Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Membatalkan Janji


__ADS_3

“Aku cuti hari ini,” ucap Melvin dengan tenang.


Marsha membelalakkan matanya mendengar ucapan suaminya yang mengambil cuti hari ini. Padahal sebelumnya Marsha sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Abraham. Namun, karena suaminya di rumah, Marsha akan menelpon Abraham dan membatalkan janji dengan Mantan tapi Mesranya itu.


"Tumben cuti?" tanya Marsha kepada Melvin.


"Iya, aku capek," balas Melvin.


Tidak dipungkiri sepanjang hari di lokasi syuting, menghafalkan dialog, ritme kerja yang seolah tiada akhir membuat Melvin merasa capek. Namun, sebenarnya sepanjang hari ini Melvin ingin memberi waktu untuk istrinya itu.


"Ya sudah, istirahat aja," balas Marsha.


"Iya, habis ini aku mau mandi dulu. Mau seharian aja di rumah," balasnya.


Usai sarapan, Melvin dan Marsha pun kembali ke kamarnya. Melvin masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Sementara Marsha berdiri di balkon dan menggenggam handphonenya. Wanita itu segera mengubah nama Abraham di kontaknya dan menelpon pria itu.


Abraham


Memanggil


"Bram," sapa Marsha kepada Abraham melalui panggilan seluler begitu teleponnya terhubung.


"Ya, Sha … ada apa? Tumben kamu menghubungi aku sepagi ini. Kangen yah?" tanya Abraham di seberang sana.


"Ehm, begini Bram. Janji kita hari ini batal. Soalnya Melvin cuti hari ini. Jadi, sorry yah … bisakah kita menggantinya di lain waktu?" ucap Marsha dengan lirih.


Di seberang sana Abraham mengusap wajahnya. Seharusnya hari ini dirinya bisa bertemu dengan Marsha, memandangi wajah cantik mantan kekasihnya itu. Namun, karena suaminya ada di rumah, mau tidak mau Abraham harus mengalah. Lagipula, posisinya sekadar mantan tapi mesra saja. Efek negatif dari ucapan Abraham bahwa dia mau dan rela dimanfaatkan Marsha ya seperti ini. Saat suami Marsha ada, Abraham harus rela ketika Marsha membatalkan janjinya.


"Baiklah, tidak apa-apa. Hanya saja saat bertemu nanti beri aku satu ciuman," ucap Abraham dengan serius.

__ADS_1


Terlihat jantung Marsha berdebar saat mendengar Abraham yang meminta satu ciuman darinya. Tak ingin memperpanjang waktu menelponnya karena Melvin di rumah, Marsha pun mengiyakan permintaan Abraham itu.


"Oke-oke, baiklah," sahut Marsha sembari menoleh ke belakang berjaga-jaga jika Melvin keluar dari kamar mandi, dia bisa segera mematikan teleponnya.


"Janji?" tanya Abraham kepada Marsha.


"Janji," balas Marsha dengan cepat.


"Oke, deal yah." Abraham menjawab dengan pasti. Jika di lain waktu Marsha ingkar janji, maka Abraham bisa menagihnya. Meminta Marsha menepati janjinya.


"Baik, aku tutup teleponnya yah," ucap Marsha.


Usai mengatakan semuanya itu, Marsha memilih mengakhiri panggilannya. Bermain api di belakang suaminya sendiri sangat berisiko. Akan tetapi, semuanya telah terjadi. Sehingga, mau tidak mau Marsha akan berusaha menjalaninya.


Tidak berselang lama, Melvin pun keluar dari kamar mandi. Marsha yang semula berdiri di balkon pun masuk dan memilih duduk di sudut sofa. Wanita itu tersenyum hambar dan menaruh handphonenya di atas nakas yang berada di sofa itu.


"Kamu ngapain di balkon?" tanya Melvin kepada istrinya itu.


Kali ini Marsha menjawab dengan jujur. Bukan maksudnya untuk memancing keributan dengan Melvin. Namun, lebih baik hari ini Marsha tidak melihat film atau drama dari Negeri Gingseng tersebut.


"Kamu pasti terluka ya sama ucapanku tempo hari?" tanya Melvin kepada istrinya itu.


"Tidak, biasa aja," jawab Marsha.


Itulah wanita. Hatinya terluka, tetapi di bibir Marsha masih bisa mengakui bahwa dirinya biasa saja. Menyembunyikan perasaannya sendiri adalah ciri khas seorang wanita bukan?


"Sorry, jika aku sering melukaimu," sahut Melvin kali ini.


Seakan pria itu tersadar bahwa dirinya memang sering melukai perasaan Marsha. Tanpa penyebab yang jelas, Melvin sering mengajak Marsha berdebat dan adu mulut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," jawab Marsha kali ini.


"Jadi seharian ini kamu mau ngapain?" tanya Melvin kepada istrinya itu.


"Enggak tahu, biasanya aku kalau di rumah hanya rebahan saja," aku Marsha dengan jujur.


Dirinya memang lebih sering rebahan. Tidak banyak melakukan pekerjaan rumah karena sudah ada asisten rumah tangga yang mengurus rumah.


"Pernahkah kamu kesepian?" tanya Melvin kali ini kepada istrinya.


Marsha tersenyum. Kesepian sudah menjadi temannya sehari-hari. Berapa banyak waktu yang dia habiskan di rumah sendirian tanpa Melvin. Berapa banyak waktu yang Marsha habiskan hanya untuk rebahan saja.


"Hmm, kenapa?" tanya Marsha kepada suaminya itu.


Melvin kemudian menggerakkan tangannya dan menautkan jari-jarinya di sela-sela jemari Marsha.


"Sorry, bukannya aku tidak punya waktu buat kamu. Hanya saja untuk sekarang belum bisa. Aku akan usahakan bisa memiliki waktu bersamamu," ucap Melvin dengan sungguh-sungguh.


Marsha tersenyum, tetapi dalam hatinya Marsha menerka-nerka apa yang sebenarnya dipikirkan dan direncanakan oleh Melvin. Sebab, tidak biasanya Melvin bersikap baik seperti ini. Justru bagi Marsha, sikap Melvin kali ini terlampau baik.


"Tidak apa-apa," jawab Marsha lagi.


Bukannya Marsha tidak memiliki jawaban lain. Hanya saja, Marsha memang harus menerima dan memahami kesibukan suaminya yang begitu luar biasa itu.


Melvin kini membawa tangannya dan membelai sisi wajah Marsha. Pria itu berkata dengan terus memandangi wajah Marsha.


"Aku kangen kamu, Ayang," ucap Melvin.


Bukan berdebar, nyatanya justru Marsha merasa terkesiap dengan ucapan Melvin. Sudah sekian waktu berlalu, baru kali ini Melvin kembali berbicara bahwa pria itu merindukannya. Namun, kenapa justru tidak ada perasaan membuncah di hati. Senyuman yang terukir di wajah Marsha sekarang pun sebatas formalitas belaka.

__ADS_1


Marsha gamang dengan hatinya. Seharusnya dia merasa senang dan bahagia saat suaminya sendiri mengaku merindukannya. Namun, Marsha justru merasa biasa saja. Tidak ada debaran di hatinya mendengar pengakuan rindu dari bibir suaminya itu.


__ADS_2