
"Mengingat bayinya semakin besar dan ruang geraknya terbatas, sehingga nanti Ibu Marsha akan semakin bisa merasakan pergerakan janin yang semakin aktif yah seperti menendang dan juga meninju. Perkembangan lainnya, pada usia 32 minggu, bayi semakin lancar untuk bernafas, menelan, dan menghisap. Yang paling mencolok adalah perkembangan otaknya yang semakin pesat. Bayi dalam kandungan sudah mulai mengembangkan bagian-bagian otak penting yang membuat panca indranya berkembang semakin baik. Itulah sebabnya pendengaran dan penglihatan Si Kecil sekarang ini jauh lebih baik dibandingkan minggu-minggu sebelumnya."
Dokter Indri kembali menjelaskan perkembangan janin pada usia 32 minggu. Mendengar penjelasan dari Dokter Indri membuat Marsha sangat bahagia. Hanya tinggal menunggu setidaknya 8 minggu lagi untuk menantikan hari launchingnya si buah hati yang kali ini berjenis kelamin laki-laki.
"Luar biasa perkembangannya ya Dokter ... saya yang mendengarkannya begitu takjub dan juga berharap bisa bertemu si bayi dalam keadaan sehat dan selamat, tentunya juga sempurna," balas Marsha.
"Benar Bu Marsha, minggu ke minggu bayi itu berkembang dengan begitu luar biasa. Memantau tumbuh kembang janin itu luar biasa sekali. Mungkin itu juga yang membuat saya memilih menjadi Dokter Kandungan," balas Dokter Indri.
Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Sungguh luar biasa ya Dokter. Saya yang mendengarkan penjelasannya saja begitu takjub."
"Sama-sama Bu Marsha," balas Dokter Indri. "Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dokter Indri lagi kepada Marsha.
"Kalau itu tadi akan perkembangan bayinya ya Dok ... kalau untuk Ibunya bagaimana?" tanya Marsha kemudian.
"Jika sudah memasuki trimester akhir ini adalah minggu yang berat, Bu Marsha. Dengan rahim yang semakin dekat ke diafragma dan perut yang semakin besar dan padat, ibu mungkin berisiko mengalami sesak napas dan panas ulu hati. Untuk membantu mengurangi ketidaknyamanan ini, cobalah tidur dengan menggunakan bantal sebagai ganjalan serta menerapkan pola makan dengan porsi lebih kecil, namun sering. Ibu mungkin juga akan mengalami nyeri punggung bawah seiring bayi dalam kandungan yang semakin berkembang. Bila ibu mengalami hal ini, sebaiknya segera beritahu dokter kandungan, terutama bila ibu tidak pernah mengalami sakit punggung sebelumnya. Ini karena nyeri punggung bisa menjadi pertanda persalinan prematur. Penyebab lain timbulnya nyeri punggung pada usia kehamilan 32 minggu adalah pertumbuhan rahim ibu dan perubahan hormonal."
Marsha tampak serius mendengarkan penjelasan dari Dokter Indri, apa yang dijelaskan oleh Dokter Indri sekarang setidaknya hampir sama dengan dulu yang dia rasakan saat mengandung Mira. Di mana semakin minggu mendekati hari perkiraan lahir, membuatnya terasa sesak dan engap, punggungnya juga terasa lebih sakit.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Dokter Indri.
"Tidak ... sudah jelas banget, Dokter. Terima kasih, saya jadi tambah banyak pengetahuan nih," balasnya.
Lantaran sudah tidak ada yang ditanyakan, perawat mulai membersihkan bagian perut Marsha dengan sisa-sisa USG Gell yang ada di sana, dan kemudian Dokter Indri mencetak foto hasil USG terlebih dahulu, dan kemudian memberikannya kepada Marsha.
"Maaf Bu Marsha, dulu sudah pernah saya beritahu jenis kelamin debaynya belum sih? Saya lupa," tanya Dokter Indri.
"Sudah kok Dokter ... cowok hasil USG bulan lalu," balas Marsha.
__ADS_1
"Oh, iya ... benar Bu Marsha. Tadi juga masih cowok yah, tidak ada perubahan," balas Dokter Indri.
Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan sesi konsultasi. Sembari Dokter Indri menuliskan resep di sana.
"Di trimester ini, justru hubungan suami istri diperbolehkan ya Bapak dan Ibu. Jika nanti, Bu Marsha ingin melahirkan secara normal, disarankan untuk melakukan hubungan suami istri yang bisa menguatkan otot-otot di pangkul dan nanti ada hormon prostalglandin di cairannya suami yang bisa menstimulasi kontraksi secara alami," jelas Dokter Indri lagi.
"Baik Dokter," balas Marsha.
Akhirnya pemeriksaan pun berakhir dan kemudian mereka kembali ke rumah dan juga Mira sudah mengantuk di sana. Sebenarnya juga kasihan karena setiap kali diajak memeriksakan kandungan, Mira selalu ketiduran dalam perjalanan pulang.
