
Dari dalam mobilnya, Abraham tampak mengamati istrinya yang asyik menikmati Martabak Manis itu. Rasanya sebenarnya kasihan melihat Marsha duduk sendiri di sana, dan memakan Martabak Manis yang dia inginkan. Akan tetapi, karena mencium adonan martabak seketika membuat Abraham merasa mual, sehingga Abraham memilih benar-benar berada di dalam mobil. Pria itu sama sekali tidak turun dari mobilnya. Hanya bisa memandangi Marsha dari kaca jendela mobilnya saja.
"Sorry ya Shayang ... bukannya aku tidak mau. Mencium adonannya saja, membuatku pusing dan hampir muntah," gumam Abraham dalam hati.
Ini baru Martabak Manis, bagaimana nanti jika istrinya itu menginginkan hal yang lain. Sudah pasti, jika tidak bisa menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya membuat Marsha kembali sebal dan kecewa. Bahkan sekarang pun, hanya karena martabak saja, Marsha terlihat kecewa.
Abraham tahu jika memang selama hamil mood bisa berubah-ubah, selain itu bisa emosi naik dan turun. Tidak menutup kemungkinan bahwa Marsha akan merasakan hal yang sama.
Kurang lebih sepuluh menit, Marsha memakan martabak di luar, dan kemudian dia masuk ke dalam mobil suaminya. Kali ini bahkan Marsha meminta kantong plastik lebih supaya tidak tercium aroma adonan dari Martabak Manis itu. Bahkan Marsha juga menaruhnya ke bagasi mobilnya.
"Sudah puas?" tanya Abraham kepada Marsha.
"Iya sudah," balas Marsha.
Kemudian Abraham memberikan botol air mineral yang sudah dia buka sealnya, kemudian menyerahkannya kepada Marsha di sana. "Minum Shayang, habis makan pasti haus," balas Abraham.
Marsha pun menerimanya dan mulai meneguk air mineral itu sedikit. Rasanya enak dan lega, yang dia inginkan akhirnya bisa dimakan, walau memang memakannya sendirian.
"Mau mampir ke mana lagi?" tanya Abraham.
"Enggak ah, pulang saja. Daripada nanti nawarin mampir ke mana giliran aku pengen, kamunya mual. Jadi ya pulang aja," balas Marsha.
Dari bicaranya saja, Abraham masih tahu jika istrinya itu masih sebal. Namun, apa daya jika memang masih mual. Memaksakan diri jadinya juga tidak baik bukan.
__ADS_1
"Ya maaf, Shayangku," balas Abraham.
"Kalau ngidam, terus tidak kesampaian itu bayinya bisa ileran loh nanti," balas Marsha.
"Maaf, cuma ya jangan ileran dong anak kita nanti," balas Abraham yang kini kembali mengemudikan mobilnya menuju ke rumah.
***
Selang beberapa hari berlalu ….
Agaknya kehamilan kedua ini, Marsha terkena mood swing yang begitu hebat. Sebatas melihat series kesukaan saja membuat Marsha benar-benar menangis. Mama Diah justru tertawa melihat menantunya itu menangis.
“Loh, kok nangis Sha?” tanya Mama Diah.
“Lah, itu scene-nya gembira loh. Itu aktornya saja baru tertawa-tawa kok kamu malahan menangis loh,” balas Mama Diah.
Tentu bagi Mama Diah ini adalah hal yang lucu. Adegan yang dilihat Marsha itu lucu, tetapi yang Mama lihat sekarang justru Marsha menangis sampai menyeka air matanya dengan tissue. Mama Diah juga merasa bingung karena Marsha sampai menangis bombay seperti ini.
“Kok bagi Marsha sedih ya Ma,” balasnya dengan terisak.
“Bumil baru sensitif yah … mood swing. Padahal itu lucu, tapi bagi kamu malahan menyentuh hati yah. Sabar yah … ibu hamil memang kayak gini,” balas Mama Diah.
Mama Diah sepenuhnya memahami bahwa kehamilan di trimester awal bisa membuat ibu hamil menjadi lebih sensitif dan juga mengalami mood swing. Hal ini terjadi karena bergejolaknya hormon-hormon dalam tubuh ibu hamil. Kondisi ini muncul akibat dari adanya peningkatan hormon estrogen, progesteron, serta kortisol sehingga mengakibatkan terjadinya pergolakan emosi Bumil. Selain itu, perubahan metabolisme, reproduksi, dan stress fisik pun bisa menjadi pemicu mengapa emosi ibu hamil bisa naik turun saat hamil.
__ADS_1
“Kok gini ya Ma … dulu perasaan waktu hamil Mira tidak seperti ini loh,” balas Marsha.
“Ya, anak yang kita kandung beda-beda, Sha … ada pas hamil pertama itu sehat, dan bisa hamil kedua sakit. Bawaan bayinya seperti apa. Cuma ya jangan terlalu sedih, katanya kalau hamil dan ibunya sedih, bayinya di dalam perut kamu bisa ikutan sedih,” ucap Mama Diah memberitahu menantunya itu.
Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya Ma … pengennya sih gitu, cuma tiba-tiba menjadi nangis sendiri. Sedih,” balasnya dengan kembali berlinangan air mata.
“Istirahat dulu saja. Kasihan kalau nangis terus, nanti dikirain kenapa,” balas Mama Diah.
Mengikuti nasihat Mamanya, Marsha memilih beristirahat dengan Mira di dalam kamar putrinya itu. Rupanya Marsha tidur cukup lama, sampai Mira yang bangun terlebih dahulu dan bahkan putrinya itu sudah mandi dan kini sudah disuapin oleh Mama Diah sembari melihat channel Youtube anak-anak di televisi pintarnya.
“Mira kok sudah bangun? Marsha kesorean ya Ma?” tanyanya lagi.
“Tidak apa-apa, Ibu hamil memang butuh istirahat,” balas Mama Diah. Mertuanya itu begitu baik, Marsha diperlakukan seperti anak kandung sendiri, bukan anak menantu. Begitu sabar juga dengan Marsha.
“Maafin Marsha ya Ma,” balasnya.
Jujur, Marsha merasa tidak enak hati. Seharusnya dia yang memandikan Mira dan menyuapi putrinya itu. Oleh karena dirinya yang tidur terlalu lama, sampai merepotkan Mama mertuanya. Sekadar hal kecil seperti ini, sensitivitas ibu hamil kembali muncul. Marsha bersedih di sana.
“Sudah jangan merasa tidak enak. Kamu mandi sana yah. Suami kamu juga sudah mau datang,” balas Mama Diah.
“Iya Ma … maafkan Marsha ya Ma,” balasnya.
Mama Diah tersenyum melihat menantunya itu. Memang mungkin kehamilan kedua ini justru membuat Marsha menjadi lebih sensitif dan juga merasa tidak enak hati. Namun, Mama Diah justru merasa tidak direpotkan sama sekali, bisa membantu Marsha justru membuat Mama Diah begitu senang.
__ADS_1