Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Anak yang Kembali Terluka


__ADS_3

Tidak ada seorang anak yang berharap memiliki keluarga yang tidak utuh. Semua anak mendambakan memiliki keluarga yang utuh. Marsha, yang sudah dewasa pun juga menginginkan keluarga yang utuh. Sayangnya, keluarganya terlanjur retak. Perceraian Mama dan Papanya, dan juga dia sebagai anak tunggal yang harus merasakan dampak terberat dari perceraian kedua orang tuanya.


Sekarang, nyatanya sebagai seorang anak, Marsha harus kembali terluka usai melihat apa yang sudah dilakukan Mamanya di depan mata. Begitu masuk ke dalam mobil, tangisan Marsha benar-benar pecah. Abraham sampai menghela nafas. sesekali tangannya mengemudikan mobil sambil mengusapi kepala Marsha, kadang pula dia menggenggam tangan Marsha di sana. Namun, Abraham memilih diam, memberi waktu bagi Marsha menangis. Tidak selamanya menangis itu berakibat buruk, tetapi menangis pun bisa melegakan perasaan seseorang.Dalam kondisi seperti ini tidak mungkin membawa Marsha pulang ke rumah. Oleh karena itu, Abraham melajukan mobilnya ke arah Tanjung Mas, sebuah pelabuhan di kota Semarang. Ada sebuah tempat di mana mobil bisa parkir dan menatap pelabuhan yang terhubung langsung dengan Laut Jawa itu.


Di sana, barulah Abraham berusaha untuk bisa menenangkan Marsha.


"Kenapa Shayang?" tanyanya perlahan.


"Mama, Mas ...."


Abraham menganggukkan kepalanya, tentu dia tahu dengan Mama Ria. Sebab, tadi mereka memang ke sana, tetapi apa yang sebenarnya dilihat oleh Marsha sampai Marsha menangis histeris seperti ini.


"Mama ... ber ... se ... tu ... buh, dengan seorang pria tadi. Pria muda seusia kamu mungkin," jawab Marsha dengan sesegukan di sana.


Astaga, Abraham benar-benar tidak mengira. Pantas saja Marsha menangis sampai begitu histeris dan terluka. Walau Marsha sudah dewasa, tetap saja melihat yang sedemikian tidak pantas membuatnya terluka, perasaannya sebagai seorang anak begitu terpukul.


Tidak banyak bicara, Abraham segera memeluk Marsha di sana. Abraham tahu, alih-alih kata-kata yang menenangkan, sebuah pelukan yang hangat jauh lebih berarti. Di dalam pelukan Abraham, air mata Marsha mengalir dengan begitu derasnya. Sangat deras, dia sesegukan dengan isakan yang pilu di dalam pelukan suaminya. Sangat hancur perasaannya sebagai seorang anak terluka.


"Aku malu Mas," ucap Marsha.

__ADS_1


"Aku tahu Shayang ... aku tahu," balas Abraham.


"Kenapa Mama bisa seperti itu, tindakan yang memalukan. Lalu, pria itu tadi siapanya? Pacar, atau penghangat ranjangnya Mama saja," ucap Marsha dengan sesegukan dan bibirnya bergetar.


Tangan Abraham mengusapi puncak kepala Marsha, memberikan elusan yang begitu lembut di kepala istrinya itu. Memberikan waktu sejenak untuk Marsha menangis. Beberapa menit berlalu dan kemudian Abraham kembali berbicara.


"Kalau sudah, nangis jangan terlalu lama ... kasihan adik bayi. Nanti kalau kamu menangis histeris, bisa kram perut lagi," ucap Abraham yang memperingatkan Marsha.


Setidaknya Abraham mengingat bahwa kali terakhir Marsha menangis histeris dan begitu lama berakhir dengan kram di perutnya. Kali ini Abraham tidak ingin itu terjadi lagi. Belajar dari pengalaman, Abraham meminta Marsha untuk bisa menenangkan dirinya.


"Keluar yuk ... cari angin. Itu ada bangku di situ," ajak Abraham kepada istrinya.