"Kasihan Mas, dia sudah kecapekan," balas Marsha.
"Benar Sayang ... nanti aku tidurkan Mira ke kamarnya. Kamu bersih-bersih saja di kamar kita," balas Abraham.
Rupanya benar ... begitu sudah sampai di rumah, Abraham segera menggendong Mira dan menidurkan putrinya itu ke dalam kamarnya. Sementara, Marsha memilih untuk bersih-bersih di dalam kamarnya.
Abraham pun perlahan membalik posisi Marsha membuatnya berhadap-hadapan dengannya, lantas Abraham menelisipkan untaian rambut Marsha ke belakang telinganya, "Kamu capek enggak Sayang?" tanyanya sembari mengedipkan matanya.
"Aku mau mandi Mas, gerah," ucapnya sembari menarik dirinya dan mengurai pelukan suaminya itu.
"Bareng aja yuk? Biar lebih cepat." balas Abraham.
"Modus deh pasti," Marsha lantas meninggalkan suaminya dan memasuki kamar mandi.
Wanita hamil itu tengah berdiri di depan wastafel dan selesai mencuci mukanya. Baru saja dia akan melolosnya dressnya, sebuah lengan kokoh telah melingkar di perutnya.
Marsha mengerjap, "Mas, kamu ngapain di sini?" tanyanya.
__ADS_1
"Mandi." sahut Abraham sembari memutar badan istrinya untuk menghadap kepadanya.
Dengan tenang, Abraham meloloskan dress bermotif floral yang dikenakan istrinya itu, hingga menampilkan tubuh istrinya yang kini semakin berisi. Kulit putih bersih dengan perut yang membuncit justru membuat Abraham semakin mengagumi kecantikan istrinya itu.
Usai meloloskan satu per satu pakaian istrinya, Abraham pun melepaskan pakaiannya sendiri. Ia menarik Marsha menuju shower box, menyalakan shower hingga kemudian gemericik air hangat turun membasahi keduanya.
Marsha memekik saat suaminya memutar tubuhnya untuk membelakanginya, membuatnya menghadap pada dinding pembatas shower. Pria itu menyelampirkan rambut panjang istrinya, lalu mengecupi bahu telanjang milik istrinya sembari tangan membelai perut buncit milik istrinya.
Marsha bisa melihat penampilan keduanya dari pantulan dinding shower box itu. Dalam keadaan basah di bawah guyuran air shower, nyatanya Abraham begitu menikmati memberikan sentuhan dan ciuman di bahu istrinya.
Bahkan kini tangan pria itu membelai dan meremas bongkahan bukit kembar yang kini kian berisi. Sentuhan yang membuat tubuh Marsha meremang seketika.
Marsha hanya memejamkan matanya, sebelah tangannya terangkat dan memegangi telapak tangan suaminya dan berusaha menyingkirkannya telapak tangan yang memainkan, meremas, memilin bagian puncak buah persiknya.
"Mas ...." ucapnya sembari berusaha menyingkirkannya telapak tangan itu.
"Hmm. Ya, Shayangku," hanya itu sahutan Abraham, tetapi telapak tangan itu masih bermain nyaman di sana.
Permainan yang membuat keduanya sama-sama kehilangan akal. Pikirannya seperti terselimuti kabut kenikmatan yang mereka berdua rasakan. Pria itu memutar badan Marsha, membuat wanita itu berhadapan dengannya. Pria itu kemudian meraup bibir istrinya itu memberikan ciuman yang dalam dan intens.
Pria itu kemudian sedikit mengangkat paha istrinya, mengalungkan ke pinggulnya. Dengan sedikit menahan nafas, ia membawa 'miliknya' memasuki cawan surgawi yang begitu hangat dan memabukkan. Bergerak perlahan dan mengedepankan kenyamanan dan tidak menekan perut istrinya, Abraham bergerak selembut mungkin.
Gerakan seduktif yang begitu lembut justru membuat Marsha mengalungkan tangannya di leher suaminya dengan erat. Perlahan hingga sedikit menghentak, pada akhirnya Abraham mencerukkan wajahnya di leher istrinya ketika mereka berdua telah sampai pada puncaknya.
"Love U Shayang," ucap pria itu dengan nafas yang terengah-engah dan masih memejamkan matanya.
Sementara Marsha turut memejamkan matanya dan menumpukan diri pada suaminya. "Love U Too, Mas," ucap Marsha dan kini memeluk erat suaminya.
__ADS_1
Tubuh yang bergetar hebat dan sama-sama basah di basah guyuran shower benar-benar membuat keduanya lepas dan hanyut, bersatu dengan gemericik air shower yang terus-menerus membasahi tubuh keduanya dari ujung kepala sampai ujung kaki.