
Akhir pekan telah tiba! Di akhir pekan ini, Abraham mengkhususkan sepanjang hari untuk bisa bounding dengan Mira. Walau babynya masih begitu kecil, menginjak usia 3 bulan. Akan tetapi, Abraham berjanji bahwa usai semua masalah yang menimpanya Abraham memilih untuk fokus kepada Mira. Benar yang Marsha sampaikan bahwa Mira juga kangen Papanya. Jika Abraham hanya terus-menerus bersedih, semua waktu, tenaga, dan pikirannya hanya habis untuk bersedih. Namun, jika Abraham mengalihkan kesedihan itu menjadi hal-hal yang positif, itu juga akan berdampak baik bagi Mira.
Pagi ini Abraham bangun dengan berjalan ke box bayi Mira. Pria itu sedikit menunduk dan mengusapi pipi chubby Mira, terlihat bayinya begitu menggemaskan begitu tertidur.
"Hei, Cantiknya Papa ... kamu mau bangun jam berapa Sayang? Hari ini main-main yah sama Papa. Maaf ya, beberapa hari ini Papa banyak sedihnya sampai jarang menggendong kamu. Hari ini khusus hari buat Mira yah," ucap Abraham dengan lirih.
Papa muda itu segera membersihkan dirinya terlebih dahulu. Pikirnya nanti jika Mira sudah bangun, Abraham tidak perlu mandi lagi dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Mira. Selang beberapa menit berlalu, rupanya si Kecil Mira telah terbangun. Bayi kecil itu menggeliat dan menguap, ekspresinya begitu lucu sampai Abraham mengabadikan ekspresi lucu Mira dengan jepretan kameranya.
"Anaknya Papa sudah bangun ... sini gendong Papa dulu yah. Mama baru di dapur sama Eyang. Mira sama Papa dulu," ucapnya dengan berusaha mengangkat tubuh Mira dari box bayi dan menggendongnya.
Abraham tersenyum menatap wajah mungil bayi kecilnya. Ketika laruh dalam kesedihan yang menggelayut di hati, Abraham benar-benar tersadar kala Marsha mengatakan bahwa Mira kangen dengan Papanya. Abraham menyadari betapa bersalahnya dia karena merasa sedih, merasa terluka, sampai abai dengan Mira.
"Maafkan Papa untuk satu minggu ini yah Sayang ... Papa banyak pikiran, Papa benar-benar pusing dan bingung. Hari ini khusus buat Papa dan Mira. Kamu hadir di hidup Papa dan membawa begitu banyak cerita, untuk itu Papa juga ingin melukiskan banyak cerita di dalam hidup kamu. Papa ingin menjadi Best Daddy buat putri kecilnya Papa," ucap Abraham lagi.
Dengan sangat yakin Abraham mengatakan bahwa dia ingin menjadi Best Daddy untuk Mira. Terlihat Abraham yang menggendong Mira, dan bayi kecilnya itu mulai berceloteh dengan bahasa khas bayinya. Saking serunya dengan Mira, Abraham tidak menyadari Marsha yang sudah kembali masuk ke dalam kamar.
"Sudah bangun?" sapa Marsha kepada Baby Mira. Tentu saja Mira belum bisa berbicara, tetapi Marsha memang selalu berinteraksi dengan Mira, mengajak bayinya berbicara dan bercerita apa pun.
"Sudah Mama ... mau mandi nih Mama, Mira sudah bau susu," balas Abraham dengan mencium pipi Mira.
Marsha kemudian menyiapkan peralatan mandi untuk Mira, tetapi saat dia ke kamar mandi, Marsha tersenyum melihat ember mandi Mira yang sudah terisi air hangat, sabun, shampoo, bahkan washlap sudah tersedia di sana. Marsha sangat yakin bahwa itu semua adalah Abraham yang menyiapkannya.
"Papa yang nyiapin yah?" tanya Marsha.
"Iya Shayang ... sekalian. Aku sudah menebak tadi bahwa Mira pasti akan terbangun. Jadi, aku siapin sekalian," balas Abraham.
__ADS_1
"Makasih banyak Papa ... yuk, Mira ... mandi sama Mama yuk," balas Marsha.
"Biar aku lepasin bajunya Mira, Shayang," sahut Abraham kini.
Papa Abraham pun segera menidurkan Mira di atas tempat tidur dan dengan hati-hati melepaskan pakaian bayi yang dikenakan oleh Mira. Kemudian dia melepaskan diapers yang dikenakan Mira. Akan tetapi, kala dia melepaskan diapers itu, rupanya Mira justru buang urine yang mengenai tangan Abraham.
