
Dua hari di Rumah Sakit benar-benar dihabiskan Marsha untuk belajar mengenai cara merawat bayi yang baru lahir yang dibimbing langsung oleh perawat di Rumah Sakit itu. Hal ini adalah maklum karena memang Marsha merasa belum begitu handal untuk memegang bayinya sendiri. Ada kalanya timbul rasa takut karena si bayi yang begitu mungil, terlihat rapuh. Sehingga untuk menyentuhnya saja memang harus ekstra hati-hati.
Sekarang untuk kali pertama Marsha sedang berusaha untuk memandikan bayinya, tentu didampingi oleh perawat. Sementara Abraham mengabadikan momen itu dengan kamera handphonenya. Ya, mengabadikan kali pertama Marsha belajar memandikan bayi Mira. Walau terlihat kikuk, tetapi justru di mata Abraham, sisi keibuan Marsha kian mempesona saja.
"Sudah ya Bu Marsha? Sekarang tinggal bilas busa sabun di badan bayi," intruksi dari perawat.
Marsha menganggukkan kepalanya, dan berusaha melakukannya perlahan. Sebisanya mungkin berhati-hati supaya tidak menyakiti bayinya.
"Saya masih takut tali pusatnya ini, Suster ... ngeri kalau sampai menyakiti babynya," aku Marsha.
Itu karena masih ada potongan tali pusat yang menempel di bagian pusar si baby. Sehingga saat memandikan Marsha begitu takut jika tangannya mengenal bagian itu.
"Tidak apa-apa, Bu ... hanya saja kitanya yang lebih berhati-hati. Nanti kalau sudah terbiasa, akan lebih enak, Bu," jawab perawat itu.
Setelah memandikan, kemudian tubuh Baby Mira pun dibersihkan dengan handuk. Namun, Marsha melihat masih ada bagian di rambut putrinya yang masih kurang bersih. Untuk itu, Marsha kembali bertanya kepada perawat.
"Di bagian rambut ini kok masih ada yang menempel ya Suster? Ini bagaimana hilangnya?" tanya Marsha.
"Ini sisa-sisa dari air ketuban yang memang menempel di tubuh bayi. Nanti kalau sudah sering mandi dan keramas, perlahan akan hilang kok, Bu ... cuma jangan dibersihkan dengan paksa atau menggunakan kuku tangan. Sebab, kulit bayi sangat sensitif," jelas perawat itu.
"Oh ... jadi nanti bisa hilang sendiri yah? Baik, Suster," jawab Marsha.
Kemudian Marsha juga memberikan minyak telon di tubuh Mira, memakaian diapers tipe perekat dan juga memakaikan pakaian untuk bayinya itu. Dengan hati-hati Marsha melakukan semuanya itu, sementara Abraham masih saja mengambil video aktivitas istrinya itu. Sesekali Abraham juga tersenyum sendiri melihat aktivitas Marsha sebagai seorang Ibu.
__ADS_1
"Sudah benar ya Suster?" tanya Marsha.
"Sudah Bu ... sekarang kita bedong yah, supaya tubuh si Baby bisa hangat," jawab perawat itu.
Marsha menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti instruksi dari perawat itu untuk membedong bayinya. Belajar seperti ini memang hal baru dari Marsha. Oleh karena itu, rasanya begitu menyenangkan, tetapi Marsha yakin bahwa dirinya juga masih membutuhkan waktu untuk terus belajar supaya lebih handal.
Setelah selesai semuanya, perawat itu pun keluar dan menyuruh Marsha untuk memberikan ASI terlebih dahulu kepada Baby Mira. Marsha yang sudah dilepas jarum infusnya pun bisa leluasa bergerak dengan menggunakan kedua tangannya dan mengasuh si bayi. Seolah Marsha mengingat kembali bagaimana posisi dan perlekatan yang benar saat memberikan ASI. Hingga akhirnya, tanpa kesulitan, dia bisa memposisikan Baby Citra untuk meminum ASI dengan benar.
"Sudah pinter banget sih," ucap Abraham yang sudah menyelesaikan mengambil rekaman aktivitas istrinya sendiri.
