
Tidak berselang lama, hanya kurang lebih dua pekan, Sara dan Abraham telah menandatangani kerja sama dengan dengan Sara. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Sara mengontrak Marsha secara eksklusif. Marsha dan Abraham sampai keheranan karena Sara membayar Marsha dimuka. Jumlah nominal yang diberikan Sara pun begitu fantastik.
"Bu Sara, apa ini tidak terlalu banyak?" tanya Marsha saat hendak menandatangani kesepakatan kerja sama mereka berdua.
Akan tetapi, Sara justru menggelengkan kepalanya, "Tidak, itu sudah sebanding. Jadi, bagaimana untuk satu tahun ke depan, mau menjadi Brand Ambassador untuk Coffee Bay?" tanya Sara.
"Tentu saya mau, Bu Sara. Hanya saja, nominalnya terlalu banyak," balas Marsha.
Tampak pemilik waralaba Coffee Bay itu menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Untuk pemotretan nanti langsung dengan Mas Abraham kan? Saya terima hasil jadinya saja," balas Sara.
Akan tetapi, Marsha masih tampak ragu. Bukannya tak percaya dengan nominal rupiah yang hendak dia teken sekarang, tetapi karena Marsha jika menjadikan Brand Ambassador tak sebanding dengan omset yang didapatkan Coffee Bay.
"Maaf sebelumnya Bu Sara, bagaimana jika nanti mengontrak saya, hasilnya justru tak sebanding dengan yang didapatkan Coffee Bay. Bukannya apa, hanya saja saya merasa reputasi buruk di masa lalu bisa mempengaruhi pendapatan Coffee Bay," ucap Marsha dengan jujur.
"Tidak apa-apa. Kita tidak pernah tahu hasilnya jika belum pernah mencoba. Jadi, deal untuk kerja sama kita?" tanya Sara.
Marsha menghela nafasnya kemudian mulai menatap kepada Abraham yang duduk di sampingnya. Terlihat Abraham menganggukkan kepalanya. Merasa Abraham menaruh kepercayaan kepadanya, barulah Marsha menganggukkan kepalanya dan mulai menandatangani kontrak kerja sama itu.
"Semoga keputusan Bu Sara untuk menjadikan saya sebagai BA Coffee Bay, membuahkan hasil ya Bu Sara. Mohon maaf jika nanti tidak sesuai yang diharapkan," ucap Marsha.
"Tidak apa-apa, Marsha. Mari kita sama-sama lakukan yang terbaik. Lagipula, ini kan sekalian untuk Mas Abraham yang memotret. Iya kan Mas Abraham?" tanya Sara.
Abraham yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara, "Makasih Bu Sara, walaupun yang dikatakan Istri saya benar. Ini terlalu banyak," balas Abraham.
"Anggap saja untuk tabungan si Baby nanti. Nanti kalau melahirkan jangan lupa kabarin yah, biar saya dan Mas Belva bisa menjenguk kalian," ucap Sara dengan begitu ramahnya.
Sudah karakter dan kepribadian Sara yang sangat baik, membuat Marsha dan Abraham begitu senang. Biasanya mereka yang ada di atas sering kali sombong dan jual mahal. Akan tetapi, Sara justru begitu bersahaja.
__ADS_1
"Pasti Bu Sara, nanti saya akan kabarin," sahut Marsha dengan menganggukkan kepalanya.
"Sudah tahu jenis kelaminnya?" tanya Sara kemudian.
"Belum Bu Sara, kami sepakat untuk tidak mau tahu jenis kelaminnya. Supaya nanti waktu melahirkan lebih terasa kejutannya," balas Abraham.
Sara yang mendengar keduanya pun tertawa, "Kalian unik yah. Wah, jadi pengen hamil lagi dan menunda gender revealnya," balas Sara.
"Benar Bu, biar makin deg-degan nanti," balas Marsha.
Setelah menandatangani kontrak kerja sama, kemudian Marsha dan Abraham berpamitan dari rumah Sara. Memang kali ini, Sara yang meminta mereka berdua untuk datang ke rumah dan menandatangani kontrak kerja sama dengan Coffee Bay.