Menurut. Marsha pun mengikuti suaminya untuk keluar dari mobil dan duduk di bangku yang menghadap langsung di Tanjung Mas dengan kapal-kapal besar di sana. Kemudian Marsha menyandarkan kepalanya di bahu Abraham, satu tangannya mengapit lengan suaminya itu. Air matanya masih berlinangan, dan Abraham beberapa kali menundukkan wajahnya dan mengecup kening Marsha di sana.


"Sewaktu aku kecil, aku merasa sangat bahagia dengan memili Mama dan Papa. Keluarga yang bahagia. Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, ketika aku mulai remaja, Papa dan Mama beberapa adu mulut, cekcok dan membuatnya seperti anak yang kehilangan figur Mama dan Papa, puncaknya dengan perceraian keduanya saat aku kuliah. Itu kesakitan terbesar di hidupku. Pikirku, sampai aku dewasa dan berumahtangga, Mama dan Papa akan selalu bersama. Ternyata tidak. Keduanya memilih bercerai. Sekarang, Mamaku justru melakukan tindakan seperti itu. Sejak kapan Mama begitu? Aku melihat tubuhnya tanpa sehelai benang dan ditindih pria muda seumuran kamu. Ya Tuhan, jika tahu begini, aku lebih baik tidak ke rumah Mama tadi," cerita Marsha.


"Sayangnya, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi Shayang ... jika bisa lupakanlah. Aku akan ada untuk kamu," balas Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Mas ... tidak apa-apa. Aku harus lebih dewasa dan menyingkapi semua ini. Cuma kecewa dan terluka saja. Seburuk-buruknya orang tua, itu anak akan membelanya. Namun, jika semuanya terlihat di depan mata, rasanya aku sangat terpukul," balasnya.

__ADS_1


Kini tangan Abraham bergerak dan mengelusi perut Marsha yang sudah terlihat sedikit menyembul itu. "Sekarang fokus ke debay saja Shayang ... kasihan dia, kalau Mamanya sedih, babynya bisa sedih. Kapan kembali ke Jakarta? Kita bangun lagi rumah tangga kita. Lupakan semua yang sudah terjadi di sini," ajak Abraham kepada istrinya.


"Akhir pekan saja ya Mas," balas Marsha.


"Oke ... aku cari tiket untuk hari Sabtu nanti yah. Sudah waktunya untuk periksa kandungan kamu lagi. Sudah 16-17 minggu, jadi nanti bisa tahu jenis kelamin baby nya," balas Abraham yang berusaha mengalihkan kesedihan di hati Marsha dengan menceritakan mengenai babynya.


"Mas, boleh cerita sebentar?"


Abraham menganggukkan kepalanya, "Tentu boleh."


"Aku tadi rasanya kayak de javu. Dulu, di apartemen kamu, aku memergoki Melvin bercinta dengan Lista. Kejadiannya sama, dan sekarang aku memergoki Mamaku sendiri. Ya Tuhan, pedih banget. Semoga kamu tidak yah Mas ... kalau sampai terulang untuk ketiga kali dan itu kamu, aku tidak bisa, Mas," ucap Marsha yang kembali berlinangan air mata.


Abraham menggelengkan kepalanya, "Ssttss, tidak akan Shayang ... semua yang aku punya hanya milik kamu. Tidak akan aku melakukannya. Kamu yang paling aku cintai dan inginkan," balas Abraham.


"Kejadian yang sama berulang, pelakunya yang berbeda. Jika sampai itu kamu, aku gak bisa, Mas ... aku tidak sepemaaf itu untuk bisa memaafkan kamu. Lebih baik kita usai sampai di sini," balas Marsha.


"Janji Shayang ... selamanya aku akan setia," balas Abraham dengan sungguh-sungguh.


"Janji yah?"

__ADS_1


"Janji!"


Abraham membalas dengan menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Marsha. Sungguh, bagi Marsha ini seperti De Javu yang amat sangat mengerikan. De Javu yang membuat hancur, dan sekarang kian hancur karena yang melakukannya adalah mamanya sendiri.


__ADS_2