"Hehehehe ... masih perlu belajar Mas," jawab Marsha.
"Itu tadi aja sudah pinter. Cuma memang merawat bayi itu latihan Shayang ... menurutku kamu udah jago sih. Nanti agak sore kita pulang ke unit kita ya Shayang?" ajak Abraham kepada Marsha.
"Aku sudah menelpon Mama kalau kita akan pulang sore ini, jadi yah Mama sudah memasak di rumah. Semua administrasi sudah aku bayar, tinggal menunggu obat kamu saja," balas Abraham lagi.
"Habis banyak Mas?" tanya Marsha. Wanita itu hanya bertanya apakah persalinannya mengeluarkan biaya yang mahal.
Akan tetapi, Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak ... kan tercover sama asuransi, Shayang ... tinggal bayar yang tidak tercover sama asuransi dan naik kelas ini saja. Dari kelas 1 ke kelas VIP," jelas Abraham.
Sedikit banyak Marsha bersyukur jika memang tidak terlalu mengeluarkan biaya banyak untuk persalinannya. Sebab, Marsha sedikit tahu bahwa persalinan di Jakarta itu cukup mahal. Terlebih lagi dengan fasilitas Rumah Sakit yang sekarang dia tempati membuat Marsha pun menerka bahwa persalinan di Rumah Sakit ini cukup mahal.
"Kalau normal sih hitungannya masih murah, Shayang ... kalau Caesar itu yang mahal. Cuma, ya aku tidak masalah. Aku sudah siap semuanya," balas Abraham.
__ADS_1
Sebagai seorang suami, Abraham tak ingin membebani Marsha. Sebab, Abraham memang jauh-jauh hari juga sudah menabung untuk persalinan istrinya. Lagipula, sudah menjadi tugas dan tanggung jawabanya sebagai seorang pria.
"Makasih banyak ya Mas ... makasih sudah memberikan yang terbaik untuk aku dan juga Baby Mira. Terima kasih banyak, Papa," ucap Marsha dengan tersenyum menatap suaminya itu.
"Sama-sama Shayangku ... sama-sama putri kecilku," balas Abraham. Setelahnya, Abraham pun menatap kepada Sara, "Kapan-kapan ajarin aku gendong ya Shayang ... aku juga pengen gendong Mira," ucapnya.
"Iya, siap ... nanti diajarin pelan-pelan ya Papa," balas Marsha.
Kini tangan Marsha bergerak dan memberikan usapan yang lembut di kening Mira, sungguh rasanya Marsha begitu sayang kepada putri kecilnya itu.
"Cantik banget ya Mas ... tidak mengira putri kita secantik ini," ucap Marsha.
"Ya, ngira dong Shayang ... Mamanya aja cantik banget. Udah, si Baby ngikutin Mamanya yang memang cantik," balas Abraham dengan tertawa.
Sementara Marsha pun terkekeh geli mendengar ucapan Abraham itu, "Cuma, ini mirip kamu loh, Mas ... apalagi hidung dan dagunya ini mirip kamu banget," ucapnya.
Abraham mendekat dan kemudian mengamati wajah putri kecilnya itu, "Lucu banget ... kayaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama deh sama bayi kita. Cantik banget ... Papa sayang banget sama kamu, Sayang ... Papa akan selalu menjaga kamu sampai kamu dewasa nanti," ucap Abraham.
"Makasih Papa ... i'll always be Daddy's little girl," sahut Marsha.
"Benar banget Shayang ... dia akan selalu menjadi putri kecilku. Menjadi kesayanganku," balas Abraham.
Abraham mengucapkan itu dengan hati yang benar-benar membuncah dengan kebahagiaan. Memiliki Marsha sebagai pendamping hidupnya dan memiliki Mira sebagai putri kecilnya, Abraham merasa ini adalah masa yang indah. Memiliki anak mengubah hidup seorang pria, begitu pula untuk Abraham. Hadirnya Mira memberikan bias sinar tersendiri dalam hidupnya.
__ADS_1