Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Semua yang Tuhan Takdirkan


__ADS_3

Usai beberapa sambutan dari tokoh masyarakat hingga insan perfilman yang mengenal baik Almarhum Papa Wisesa, semuanya mengatakan bahwa Papa Wisesa adalah orang yang baik. Tanpa banyak orang tahu, Papa Wisesa merintis sebuah rumah produksi yang memproduksi beberapa film televisi dan berbagai mini series. Sehingga banyak kolega datang di hari berduka itu dari kalangan pesinetron hingga sutradar turut hadir.


Semua orang memberikan kesan bahwa Papa Wisesa adalah sosok yang baik dan bekerja keras. Namun, kenapa kesan seperti itu tidak didapatkan oleh Abraham. Memang Abraham turut berduka, tetapi kesan yang ditinggalkan sang Papa tetap saja hanya kesan bahwa beliau adalah seorang Papa yang tega meninggalkan istri dan anaknya.


Kini, jenazah Papa Wisesa siap untuk diangkatkan dan dimasukkan ke dalam mobil ambulance menuju pusara untuk peristirahatan terakhirnya. Tampak Abraham yang turut berdiri dan turut memanggul keranda jenazah. Bahkan pria itu turut masuk ke dalam mobil ambulance. Marsha dan Mama Diah memilih mengikuti dengan mobilnya sendiri menuju ke pemakaman.


Di Memorial Park, jenazah Papa Wisesa akan dikebumikan. Setibanya di sana, dimulai dengan doa dan pembaca ayat-ayat suci terlebih, kemudian pemuka agama akan memulai proses pemakaman. Kali ini, Abraham dan Melvin sama-sama turun ke liang lahat untuk membaringkan sang Papa ke peristirahatan terakhirnya.


"Selamat jalan," gumam Abraham dalam hati.


Begitu jenazah dibaringkan, Abraham dan Melvin kemudian naik lagi ke atas dan tanah perlahan-lahan mulai dimasukkan dan mengubur jenazah Papa Wisesa di dalamnya. Rasanya begitu rasa, rasa kehilangan tetap saja menggelayut di dalam hati sekalipun itu tidak terucapkan.


Sampai di titik, ketika gundukan pusara itu siap untuk ditaburi bunga. Abraham sedikit berjongkok di sana, dengan Marsha dan Mama Diah yang mendampinginya. Memang Abraham menjadi lebih banyak diam, tetapi sebagai istri Marsha sangat tahu bahwa suaminya itu kembali terpuruk.


Di satu sisi tangisan yang berubah menjadi raungan dilakukan oleh Mama Saraswati kehilangan suaminya dalam waktu yang relatif singkat, hingga duka yang dia rasakan benar-benar tak tertahan. Melvin pun turut merangkul sang Mama, memberikan kekuatan kepada Mamanya.


"Papa sudah tenang Ma," ucapnya.


Di satu sisi, Marsha memberikan usapan di bahu dan lengan suaminya itu, di depan pusara Papa Wisesa, Marsha juga turut menguatkan suaminya.


"Papa sudah bersama Allah di sana. Sudah tidak merasakan sakit," ucap Marsha perlahan.


Abraham menghela nafas dan kemudian menganggukkan kepalanya. Di saat Papanya meminta maaf, justru Papanya itu kembali pergi untuk kali kedua. Bahkan kali ini kepergian untuk selamanya karena Abraham tak akan melihat lagi Papanya. Pertemuan tak disengaja yang kurang dari 24 jam nyatanya justru mengantarkannya pada saat-saat terakhir hingga peraduan di dalam pusara untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Beberapa pelayat yang hadir pun mulai meninggalkan Memorial Park. Sementara keluarga masih berada di sana, dan menatap pilu dengan air mata yang masih menetes di depan nisan yang bertuliskan nama "Narawangsa Wisesa Andrian" itu.


"Kita pulang Bram?" ajak Mama Diah kepada putranya itu.


"Sebentar Ma," balas Abraham.


