
Bulan madu bagi Abraham dan Marsha kali ini, hanya dihabiskan di dalam kamar hotel. Tak ada niat untuk menyusuri kota Semarang maupun daerah Ungaran. Terlebih di hari ini, kota Semarang diguyur hujan sepanjang hari, sehingga keduanya memilih menghabiskan waktu di dalam kamar saja.
“Cuacanya bikin mager ya Mas,” ucap Marsha yang masih berada dalam pelukan suaminya. Melihat channel televisi yang menampilkan acara memasak itu.
“Iya Shayang … pagi-pagi udah hujan saja. Cocok cuacanya buat pengantin baru,” sahut Abraham.
Marsha tersenyum, dan enggan menanggapi ucapan suaminya itu. Sebab, Marsha tahu kemana arah pembicaraan suaminya itu. Lebih baik diam, daripada suaminya akan meminta jatah di pagi hari.
“Kamu tidak ingin jalan-jalan ke mana gitu Shayang? Sebelum besok kita cek out,” tanya Abraham kali ini.
Sebab, sesungguhnya Abraham pun tidak keberatan jika Marsha mengajaknya jalan-jalan. Walau hari sedang hujan, jika Marsha yang meminta tetap saja Abraham akan mengantarkan Marsha ke mana saja wanita itu mau.
“Males Mas … mau di hotel saja. Lagian besok juga udah cek out. Ya sudah deh, hari ini buat istirahat saja,” balasnya sembari menarik selimut.
Sebenarnya keduanya sudah sarapan, dan kembali ke kamar. Agaknya cuaca yang mendukung sangat enak dimanfaatkan untuk tidur sembari melihat siaran televisi, dan juga ada tangan kokoh Abraham yang selalu memeluknya.
“Ya sudah … mau bobok?” tanya Abraham kepada Marsha.
“Bobok sebentar boleh?” tanya Marsha.
“Boleh … sini, aku peluk … Ya Tuhan, aku bahagia banget sini memeluk kamu seperti ini. Memeluknya sepanjang malam, sepanjang hari. Aku cinta banget sama kamu, Sha … Yang,” ucap Abraham sembari mendaratkan kecupan di kening istrinya.
Sementara Marsha begitu mengantuk, mungkin karena kegiatan pengantin baru yang sudah mereka lalui selama dua hari yang enak tetapi juga membuat tubuhnya kelelahan, dan juga kondisi berbadan dua, membuat Marsha begitu mengantuk. Di pelukan Abraham dengan menghirupi aroma Woody yang begitu maskulin dan juga segar itu, rasanya Marsha kian cepat untuk terbang ke dalam awan mimpi.
Abraham masih terjaga, pria itu memberikan usapan di puncak kepala Marsha, memberikan usapan di perut Marsha di mana di dalamnya ada buah hati mereka berdua, dan juga memberikan usapan di lengan Marsha. Beberapa kali juga Abraham mengecupi kening Marsha. Hatinya begitu hangat dengan memeluk dan bisa menyayangi Marsha seperti ini. Sampai akhirnya Abraham turut terlelap dan kian memeluk Marsha.
Menit demi menit berlalu, hingga tidak terasa sudah dua jam lamanya Marsha tertidur. Wanita itu terbangun karena merasakan perutnya yang kembali lapar. Perlahan, Marsha menyingkirkan belitan tangan Abraham di tubuhnya, berniat untuk turun dari ranjang dan membari camilan yang mungkin saja masih dia bawa. Siapa tahu ada roti atau biskuit yang bisa mengganjal perutnya. Akan tetapi, sebatas dipindahkan saja tangannya, Abraham sudah terbangun dan menahan Marsha untuk berbaring di sampingnya.
“Sudah bangun? Hmm,” tanya Abraham kepada istrinya itu.
__ADS_1
“Iya, sudah … aku tidurnya lama yah?” tanya Marsha.
“Tidak juga … kan istirahat. Aku juga tidur kok,” balas Abraham. “Kamu mau kemana?” tanya Abraham kemudian.
“Ini … perutku rasanya lapar lagi, mau lihat di meja masih ada camilan enggak yang bisa aku makan. Si baby lapar lagi,” jawab Marsha.
Abraham pun mengurai pelukannya, dan kemudian beranjak dari tempat tidur. Diikuti Marsha yang tampak mencari-cari mungkin saja ada sisa biskuit di kamarnya. Sayangnya, setelah mencari tidak ada camilan di dalam kamar itu.
