadi Mira sudah lepas tali pusarnya itu Papa," ucap Marsha yang tak lupa memberitahu kepada Abraham bahwa Mira sudah lepas tali pusar.
"Wah, pinter ya Sayang ... ya sudah, Papa mandi dulu yah, abis ini digendong sama Papa," ucapnya dengan berlalu ke dalam kamar mandi.
***
Malam harinya ...
__ADS_1
Kurang lebih jam 20.00 malam, dan Mira sudah tertidur. Kemudian Abraham pun duduk bersama dengan istrinya di sudut sofa itu. Quality time bersama sebelum tidur.
"Gimana kerjaannya hari ini Mas?" tanya Marsha kemudian.
"Ya, biasa saja Shayang ... cuma ya disyukurin. Masuk cukup rame lah," balas Abraham.
"Shayang ... semisal kalau aku jual apartemen ini dan beli rumah saja untuk kita mau enggak?" tanya Abraham kepada Marsha.
"Kenapa Mas?" tanya Marsha kepada suaminya itu.
"Lebih untuk tumbuh kembang Mira sih ... rumah kecil dengan sedikit halaman bagus untuk Mira. Apalagi Mira juga akan terus bertumbuh, jadi butuh tempat untuk earthing time tuh, dia bisa merangkak, belajar berjalan dan dekat dengan alam. Gimana?"
Ini memang adalah pikiran yang saat ini terbersit di benak Abraham. Namun, Abraham juga tidak ingin mengambil keputusan seorang diri, tetapi mengajak Marsha untuk berdiskusi bersama. Sebab, memang mengambil keputusan terhadap hidup berumahtangga sebaiknya memang didiskusikan bersama.
"Ya sudah ... aku tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kok. Cuma menjual unit apartemen kan perlu waktu, terus gimana nanti?" tanya Marsha.
"Enggak apa-apa. Aku punya tabungan kok Shayang ... mungkin unit ini udah begitu nyaman untuk kita berdua, tetapi rasanya aku merasa kurang nyaman sekarang," balas Abraham.
Marsha pun beringsut dan menatap wajah suaminya itu. Menerka apakah yang membuat Abraham sekarang merasa kurang nyaman. Rasanya Marsha juga ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu sampai Abraham berniat untuk menjual unit apartemennya.
"Sebenarnya karena apa sih Mas? Kenapa sekarang merasa kurang nyaman?" tanya Marsha lagi yang seolah ingin mengulik perasaan apa yang sampai membuat suaminya itu merasa tidak nyaman.
"Ya ada saja, Shayang ... nanti aku kasih tahu. Jadi, semisal kalau kita jual ini dan pindah ke perumahan gitu, kamu tidak keberatan kan?" tanya Abraham lagi.
Dengan penuh keyakinan Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... aku tidak keberatan kok. Kemana pun dan di mana pun asalkan sama kamu, aku tidak masalah. Yang penting kita bertiga selalu bersama karena kita adalah keluarga. Mari hidup bersama dan terus menyayangi sampai akhir hayat nanti," balas Marsha.
__ADS_1