Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Di Ujung Percikan


__ADS_3

Masih di Nava Studio, kini Abraham membawa Marsha untuk duduk di sofa. Pekerjaan Abraham memang terhenti karena kehadiran Marsha, tetapi Abraham sama sekali tidak masalah karena justru dia merasa begitu senang bisa kembali bertemu dengan Marsha. Lagipula, kemarin sepanjang hari Abraham menunggu dan sangat berharap bisa bertemu dengan Marsha, tetapi karena Melvin mengambil cuti sehingga Marsha membatalkan pertemuannya dengan Abraham.


“Kamu kemarin ngapain aja, Sha?” tanya Abraham kepada Marsha yang duduk di sampingnya.


“Di rumah saja, Bram … seperti biasa,” balas Marsha.


Dia memang tidak menjelaskannya secara gamblang, tetapi paling tidak Abraham tahu apa yang biasa dilakukan pasangan suami dan istri saat di rumah.


Abraham lantas menghela nafas, dan kemudian melirik Marsha dengan sorot matanya yang tajam saat ini.


“Dia menyentuhmu?” tanya Abraham.


Tentu bukan haknya untuk bertanyakan hal seperti ini. Lagipula, Melvin adalah suaminya Marsha, sehingga tidak masalah bukan jika Marsha disentuh oleh suaminya sendiri. Akan tetapi, dorongan di hatinya yang membuatnya berani menanyakan hal demikian kepada Marsha.


Marsha diam, tidak mampu untuk menjawab. Sebab, jika dia menjawab yang Marsha takutkan adalah justru jawaban itu bisa membuat Abraham terluka. Sekiranya, diam lebih baik, maka Marsha memilih untuk diam.


Abraham lantas menggenggam tangan Marsha, dan kemudian meremasnya perlahan. “Tidak perlu dijawab, jika memang tidak mau … lagian kalian kan suami dan istri. Sudah selayaknya saling menyentuh dan memuaskan hasrat satu sama lain.”


Itu adalah sebuah logika bahwa suami dan istri memang sudah selayaknya saling menyentuh dan saling memuaskan hasrat satu sama lain. Suami dan istri memiliki hak yang sama untuk kegiatan tersebut. Abraham hanya berpikir dengan logikanya sekarang. Sekali lagi ini adalah konsekuensi dari keikhlasannya untuk dimanfaatkan dan bermain hati dengan Marsha.


Walau konsekuensi itu pahit, tetapi Abraham akan menerimanya. Tidak dipungkiri ada hati yang terluka. Akan tetapi, jika memang itu adanya maka Abraham akan menjalaninya.


“Baiklah … aku akan mengedit beberapa file foto dulu, kamu tidak apa-apa kan sambil menungguku di sini?” tanya Abraham kepada Marsha.

__ADS_1


“Iya, tidak apa-apa,” balas Marsha.


Sebelum menuju ke meja kerjanya, Abraham berdiri di hadapan Marsha yang sedang duduk. Pria itu menundukkan badannya, dan kemudian mendaratkan kecupan di kening Marsha.


“Tunggu yah,” ucapnya sembari menarik wajahnya.


Marsha menganggukkan kepalanya, wanita itu duduk di sofa dan sekarang tengah memainkan handphonenya. Sekadar melihat postingan di Media Sosial atau melihat kabar dari dunia hiburan yang memuat seputar kabar dari suaminya, Melvin Andrian.


Sementara Abraham tengah mengedit hasil jepretan. Pria itu terlihat serius dengan Personal Computer yang berada di meja kerjanya. Menggunakan aplikasi untuk pengeditan foto, sesekali Abraham melirik ke Marsha yang duduk di sofa yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari meja kerjanya.


Menit demi menit berlalu, yang terdengar hanya suara tuts di papan ketik dan tetikus (mouse) yang digerakkan oleh Abraham. Sementara Marsha masih berselancar di media sosial, tidak masalah dirinya menunggu Abraham bekerja. Toh, daripada di rumah, Marsha justru hanya akan rebahan saja.


Hampir setengah jam berlalu, akhirnya Abraham menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu kemudian berdiri dan berjalan ke hadapan Marsha. Tanpa permisi Abraham yang sudah berada di hadapan Marsha, meraih dagu Marsha dan Abraham kembali memagut bibir Marsha.


Dalam keadaan terkesiap dan tidak mengira dengan tindakan yang Abraham lakukan, Marsha menghela nafas. Ciuman Abraham kali ini lebih memburu. Nafas yang mereka hirup terasa tipis dan membuat keduanya terengah-engah.