Sepulang dari kediaman Sara dan Belva, Abraham dan Marsha tampak tersenyum. Tidak pernah mengira keduanya bisa bekerja sama seperti ini. Semoga saja, keduanya yang menjemput rezeki kali ini akan membukakan pintu berkah di lain waktu.
"Alhamdulillah ya Mas, banyak banget dapatnya," ucap Marsha.
"Benar Shayang, bisa untuk persiapannya Si Baby dan juga ditabung," balas Abraham.
"Jadi, besok aku potret ya Shayang. Jangan pernah mengecewakan klien. Itu kunci bekerja sama, Shayang," jelas Abraham kepada istrinya.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas, siap kok. Apalagi yang motret kan kamu, aku jadi lebih percaya diri. Badanku yang gemuk kayak gini apa bagus dipotret sih Mas? Aku enggak yakin," balas Marsha.
"Bagus kok, kamu nanti pose aja Shayang. Untuk urusan angle, serahkan padaku," balas Abraham.
***
Keesokan Harinya ....
__ADS_1
Sebagaimana yang telah disepakati bersama, kali ini Abraham dan Marsha menuju ke Coffee Bay yang ada di Ibukota dan mulai mensetting tempat untuk pemotretan. Marsha juga sudah bersiap dengan kostumnya.
Walau berbadan dua dan mengalami kenaikan berat badan, nyatanya Marsha justru begitu cantik. Memiliki perut buncit justru membuat Marsha tampil kian menawan.
"Lihat sini Shayang, ya ... agak ke kiri dikit," ucap Abraham memberi instruksi kepada istrinya itu.
Marsha menganggukkan kepalanya, dan mulai berpose dengan mengikuti instruksi yang diberikan suaminya. Setelah hiatus cukup lama, akhirnya Marsha berpose lagi di depan jepretan kamera. Bukan hanya senang, tetapi seolah bernostalgia dengan pekerjaannya dulu.
"Sekarang candid Shayang, kamu minum minuman itu dengan tersenyum. Nah, gitu ... pertahankan yah. Satu ... dua ... tiga, oke!"
Tanpa diketahui Marsha dan Abraham, siang ini rupanya Sara singgah ke tempat pemotretan dan melihat langsung jalannya pemotretan. Bahkan Abraham juga mengabadikan saat karyawan melayani pelanggan dan menyajikan setiap pesanan dari pelanggan.
Dalam hatinya, Sara puas dengan kinerja pasangan suami istri itu. Selebihnya, Sara tinggal menunggu hasil akhir dari setiap foto yang sudah diedit dan dibuatkan desain sedemikian rupa.
"Bu Sara," sapa Marsha menyambut sang pemilik waralaba itu.
"Gimana lancar?" tanya Sara kepada Marsha.
"Iya Bu, lancar ... sambil minum loh Marsha," ucap Sara.
"Sudah minum Bu, tadi saya minta Lovely Strawberry," balas Marsha.
"Ah, itu kesukaan Evan sekarang. Iya kan, Kak Evan suka Lovely Strawberry kan?" tanya Sara yang memang siang itu datang bersama Evan dan Elkan tentunya.
Evan yang masih mengenakan seragam sekolahnya pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ma, apalagi Lovely Strawberry bikinan Mama lebih enak. Evan suka," balasnya.
"Kak Evan pulang sekolah yah?" tanya Marsha kepada putra sulung Sara itu.
__ADS_1
"Iya Onty, tadi habis dijemput Mama pulang sekolah dan mampir ke sini," balas Evan dengan sopan.
Agaknya Marsha begitu kagum dengan Sara, wanita yang berdiri di hadapannya ini bukan hanya seorang pebisnis yang sukses, tetapi seorang Mama yang hebat. Sebagai anak Crazy Rich, Evan pun berperilaku sangat sopan, tutur bahasanya juga santun. Dalam hatinya, Marsha justru kian kagum dan ingin mengikuti jejak Sara. Saatnya wanita bisa berdiri di atas kakinya sendiri, berkilau dengan sinarnya sendiri. Itulah yang Marsha harapkan usai semakin mengenal sosok Sara.