Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Keluarga Harta yang Paling Berharga


__ADS_3

Usai kepergian Melvin, Abraham memejamkan matanya. Tidak pernah Abraham bertemu dengan orang seperti Melvin sebelumnya. Bagaimana bisa seorang pria rela memberikan harta yang jumlahnya begitu banyak kepada seorang suami untuk bisa meninggalkan istrinya. Satu hal yang Abraham pahami bahwa dia adalah anak yang tumbuh tanpa orang tua yang utuh. Oleh karena itu, Abraham juga tidak akan meninggalkan istri dan anaknya.


Di masa lalu mendiang Papanya pernah melakukan kesalahan dengan meninggalkannya dan Mama Diah. Bahkan memori yang tersimpan di otak Abraham sampai dia dewasa bahwa Papanya adalah Papa yang kejam dan meninggalkan dia begitu saja. Memori itu tidak bisa dipulihkan begitu saja, apa yang tertanam di otak anak, tidak mudah untuk diubahkan. Bahkan memori itu Abraham yakini benar.


Akan tetapi, kala ini Melvin datang dan seolah melakukan transaksi dengannya. Untung saja, Abraham cukup mengenal kelicikan Melvin, untuk itu Abraham sengaja merekam ucapan Melvin. Ucapan yang bisa menjadi boomerang untuk Melvin sendiri.


"Kamu salah Melvin ... demi Marsha dan anakku, aku tidak akan melakukan transaksi apa pun. Aku lebih baik kehilangan semuanya, asalkan aku bisa selalu membahagiakan Marsha dan Mira. Bagiku keluarga adalah harta yang paling berharga," ucap Abraham.


Setelahnya, Abraham memilih untuk segera pulang ke rumah. Lagipula hari sudah sore, kembali ke rumah, bertemu anak dan istri tercinta adalah pelepasan terbaik Abraham dari segala hal yang membuatnya pusing itu.


Setengah jam pun berlalu, kini Abraham sudah tiba di rumah. Begitu membuka gerbang rumah dan memarkirkan mobil, pintu rumah sudah terbuka. Ada Marsha yang menyambutnya dengan menggendong Mira di sana.


"Welcome home Papa," sambut Marsha dengan menunjukkan senyuman lebarnya kepada Abraham.


"Papa pulang," sahut Abraham yang juga tersenyum melihat Marsha yang menggendong Mira itu.


"Gimana kerjanya hari ini?" tanya Marsha. Ketika hari-hari bekerja dari Senin sampai Jumat, memang Marsha akan menanyakan bagaimana pekerjaan Abraham di studio foto. Setidaknya memang selalu ada cerita yang dibagikan Abraham kepada istrinya itu.


"Capek Shayang ... kebanyak ngedit foto tadi," balas Abraham.


"Ya sudah ... Papa masuk dan mandi dulu. Jangan deketin Mira, Papa banyak kumannya," balas Marsha yang seolah mengusir suaminya itu.


Tanpa banyak bicara, Abraham pun segera masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua dan segera membersihkan badannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Abraham karena hanya kurang lebih lima belas menit, Abraham sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian rumahan berupa kaos dan celana pendek. Papa muda itu segera meminta Mira dan menggendongnya.


"Mira seharian rewel enggak? Papa kangen sama kamu, Sayang," ucap Abraham sendiri menggendong dan menciumi Mira dengan begitu gemasnya.

__ADS_1


Marsha pun tertawa, "Mira baik kok Papa ... pinter, enggak rewel. Mama sampai bisa setrika baju-baju tadi," balas Marsha.


Abraham kemudian menatap kepada istrinya itu, "Laundry saja tidak apa-apa Shayang ... nanti kamu kecapekan," balas Abraham.


"Bisa Mas ... tenang saja. Selama aku masih bisa, ya aku kerjakan sendiri saja, semua pekerjaan rumah tangga," balas Marsha.


Sore itu dihabiskan Abraham dengan mengisi sore dengan Marsha, Mira, dan Mama Diah. Namun, Abraham belum bercerita kepada Marsha perihal kedatangan Melvin ke studionya. Abraham lebih memilih untuk menceritakan dengan Marsha nanti malam, karena Abraham percaya lebih baik banyak hal yang dibagi antara suami dan istri. Biarlah menunda beberapa saat dan kemudian Abraham akan berbagi nanti malam.


"Manja banget sih sama Papanya," ucap Marsha yang melihat Mira begitu menempel erat dengan Papanya.