Pria itu menarik tengkuk Marsha untuk memperdalam ciumannya. Memberikan ciuman demi ciuman, memberikan pagutan demi pagutan, dan juga tak segan-segan untuk melu-mat bibir Marsha yang begitu ranum. Seolah-olah tidak ada hari esok lagi untuk mereguk manisnya rasa yang tersembunyi di dua belah lipatan bibir Marsha itu.


Ketika bibir saling bertemu, maka bisa dipastikan akan menghasilkan decakan yang merupakan alunan yang membuat Marsha dan Abraham seolah kian kepayang. Itu ciuman yang melenakan. Itu adalah sapaan hangat yang mampu membangkitkan gelenyar asing di dalam diri Marsha.


Ketika Abraham menyentuhnya, yang Marsha lakukan adalah menerima setiap sentuhan itu. Ketika Abraham menciumnya, yang Marsha lakukan adalah membalas ciuman itu. Marsha kian terengah-engah, dengan mata yang kian terpejam, wanita itu merasakan sapaan, belaian, dan usapan di bibir dan rongga mulutnya. Decakan yang mengalun bagai simfoni, kesan hangat, manis, dan basah menjadi sensasi indah yang bisa dirasakan oleh keduanya.


Kian memburu nafas Abraham, kian dalam juga ciumannya di bibir Marsha. Pria itu menggeram, benar-benar tersulut api. Hanya sekadar mencium bibir Marsha saja membuat Abraham menahan hasrat yang menggelora. Dirinya seolah bagai bola api yang bisa meledak kapan saja. Bahkan tangan-tangan Abraham kini bergerak dan memberikan usapan dan sedikit remasan di bahu Marsha. Tentu itu bukan sekadar usapan dan remasan, tetapi pria itu tengah menyentuh Marsha di titik-titik yang bisa menyulut gelenyar di tubuh wanita itu.

__ADS_1


“Ah, Bram,” ucap Marsha dengan nafas yang menderu. Sedikit menghirup oksigen untuk mengisi suplai udara di rongga paru-parunya membuat Marsha sedikit bisa bernafas.


Perjalanan bibir Abraham kini mulai meninggal bibir Marsha, bibir itu kini memberikan kecupan demi kecupan di pipi Marsha, di ujung dagu, dan kemudian bibir yang hangat dan basah itu meninggalkan jejak-jejak hangat dan basah di leher Marsha. Ya Tuhan, Marsha rasanya ingin menjerit. Dirinya benar-benar di ujung percikan. Sekadar menghentikan Abraham saja Marsha tidak bisa.


Bahkan bibir itu kini bermain-main di tulang belikat Marsha. Kecupan demi kecupan yang membuat Marsha meremang.


Ketika Abraham kian menundukkan wajahnya, dan hendak memberikan sapuan di area dada Marsha, dengan cepat Marsha menghentikan Abraham.


“Stop, Bram! Jangan,” ucapnya.


Wanita yang masih terengah-engah itu segera mendekap erat Abraham. Di ujung percikan yang dia rasakan, Marsha hanya bisa mendekap tubuh Abraham. Keduanya sama-sama terengah-engah.


“Maaf, Sha … aku hampir saja,” balas Abraham.


Pria itu membalas pelukan Marsha dan mengusapi puncak kepala Marsha. Di ujung percikan gairah yang tersulut dengan sendirinya. Untung saja, tidak terjadi yang hal lebih dari itu. Untung saja, Marsha masih menemukan kesadaran dan bisa menghentikan Abraham. Jika tidak, mungkin hubungan terlarang akan berlanjut ke kegiatan panas terlarang yang tidak akan bisa mereka hentikan.


Marsha menitikkan air mata sembari memejamkan matanya. Ada perasaan bersalah, ada perasaan berdosa, tetapi seolah tidaknya sudah masuk dalam pusaran hubungan terlarang yang terjalin antara dirinya dengan Abraham. Di batas ini, Marsha tidak tahu bagaimana caranya baginya untuk terlepas dari pusaran yang terus-menerus menghisapnya untuk melakukan hal-hal yang lebih terlarang bersama dengan Abraham.


Oh Tuhan, jika semua ini terlarang, kenapa aku justru menikmatinya?


Jika semua ini terlarang, kenapa hasrat ini benar-benar nyata?


Perasaan gila yang membuatku hampir gila …

__ADS_1


Semua ini melenakan, memabukkan, membuatkan berdiri di ambang jurang yang siap untuk menjatuhkanku hingga terjerembab ke dasarnya.


Marsha berkata pada dirinya sendiri. Tidak ada lagi yang bisa ucapkan sekarang, hanya mampu mendamaikan pergolakan di dalam hatinya. Hasrat terlarang yang kapan pun siap mengguncang dan menghilangkan kesadarannya.


__ADS_2