Pria itu masih berjongkok, tangannya bergerak dan mengusap nisan yang sudah tertanam di sana. Abraham memejamkan matanya sesaat disertai dengan helaan nafas yang rasanya begitu berat, hingga akhirnya Abraham menatap kepada Marsha yang turut berjongkok di sisinya.


"Kuat ya Mas," ucap Marsha dengan lirih.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Hmm, iya," balasnya.


Ketiganya kemudian bangkit dan menaburkan bunga yang menjadi tanda bahwa ketiganya akan pamit dari depan pusara itu. Marsha terus menggandeng suaminya itu dan tentu Marsha akan menguatkan suaminya. Tidak akan membiarkan pria hebatnya jatuh, rapuh, dan tenggelam dalam kesedihan yang belum sempat dibagi dengannya.


Abraham menganggukkan kepalanya. Abraham pun menyadari pikirannya masih begitu kalut. Sukar baginya untuk berkonsentrasi untuk mengemudikan mobil. Untuk itu, Abraham membiarkan istrinya yang membawa mobil.


"Hati-hati Shayang," ucap Abraham yang memberi pesan kepada istrinya itu untuk hati-hati mengemudikan mobilnya.


"Iya Mas," balas Marsha.


Sepanjang perjalanan Marsha mengemudikan mobil itu, baik Abraham dan Mama Diah sama-sama diam. Semuanya begitu irit berbicara. Mungkin Marsha pun menyadari bahwa memang sedang masa berduka secara tiba-tiba. Masih memerlukan waktu untuk mengurai semuanya.


Begitu sampai di dalam rumah, Marsha meminta izin kepada Abraham untuk membersihkan diri terlebih dahulu karena Marsha harus menjemput Mira yang sekarang sedang dititipkan di rumah keluarga Agastya. Tidak membutuhkan waktu lama, Marsha hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk mandi dan membersihkan dirinya.

__ADS_1


"Mas, aku ke rumahnya Bu Sara dulu untuk mengambil Mira," pamitnya.


"Iya, mau aku antar?" balas Abraham.


"Tidak usah ... aku jalan kaki saja," balasnya.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, aku bersih-bersih dulu yah ... hati-hati," balasnya.


Marsha dengan berjalan kaki sore itu segera menuju ke rumah keluarga Agastya yang hanya berbeda cluster darinya. Kurang lebih lima menit saja berjalan kaki, kini Marsha kini di cluster super mewah yang di mana ada kediaman Agastya di sana.


"Permisi," ucap Marsha dengan mengetuk pintu rumah besar itu.


"Sudah pulang Sha?" tanya Bu Sara yang membukakan pintu dengan menggendong Mira itu.


"Iya Bu ... maaf ya Bu lama. Soalnya ke pemakaman membawa bayi juga tidak elok Bu. Maaf merepotkan ya Bu Sara," balas Marsha.


"Tidak repot sama sekali kok. Sering-sering saja dititipkan di sini, Elkan justru senang kok. Ada adik bayi katanya," balas Bu Sara.


Bu Sara lantas tersenyum dan memberikan usapan di lengan Marsha yang berdiri di hadapannya, "Yang kuat ya Marsha ... semua yang terjadi tentu sudah digariskan oleh Tuhan. Kuatkan suamimu juga. Pria itu biasanya tidak mudah untuk langsung berbicara. Mereka perlu waktu, nanti kalau sudah tenang ajak ngobrol dan kuatkan mereka," balas Bu Sara.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Terima kasih banyak Bu Sara. Ya, saya juga sedih, tapi saya yakin Mas Abraham lebih terpukul sekarang," balasnya.


"Benar Sha ... yang kuat yah. Tuhan menggariskan semua ini supaya kalian lebih kuat dan melihat kebesaran-Nya semata," balas Bu Sara.

__ADS_1


Marsha menganggukkan kepalanya lagi. Sepenuhnya dia yakin dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Bu Sara bahwa mereka akan lebih melihat kebesaran Tuhan yang sedang ditunjukkan kepada umat-Nya. Senantiasa ada pelangi di balik hujan, itulah yang dinantikan Marsha untuk suaminya dan Mama Diah tentunya.


__ADS_2