
Rupanya malam itu, usai bercinta kepada Marsha, Abraham tidak langsung tidur. Melainkan, dia masih harus bekerja dan mengedit foto-foto dan membuatkan video untuk Pak Belva dan Bu Sara. Sehingga, Marsha pun masih menunggu suaminya dan juga sesekali bergelayut manja di lengan suaminya itu.
"Maaf ya Shayang ... masih harus edit foto dan video. Setidaknya biar Pak Belva dan Bu Sara bisa mendapatkan foto-foto terbaiknya. Kan kita juga tidak tahu apakah mereka ingin segera memposting kabar bahagia ini di media sosial mereka, secara mereka kan orang terpandang dan banyak koneksi," jelas Abraham kepada istrinya.
"Iya Mas ... aku tahu. Kerja sama orang memang begitu, Mas ... aku malahan bangga karena kamu totalitas tanpa batas. Walau sudah memiliki hubungan dekat dengan Pak Belva, tetapi profesionalitas kerja harus tetap jalan terus. Keren sih Mas," balas Marsha.
Apa yang dikatakan Marsha benar karena sebenarnya mereka sudah memiliki faktor kedekatan dengan keluarga Agastya. Akan tetapi, jika bekerja tidak profesional pun rasanya tidak ada guna. Walau dekat, baik Marsha dan Abraham ketika bekerja, selalu profesional. Justru karena sudah begitu dekat, tak jarang keduanya akan melakukan yang terbaik dari apa yang bisa mereka lakukan.
"Maaf yah ... tadi aku keburu kangen kamu. Jadi, ya ... kangen-kangenan dulu. Setelah kangennya tertuntaskan, sekarang bekerja lagi," ucap Abraham yang seakan meminta pengertian dari Marsha.
"Iya Mas ... mau aku buatkan kopi?" tawarnya kemudian.
"Boleh deh Shayang ... kopi hitam dan agak pahit saja, Shayang. Tidak usah terlalu manis, kan sudah ada kamu yang termanis untukku," balas Abraham.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Abraham, Marsha pun menyunggingkan senyuman di wajahnya. Kemudian dia keluar dari kamar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisanya suaminya itu bermulut manis sekarang.
Di dapur, Marsha segera menyeduh kopi dan hanya memberikan dua sendok teh gula. Mengaduknya perlahan, bahkan Marsha turun mencium aroma kopi yang diseduh dengan air yang mendidih itu. Setelahnya, dia membawa kopi itu perlahan-lahan ke dalam kamarnya di lantai dua.
"Silakan Maskuw ... kopinya, kopi hitam dengan sedikit gula. Kalau kurang manis, lihat aku saja ya Mas," balas Marsha.
Mendengar apa yang disampaikan oleh istrinya, Abraham pun terkekeh geli dan mencium kening istrinya. Marsha yang memang belum merasa ngantuk, memilih untuk duduk di samping suaminya. Asalkan bisa dekat, menatap wajahnya, dan mencium aroma parfum suaminya yang begitu maskulin dan segar, sudah cukup untuk Marsha. Toh, suaminya bekerja keras juga untuk dirinya dan Mira juga. Sehingga memang Marsha sama sekali tidak marah.
__ADS_1
"Cewek ya Mas?" tanya kemudian sembari turut mengamati foto yang sekarang dipindahkan dari kamera ke laptop.
"Iya, cewek ... cantik banget, Shayang. Namanya juga sangat indah," balas Abraham kemudian.
Marsha agaknya sekarang juga tertarik dengan bayi kecil Bu Sara yang baru lahir itu. Begitu gemas rasanya hanya melihat foto-fotonya saja.
"Namanya emangnya siapa Mas? Sebentar, biar aku tebak ... diawali dengan huruf E lagi enggak?" tanya Marsha kepada suaminya.
