
“Bram, kenapa kamu tidak menjawab semua pertanyaan Mama? Katakan Bram, ada apa?” tanya Mama Diah yang merasa meminta penjelasan dari Abraham.
Sebagai seorang Ibu, Mama Diah pun begitu ragu mengapa putranya tampak kacau dan juga tidak menjawab pertanyaannya sama sekali. Padahal semalam saat mereka berpisah, Abraham masih baik dan bahkan mengantarkan Mama Diah ke tempat Tantenya juga masih sangat baik. Hanya dalam kurun waktu semalam, Abraham sudah begitu berubah.
“Ma, apa yang Mama lakukan kepada Marsha?” tanya Abraham kini.
Terlihat Mama Diah justru membawa kedua tangannya ke depan dada, dan menatap tajam pada putranya itu. “Oh, jadi Marsha sudah cerita padamu?” tanya Mama Diah.
Ada gelengan dari kepala Abraham, “Tidak. Marsha sama sekali tidak bercerita kepadaku,” balas Abraham.
“Tidak mungkin. Pasti wanita itu bercerita padamu, hingga kamu marah sama Mama,” balas Mama Diah.
Kemudian Mama Diah menghela nafas dan kembali berbicara kepada Abraham. “Bram, tinggalkan Marsha. Dia tidak kayak untukmu. Terlebih sekarang dia seorang janda. Apa yang kamu kejar dari seorang Marsha?”
“Bram hanya mencintai Marsha, Ma … Bram tidak bisa mencintai wanita lain selain Marsha. Kenapa sih Ma, kenapa Mama tidak bisa menerima Marsha? Lihatlah Marsha dengan hati Mama, dia wanita yang baik. Mama perlu tahu bahwa sekeras apa pun Mama menahanku, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan Marsha. Bram akan membuat Mama merestui hubungan kami berdua,” ucap Abraham.
“Tidak alasan yang kuat bagi Mama untuk menerimanya,” ucap Mama Diah dan memalingkan wajahnya dari Abraham.
__ADS_1
“Kami sudah tidur bersama, Ma! Mungkin sekarang Marsha sudah mengandung anak Bram!” Teriak Abraham kali ini.
Satu kesalahan besar yang dia simpan akhirnya sekarang dengan amarah yang meletup-letup, dia ucapkan juga kepada Mamanya.
Mendengar pengakuan Abraham, Mama Diah mengangkat tangannya dan menampar pipi Abraham. Telapak tangan yang mengenai sisi wajah Abraham itu membuat Abraham sampai memiringkan wajahnya dan terasa panas saat telapak tangan itu mengenai sisi wajahnya.
“Cukup kamu, Bram! Sejak kapan kamu berubah menjadi pria kurang ajar seperti ini. Mama membesarkanmu seorang diri dan mengajarkan nilai-nilai yang baik kepadamu. Namun, sekarang dengan beraninya dan tidak ada rasa malu kamu mengatakan bahwa kamu sudah tidur dengan Marsha. Inikah buah dari didikan Mama?”
Mama Diah nyatakan justru marah dan rasa kecewa juga saat Abraham mengatakan bahwa dirinya sudah tidur bersama dengan Marsha. Mama Diah merasa selama ini sudah mendidik putranya itu dengan baik, tetapi Abraham justru melakukan hal yang sebaliknya.
“Tidak ada kaitannya, Ma … yang perlu Mama tahu, Abraham akan mencari Marsha. Kali ini Abraham akan buktikan kepada Mama bahwa cinta Abraham akan menang. Tidak peduli sampai sebatas mana Mama menghalangi kami, tetapi Abraham akan berjuang,” ucap Abraham.
Aku akan mencarimu, Marsha …
Aku akan menemukanmu …
Tidak peduli sejauh apa kamu pergi, yang pasti aku akan selalu menemukanmu …
__ADS_1
Aku akan bukti bahwa aku adalah pria yang tepat untukmu …
Aku akan mendampingimu dan memberi kebahagiaan untukmu …
Tidak ada waktu untuk menyerah dalam cinta …
Secepatnya, aku akan menemukanmu, Marsha!
***
Sementara itu, di kereta api kelas eksekutif itu Marsha melihat pemandangan pematang sawah yang dia lihat dari kaca jendela dari gerbong kereta api itu. Pandangan Marsha masih kosong, tetapi setidaknya kali ini Marsha sudah tidak menangis.
Pergi sendirian, dan juga Marsha mematikan handphonenya. Sebab, Marsha tahu bahwa Abraham pasti akan mencarinya di Jakarta sana. Marsha berpikir kali ini dia harus mengalah lagi. Tidak akan mengambil seorang anak dari Ibunya. Marsha memilih pergi. Sebab, ketika cinta tidak mendapatkan restu, maka tidak akan ada kebahagiaan di masa depan. Restu orang tua itu sangat penting dalam kebahagiaan membina rumah tangga.
Restu bukan sekadar orang tua memberi izin atas sebuah hubungan dengan pasangan. Makna restu orang tua lebih dari itu, karena di dalam restu ada doa orang tua untuk kebaikan hubungan agar rumah tangga dipenuhi keberkahan, dan setiap masalah dapat diselesaikan dengan baik. Memilih pasangan memang hak anak, karena kitalah yang menjalani rumah tangga itu. Namun, orang tua terkadang memiliki standar sendiri untuk calon menantunya. Bagi Marsha, agaknya Marsha bukan wanita yang masuk dalam standar menantu untuk Mama Diah.
Bukannya aku tidak yakin dengan cintamu, Bram … tetapi, aku ingin kamu menjadi anak yang berbakti. Di dunia ini, orang tuanya hanya Mamamu saja. Berbaktilah padanya. Lakukanlah apa yang baik menurut pandangan Mamamu. Aku akan mengalah, Bram … aku akan selalu mengalah asal kamu bisa terus menjadi seorang anak yang berbakti dan selalu membanggakan Mamamu.
__ADS_1
Sekali lagi, maafkan aku, Bram … aku pergi karena aku mulai mencintaimu lagi. Aku pergi karena aku yang tidak percaya diri untuk berjuang bersamamu. Maafkan aku ….
Tidak terasa, kereta api yang Marsha naiki sekarang telah tiba di Semarang. Marsha melakukan antri untuk keluar dari kereta. Selanjutnya Marsha akan tinggal sementara di kawasan Ungaran, tempat di mana rumah neneknya berada. Daerah pegunungan yang dingin dan sejuk menjadi tempat yang dipilih Marsha untuk memenangkan dirinya dan menjauh sesaat dari berbagai masalah pelik dalam hidupnya.