Bukan marah, Abraham justru tertawa karenanya.
"Ishs, putrinya Papa ini ... malahan pipisin Papa loh," ucapnya dengan membersihkan sisa-sisa urine yang mengenai perlak itu.
"Kenapa Mas?" tanya Marsha yang keluar dari kamar mandi lagi karena merasa suaminya itu lama.
"Kena urine-nya Mira nih Mama. Anak Papa ini bener-bener," balas Abraham dengan tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Yuk, sini mandi sama Mama yah ... Papa minta tolong buang diapersnya yah, dan bersihkan perlaknya," ucap Marsha yang meminta tolong kepada suaminya itu.
"Oke, siap Mama," balas Abraham.
Dengan hati-hati Marsha memandikan Mira. Pagi yang indah rasanya, juga dengan kondisi mental suaminya yang sudah tidak begitu tertekan. Jujur, Marsha merasa sangat senang karena suaminya itu sudah bangkit. Walaupun Marsha yakin masih ada kesedihan dan berbagai pikiran yang memenuhi kepala suaminya itu. Akan tetapi, pagi ini cara Abraham menyambut pagi tidak lagi dengan wajah yang murung. Cara Abraham menggendong dan berinteraksi dengan Mira juga menunjukkan kedekatan seorang Papa dengan putrinya.
"Kalau sudah sini Shayang, biar aku yang terima Mira. Nih aku udah bawa handuk," ucap Abraham yang sudah kembali menyusul ke kamar mandi.
"Bentar Papa ... keramas dulu. Biar rambutnya cepat tumbuh yah," balas Marsha. Itu memang karena Mira yang sekarang kepalanya botak usai digundul oleh Eyang Diah.
Selesai mandi, Marsha menyerahkan Mira kepada Papanya yang sudah bersiap dengan handuk, sementara Marsha berjalan mengekori suami dan anaknya menuju ke dalam kamar. Segera Marsha mengeringkan tubuh Mira, mengenakan diapers kepada bayinya, memberikan minyak telon supaya tubuh Mira menjadi hangat, kemudian Marsha juga memakaikan setelan baju bayi, tidak lupa memberikan hair lotion dari minyak kemiri supaya rambut di kepala Mira bisa cepat tumbuh.
__ADS_1
"Nah, ini Papa ... Miranya sudah cantik dan wangi," ucap Marsha kepada suaminya itu.
Abraham pun tersenyum, tidak menunggu waktu lama, si Papa muda itu segera menciumi Mira, mengusap-usap perut Mira dengan menggerakkan wajahnya di sana, hingga Mira pun tertawa-tawa karena kegelian.
"Hmm, cantiknya ... harum banget sih Cantiknya Papa ini. Udah cantik, wangi, sekarang tinggal minum susu ya Nak," balas Abraham.
"Iya, habis ini minum ASI lagi Papa," balas Marsha.
Membiarkan Mira bermain dulu dengan Papanya, kemudian Mira pun yang lelah kini mulai menangis. Marsha dengan segera meminta Mira dan memberikan ASI untuk bayinya itu.
"Kecapekan bercanda sama Papa ya Sayang," ucap Marsha sembari memberikan ASI untuk bayinya itu.
"Nangis kalau dapat ASI langsung diem ya Shayang," ucap Abraham yang kini duduk di samping Marsha dan mengamati bayinya yang sedang meminum ASI itu.
"Iya, dapat yang dia mau, Mas," jawab Marsha.
"Ya, sudah seharian ini Papa buat Mira dulu yah. Sabtu bersama Papa, terus nanti malamnya Papa buat Mama. Oke Mama?" tanya Abraham.
Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Enggak mau ah, ujung-ujungnya modus," balasnya.
"Ah, kamu terlalu tahu kode yang aku berikan Shayang. Nanti malam buat kamu ya Shayang. Bahagianya Papa punya dua wanita cantik. Mama Marsha cintanya Papa, dan
Baby Mira putri kecilnya Papa," ucap Abraham dengan tersenyum lebar.
Ada banyak cara mengalihkan kesedihan. Sama seperti Abraham yang menemukan kebahagiaan kembali dengan melakukan bounding bersama putri kecilnya. Melewati hari bersama buah hati dan mengisi kembali gelas air cinta milik putrinya.
__ADS_1