"Iya, diawali dengan huruf E ... namanya Eiffel. Gak kaleng-kaleng ya Shayang. Terlihat jelas, baby girlnya made in Paris. Saksi cinta di City of Love, Paris," balas Abraham,
Marsha punĀ kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, keren dan unik. Kepikiran yah, kasih nama anaknya Eiffel. Biasanya kan Eveline itu," balasnya.
"Putrinya cantik, namanya juga cantik. Luar biasa sih," balas Abraham kemudian.
"Ah, akhirnya selesai juga ... bisa dikirimkan soft filenya kepada Pak Belva dulu," ucap Abraham. Malam itu juga, Abraham mengirimkan soft filenya untuk Pak Belva baik foto dan video sudah diselesaikan oleh Abraham. Dia hanya tinggal memberikan copyan file dan file cetak saja.
"Langsung dikirimkan sekalian Mas?" tanya Marsha.
"Iya, biar klien tidak menunggu, Shayang. Salah satu cara supaya dipercaya dan akhirnya dipakai terus oleh klien ya kalau bekerja yang all out. Jadi, mereka pun akan puas dengan hasil kerja kita," ucap Abraham.
Dengan menunjukkan totalitas dan juga kinerja yang baik, sudah tentu akan membuat klien merasa puas dan akhirnya akan terus-menerus menggunakan jasa dari Abraham. Hasil kerja secara nyata itulah yang ditunjukkan oleh Abraham.
__ADS_1
"Pengirimannya lewat Whatsapp saja kan Mas?" tanya Marsha kemudian.
"Dua Shayang ... lewat Whatsapp dan email, jadi biar tidak ada file yang blur atau susah kebuka, biasanya mereka akan langsung lari ke email. Wah, makasih Mama Marsha sudah menemaniku lembur," balas Abraham dengan menyimpan kembali kamera dan juga laptopnya. Tidak tidak menaruhnya kembali di tempatnya.
"Sama-sama Mas ... seneng juga bisa lihat gimana profesionalnya kamu dalam bekerja. Ternyata memang keren, kualitas bagus, harga juga bersahabat. Keren deh. Pantas Pak Belva memakai kamu terus-menerus," balas Marsha.
Abraham pun tertawa di sana, "Ya sudah ... yuk tidur yuk ... sudah tengah malam, Shayang. Besok untungnya hari Minggu, bangun agak siang tidak apa-apa, Shayang," balas Abraham.
"Ya, kan pagi bangun dulu, Mas ... nanti siangnya bobok siang, Papa yang jagain Mira," balasnya.
"Oke, siap Shayangku ... makasih yah, untuk hari ini. Ketika Mira merindukan Papanya dan mungkin saja gabut, kamu bisa membuatkan aktivitas yang keren di rumah. Makasih juga sudah menemaniku lembur semalam. Love U, Shayang!"
"Sama-sama Mas Abraham ... makasih sudah bekerja keras untuk kami bertiga. Luar biasa banget, pekerjaan kamu memang TOP," balas Marsha.
"Jadi, kapan kamu mau aku fotoin nanti?" tanyanya.
"Akhir pekan besok saja, Mas ... biar enggak mengganggu waktu kamu bekerja di hari-hari biasa," balasnya.
"Ganggu juga tidak apa-apa, kan studio milik kita sendiri. Aku tidak merasa terganggu Shayang," balas Abraham.
Marsha kemudian tampak berpikir dan kemudian kembali berbicara, "Ya sudah, nanya Mira saja ... nanti dia maunya kapan. Mengikuti anak kecil dengan segala ke-moddy-annya," balas Marsha.
__ADS_1
Untuk kali ini yang disampaikan Marsha memang tepat, walau sudah besar dan terkadang Mira bisa bersikap dewasa. Tetap saja ada kalanya Mira bisa moddy-an dan juga badmood, oleh karena itu, memang lebih baik bagi Marsha untuk mengikuti maunya Mira saja. Jika, Mira mau dan siap, dia pun akan siap.