
Selang beberapa hari, Melvin pulang dini hari. Sama seperti biasanya, pria itu pulang dengan menunjukkan wajah yang kusut. Berbeda dengan hari biasanya, dini hari ini Marsha masih terjaga. Sejak pertemuannya kembali dengan Abraham, rasanya Marsha tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Nyaris beberapa malam terakhir, Marsha selalu terjaga. Tidur nyenyaknya terenggut setelah bertemu kembali dengan Abraham.
“Kamu sudah pulang Yang?” tanya Marsha kepada Melvin.
“Iya … aku capek banget. Seharian harus take berkali-kali,” sahut Melvin.
“Mau aku bikinkan minum?” tanya Marsha kepada Melvin.
Pria itu tampak menganggukkan kepalanya, dan juga mengiyakan tawaran Marsha. “Boleh, aku mau susu hangat,” jawab Melvin.
Marsha kemudian menganggukkan kepalanya, dan keluar dari kamarnya, menuju ke dapur dan membuatkan susu hangat untuk suaminya itu. Bagaimana pun setiap dini hari, jika Melvin pulang dan membutuhkan sesuatu, Marsha tidak keberatan untuk membuatkan sesuatu yang dimau suaminya itu. Bahkan Marsha juga walaupun begitu mengantuk tetap membuatkan request yang diminta Melvin. Terkadang pria itu membuat Susu hangat, terkadang meminta Mie rebus, dan berbagai permintaan lainnya.
__ADS_1
Tidak sampai sepuluh menit, Marsha telah kembali ke kamar dengan membawa segelas susu hangat di tangannya.
“Diminum dulu, Yang … mumpung masih hangat,” ucap Marsha sembari menyerahkan segelas susu itu kepada Melvin.
“Thanks Ayang,” jawab Melvin.
Pria itu kemudian menerima gelas susu dari tangan Marsha, dan kemudian meminumnya selagi hangat. Usai meminum susu hangat itu, Melvin menaruh gelasnya di atas nakas yang berada di meja rias.
“Berisik banget sih Yang … kan ya gelasnya biar di sini dulu juga tidak masalah,” sahut Melvin dengan intonasi suara yang cukup keras.
Lagi-lagi ucapan Melvin yang seperti itu yang membuat Marsha terluka. Cukup berbicara lembut dan tidak melukai perasaannya. Akan tetapi, sering kali Melvin justru mengatakan demikian.
__ADS_1
Tidak ingin ribut, kemudian Marsha mengambil gelas kaca itu dan menaruhnya kembali ke dapur. Lebih baik, Marsha yang turun dari kamar dan menaruh kembali gelas bekas susu itu. Lagipula, hari masih dini hari sehingga tidak enak jika harus adu mulut seperti yang sebelumnya.
Setelahnya, Marsha kembali lagi ke kamar, rupanya Melvin sudah tidur dan memunggunginya. Marsha hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan suaminya itu.
“Kapan kita bisa memiliki waktu berdua, Yang? Jika setiap hari, kamu selalu pulang dini hari. Kapan kita mencairkan rumah tangga yang bahkan suam-suam kuku pun tidak. Kapan kita bisa menjadi suami istri selayaknya yang berkomunikasi dengan baik dan dekat di hati?”
Marsha menggigit bibir bagian dalamnya, dan kemudian merebahkan dirinya di samping Melvin, menaruh guling di antara dirinya dan juga Melvin.
Akan tetapi, begitu menyadari pergerakan Marsha. Melvin kemudian menaruh guling yang berada di belakang punggungnya dan kemudian membuangnya secara asal.
Lagi-lagi Marsha tercengang dengan tindakan suaminya itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada Melvin. Beberapa hari yang lalu, pria itu bahkan bersikap manis dan tidak berbicara kasar. Akan tetapi, sekarang justru Melvin bersikap kasar.
__ADS_1
Tindakan-tindakan yang seperti ini membuat Marsha terluka. Tidak perlu mengangkat tangan dan memukul seorang wanita, tetapi diperlakukan tidak baik juga membuat seorang wanita bisa begitu terluka.