
"Sabar ya Papa Bram harus berteman dengan kehamilan simpatik," ucap Marsha yang kini sudah keluar dari ruang konsultasi dan menuju ke apotek untuk mengambil obat.
Abraham pun tertawa, "Katanya, ikatan hatiku dan si baby kuat Shayang ... lucu yah. Adik bayi ini aneh-aneh saja, cuma unik juga kok aku yang mual dan muntah. Padahal dulu Mira, aku sehat-sehat saja," balas Abraham.
"Itu karena aku yang awal hamil mual dan muntah," balas Marsha.
Lagi-lagi Abraham tertawa, "Ya sudah, ganti-gantian. Dulu kan kamu yang mual dan muntah, sekarang aku yang mengalaminya. Jadi adil," balas Abraham lagi.
"Cuman ini dapat obat pereda mual rasanya lebih bagus dan aman Mas ... karena sesuai dengan resep Dokter, bukan asal minum obat maag," balas Marsha.
"Serius, aku kira asam lambungku naik kok Shayang ... jadi memang minumnya ibat maag," balas Abraham.
"Kalau aneh-aneh kan bisa buat kita salah obat, Mas ... bisa jadi lebih berbahaya," balas Marsha.
Alih-alih memberikan obat sembarangan kepada suaminya, memang lebih baik Marsha hanya memberikan minyak kayu putih saja kepada suaminya itu. Yang pasti tidak ada efek sampingnya.
"Yang penting kamu sehat, Shayang ... aku yang mual dan muntah tidak apa-apa. Kan dulu kamu sudah mengalami semua itu, dan gantian aku," balas Abraham.
Sembari menunggu obat, justru keduanya sama-sama tertawa. Memang tidak mengira bahwa Abraham yang biasanya sehat dan bugar, kini setiap paginya selalu teler. Serta Dokter Indri mengatakan bahwa kemungkinan kehamilan simpatik bisa berlangsung menjelang trimester kedua.
"Tidak apa-apa Shayang ... aku akan berdamai dengan semuanya yang penting kamu sehat selalu," balas Abraham.
__ADS_1
Cukup lama mereka mengantri di apotek dan juga membayar biaya pemeriksaan. Hingga akhirnya, mereka bisa keluar dari Rumah Sakit dan menuju ke tempat parkiran mobil. Sekarang, keduanya sudah merasa lega. Janin dalam rahimnya dalam keadaan sehat. Walau baru 6 minggu, tetapi Marsha dan Abraham akan sama-sama menjaganya.
"Mau mampir ke satu tempat?" tanya Abraham kepada istrinya itu.
"Beli Martabak ya Mas ... mendadak aku pengen Martabak manis," balas Marsha.
Menuruti permintaan istri tercinta, Abraham pun menghentikan mobilnya di salah satu kedai penjual martabak yang terkenal di Ibukota. Jika hanya sekadar membeli martabak saja tidak berat untuk Abraham. Akan tetapi, ketika Abraham keluar dari mobil, mencium adonana martabak yang sebenarnya manis dan juga harum, justru membuat pria itu merasa begitu mual.
Abraham sampai menahan nafas dan menutupi hidungnya dengan telapak tangannya. Tidak kuat dengan aroma di sana, Abraham segera masuk ke dalam mobil saja. Wajahnya memerah, dan matanya berkaca-kaca, menahan mual yang sangat menyiksanya.
"Yang, maaf ... baunya aneh deh ... aku enggak tahan," balas Abraham.
"Ya, sudah pulang aja deh," balas Marsha.
Sebenarnya memang Marsha merasa kesal, dia baru kepengen Martabak. Akan tetapi, suaminya justru merasa mual dengan adonan martabak yang begitu harum itu. Namun, melihat suaminya yang teler, Marsha juga tidak tega rasanya.
"Marah?" Abraham bertanya dengan singkat.
Akan tetapi, Marsha menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak ... aku enggak marah kok. Kecewa sih iya. Sudah di depan mata, enggak jadi beli," balasnya.
Sepenuhnya Abraham pun tahu bagaimana perasaan Marsha sekarang, tetapi jika dipaksakan sudah pasti mual yang dialami Abraham akan kian parah. Bumil ketika ngidam kadang juga berabe jika tidak dikabulkan. Namun, bagaimana lagi jika yang terkena kehamilan simpatik adalah dia sendiri.
__ADS_1
"Maaf yah," ucap Abraham yang merasa bersalah kepada Marsha.
"Tidak apa-apa kok Mas ... sudah, pulang saja," balas Marsha.
Memang benar Marsha tidak marah, tetapi jujur saja Marsha merasa kecewa karena begitu ingin Martabak Manis dan sudah berhenti di depannya, tetapi tidak jadi beli karena suaminya yang merasa mual.
Dengan berat hati, Abraham kembali melajukan mobilnya dan melirik ke istrinya yang terlihat muram. Merasa bersalah juga rasanya. Namun, bagaimana lagi.
"Aku pesenin pakai aplikasi hijau yah?" balas Abraham kepada istrinya.
"Enggak ... gak usah. Besok siang saja kalau kamu udah kerja, aku beli sendiri," balas Marsha.
Dari jawaban yang diberikan Marsha saja begitu terdengar bahwa istrinya itu sedang kecewa. Memang biasanya Marsha tidak seperti ini, mungkin efek hamil yang membuat Marsha menjadi mood swing. Jika, yang mengalami kehamilan simpatik adalah Abraham, sementara mood swing-nya tetap dialami Marsha.
"Tuh ngambek," balas Abraham lagi.
"Enggak ... cuma kecewa aja. Padahal baru pengen banget. Tadi nawarin sendiri, setelah di sana gak jadi," balas Marsha lagi.
"Puter balik aja gimana?" tanya Abraham kemudian.
"Ya sudah, puter balik. Aku yang turun sendiri saja," balas Marsha.
__ADS_1
Kali ini niatnya sudah bulat. Inginnya bisa mencicipi Martabak manis yang legendaris itu. Sudah begitu kepengen, jadi lebih baik putar balik dan Marsha akan beli sendiri. Akhirnya, Abraham benar-benar putar balik dan menunggu di dalam mobil. Sementara Marsha dengan santainya keluar sendiri dari dalam mobil.
Wanita hamil itu memesan martabak manis dengan varian yang klasik yaitu coklat dan keju. Menunggu kurang lebih 15 menit, dan Martabak yang dibeli Marsha sudah siap. Tidak langsung pulang, nyatanya Marsha justru duduk di sana terlebih dahulu dan memakan tiga potong Martabak Manis yang masih panas itu. Rasanya luar biasa, seolah memang itu yang dia mau. Biarkan suaminya berada di dalam mobil terlebih dahulu, asalkan Marsha bisa makanan yang sudah dia ingin-inginkan itu.