"Anak gadis mungkin juga semuanya seperti ini, Mama," balas Abraham dengan tertawa.


"Mama seneng di sini ... melihat kalian bisa saling menyayangi seperti ini. Semoga saja kalian bisa rukun dan terus bersama sampai Kakek Nenek nanti. Oh, iya ... lusa Mama akan pulang ke Semarang yah?"


Abraham dan Marsha pun sama-sama menatap kepada Mama Diah di sana. Padahal keduanya juga tidak keberatan jika Mama Diah memilih tinggal di Jakarta bersama dengan mereka. Marsha sendiri juga begitu terbantu dengan Mama Diah yang selalu menolongnya dengan berbagai pekerjaan rumah tangga.


"Mama tinggal di sini saja bersama dengan kami. Marsha senang banget ada Mama di sini," ucap Marsha.


"Masih ada keperluan Mama di Semarang, Sha ... nanti akhir tahun Mama main ke sini lagi yah," balas Mama Diah.


"Baiklah Ma ... cuma jaga kesehatan Mama. Jika memang bisa, tinggal di Jakarta saja Ma ... Abraham tidak keberatan sama sekali. Justru kami sangat senang Mama bisa tinggal bersama dengan kami," balasnya.


"Iya nanti Mama pikirkan dulu baik-baik. Mama sudah lega sekarang, semua masalah satu per satu mulai mendapatkan jalan keluarnya. Kalian berdua semakin kuat, di dalam rumah tangga itu masalah ada-ada saja. Jadi, terus mengisi, terus menguatkan, dan saling terbuka tentunya," balas Mama Diah.


Abraham dan Marsha menganggukkan kepalanya di sana. Mereka sepenuhnya percaya bahwa dalam kehidupan berumah tangga masalah itu ada-ada saja, bahkan masalah bisa datang dari hal yang sepele. Namun, pasangan suami istri diminta untuk selalu waspada dan bisa mencari jalan keluar untuk semua masalah yang mereka hadapi.

__ADS_1


***


Begitu malam tiba ....


Marsha agaknya tampak sedih usai mendengar kabar bahwa Mama Diah hendak pulang lagi ke Semarang. Sekian lama ditemani Mama Diah dari menyambut persalinan sampai sekarang Mira berusia 3 bulan tentu membuat Marsha terbiasa di rumah dengan Mama Diah.


"Kenapa bengong Shayang?" tanya Abraham kepada Marsha.


"Sedih Mas ... Mama mau balik ke Semarang," jawabnya dengan jujur.


"Ya sudah, enggak apa-apa. Nanti kalau liburan, kita bisa main-main ke Semarang, lagian Mira juga belum pernah ke Semarang kan?"


"Udah terbiasa sama Mama, dan tiba-tiba Mama balik rasanya tidak enak banget," balas Marsha.


Abraham segera merangkul bahu istrinya di sana, "Ada aku ... nanti aku temenin biar kamu tidak kesepian yah. Tadi Melvin ke studio aku, Yang," cerita Abraham pada akhirnya.


Marsha beringsut, kemudian dia menatap wajah suaminya di sana, "Kok bisa Mas?" tanyanya.


"Biasa ... ada penawaran gila. Dia akan memberikan harta warisan dari Papa Wisesa kepadaku dengan satu syarat, yaitu meninggalkan kamu," cerita Abraham.


"Lalu, kamu balas?" tanya Marsha.


Abraham menghela nafas dan kemudian menatap Marsha, "Itu penawaran yang mudah dan jawabannya adalah pasti, Yang ... aku tidak akan meninggalkanmu untuk apa pun. Pilihan utamaku pastilah kamu dan Mira," balasnya.


Marsha merasa lega mendengar ucapan dari suaminya, kemudian wanita itu menatap suami, "Namun, jika aku dan Mira sama-sama terdesak, tolong selamatkan Mira terlebih dahulu. Jangan mengorbankan karena apa pun, termasuk aku," ucapnya.

__ADS_1


Abraham yang mendengar itu pun memejamkan matanya perlahan, "Alih-alih berkorban, aku lebih memilih diriku sendiri yang berkorban. Kamu dan Mira selamat dan aku akan lega dan puas berkorban untuk kalian berdua. Bagiku keluarga adalah keluarga yang paling berharga. Untuk menjaga hartaku yang paling berharga, aku siap mengorbankan diriku," ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2