“Tidak ada camilan Shayang … aku belikan dulu di bawah yah. Di samping hotel ada mini market. Mau?” tanya Abraham.
“Mau … aku laper,” keluh Marsha kali ini.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, pria itu masuk ke dalam kamar mandi mengganti celana pendeknya dengan celana panjang, tidak lupa mengenakan jaket karena di luar masih hujan.
“Mas, aku ikut yah,” pinta Marsha dengan tiba-tiba.
“Iya, ikut … gak mau jauh dari kamu,” aku Marsha kali ini.
Mendengar jawaban yang Marsha berikan Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Baiklah … pakai jaket yah. Di luar hujan, dingin … jangan sampai masuk angin,” balas Abraham.
Bahkan Abraham sendiri yang membantu Marsha mengenakan jaketnya. Setelahnya mereka berjalan bersama menyusuri koridor dan memasuki lift untuk turun ke lobby dan kemudian menuju mini market yang ada di samping hotel. Untuk berjaga-jaga, Abraham pun meminjam payung kepada pihak hotel untuk berjalan ke mini market itu.
Kini, keduanya berjalan sepayung berdua, hujan yang turun justru kian menambah kesan romantis dan juga ada tangan Abraham yang menggandeng tangan Marsha.
“So sweet gak sih Mas,” ucap Marsha dengan perlahan.
“So sweet Shayang … sama kamu, apa pun juga so sweet,” balas Abraham.
“Serius, hujan-hujan … satu payung gini,” balas Marsha lagi.
__ADS_1
Abraham menganggukkan kepalanya, “Benar Shayang … sweet banget. Lihat kamu tambah sweet,” sought Abraham.
Rona merah jambu terbit begitu saja di pipi Marsha, hingga wanita itu memilih menundukkan wajahnya. Sekadar mendapatkan kata-kata manis dari suaminya saja sudah membuat Marsha begitu bahagia.
“Sudah sampai … beli saja yang kamu mau. Buat camilan sampai besok waktunya cek out,” ucap Abraham.
Marsha pun segera membeli beberapa biskuit, susu untuk ibu hamil dalam kemasan UHT, cookies juga untuk ibu hamil, dan kali ini Marsha tergoda dengan mie instans yang kemasan cup yang bisa langsung di seduh itu. Menikmati mie instans di saat hujan kayak gini kelihatannya enak.
“Mas, beli ini satu boleh?” tanya Marsha yang bertanya bolehkan membeli mie instans itu. Marsha bertanya dulu pada Abraham karena Ibu hamil tidak diperbolehkan terlalu banyak mengonsumsi mie instans.
“Kamu baru hamil, Shayangku … yang mie instans sehat warna hijau ini saja,” ucap Abraham sembari menunjuk ke mie instans sehat yang dibuat dari sayuran dan berwarna hijau itu.
“Ya sudah, enggak saja deh … pengennya yang ini sebenarnya. Gak jadi aja,” balas Marsha.
Memahami bahwa istrinya merajuk alias ngambek, Abraham pun tersenyum. “Ya sudah boleh, tapi untuk sebulan ini gak boleh makan mie instans lagi loh yah. Kasihan Dedek Bayi,” ucap Abraham.
“Iya-iya … satu saja kok. Aku pengen banget hujan-hujan makan mie instans,” balasnya.
“Enggak gratis ya Shayang … nanti malam lagi,” bisik Abraham dengan tiba-tiba.
Wajah Marsha yang semula tersenyum, perlahan senyuman itu sirna. “Tuh gak ikhlas, gak mau,” balas Marsha.
“Bercanda Shayang … sudah mana ambil satu. Ingat loh yah, cuma satu aja. Dalam sebulan gak boleh makan mie instans lagi,” balas Abraham.
Usai membeli camilan dan air mineral, keduanya kembali ke kamar hotel. Terasa dingin dengan hujan yang turun dan suhu udara yang lebih dingin.
“Dingin Mas … peluk lagi dong,” pinta Marsha yang sudah memeluk Abraham dari belakang. Tentu tindakan Marsha itu membuat Abraham pun tersenyum,
“Sini … aku peluk. Bumilku yang manja … Love U,” ucap Abraham dengan membalik posisinya berhadapan dengan Marsha dan kini memeluk Marsha dengan begitu eratnya.
__ADS_1