Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Cinta Tanpa Restu


__ADS_3

Selang dua hari telah berlalu, itu artinya sudah dua hari pula Marsha menyandang status sebagai seorang janda. Marsha sudah berdamai dengan keadaannya sekarang, sepenuhnya ikhlas karena Marsha pun yakin bahwa masa depan pernikahannya bersama Melvin pun akan terasa suram. Sehingga, perceraian memang adalah jalan terbaik yang harus mereka ambil.


Selain cinta yang perlahan memudar, ketidaksetiaan juga turun mewarnai pertikaian rumah tangga Marsha dan Melvin, juga sikap kasar Melvin yang turut memercik pertikaian di antara keduanya. Walau pun beberapa kali, Marsha masih merenung, tetapi Marsha selalu meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa dia baik-baik.


Layaknya sebuah lagu yang dulu dia kumandangan saat putus dari Abraham, kini lagu itu pun terngiang-ngiang di telinganya.


Dunia belum berakhir, walau kau ceraikan aku!


Ya, meratapi biduk pernikahan yang kandas tak ada guna. Kini Marsha harus memulai hidupnya kembali. Ada dan tiada sosok Melvin, Marsha harus melanjutkan hidupnya. Dunia belum berakhir, masih banyak mimpi yang dia gapai di masa depan.


Ketika Marsha sedang duduk termenung di kursi sofa itu, tiba-tiba saja terdengar bunyi deringan handphone milik Marsha. Wanita itu tersenyum saat yang menelponnya adalah Abraham. Tidak perlu menunggu waktu lama, Marsha pun segera menggeser ikon berwarna hijau di layar handphonenya itu.


“Halo Bram,” sapanya begitu panggilan itu terhubung. Marsha mendekatkan handphone itu ke telinganya dan mengurai senyuman di wajahnya, saat Abraham menelponnya.


“Sha, kamu baru ngapain?” tanya Abraham.


“Baru duduk-duduk saja, kenapa?” tanya Marsha.


“Turunlah ke unitku … aku belikan makan malam untukmu. Kita bisa makan bersama,” ucap Abraham.


Rupanya ketika pulang dari studio foto miliknya, Abraham mampir ke salah satu tempat makan dan membelikan makan malam untuk mereka berdua. Nasi Goreng, Ayam Kuluyuk, dan Kwetiau Goreng yang Abraham beli sekarang ini.


“Aku tidak lapar,” balas Marsha.


Bukan berniat membatasi makan, hanya saja sekarang Marsha memang merasa tidak lapar.


“Aku tunggu lima menit yah … aku tunggu. Kalau sampai kamu tidak datang dalam sepuluh menit, aku akan naik ke atas dan menciummu,” balas Abraham kali ini.

__ADS_1


Ya Tuhan, hanya sebatas mendengarkan suara Abraham yang mengancam akan menciumnya saja membuat Marsha panas dingin rasanya. Sehingga kali ini, Marsha memilih untuk turun dan menyambangi unit milik Abraham.


“Baiklah, aku turun sekarang yah,” balas Marsha.


Wanita itu menutup telepon dari Abraham, dan mulai menggunakan lift untuk turun ke lantai 12, ke unit milik Abraham. Walau hanya turun dua lantai, Marsha tetap menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Rupanya saat Marsha hendak menekan bel di unit milik Abraham. Pintu sudah terbuka, ada Abraham yang tersenyum menatap Marsha.


"Hei, Sha … Yang," sapa pria itu.


Tentu saja Marsha begitu malu, terlebih sepenuhnya Marsha tahu bahwa Abraham sudah terang-terangan mengatakan bahwa dia mencintainya. Hanya saja Marsha yang masih perlu menata masa depannya. Memikirkan semuanya dengan matang.


"Bram," balas Marsha. Wanita itu tersenyum dan melangkahkan kakinya memasuki unit apartemen milik Abraham.


Pria itu segera menutup pintu, dan kemudian mendekap tubuh Marsha begitu saja dari belakang. Pria itu menaruh dagunya di bahu Marsha, "Aku kangen," ucapnya dengan kian mengeratkan dekapannya.


Marsha membawa kedua tangannya bertumpu pada tangan kokoh Abraham yang melingkari pinggangnya itu. Sedikit memulas senyuman di wajahnya. Rasanya begitu nyaman didekap Abraham seerat ini.


"Padahal kita lebih sering bertemu," sahut Marsha.


Abraham kemudian mengurai pelukannya, menggandeng tangan Marsha dan membimbing wanita itu menuju ke meja makan. Semua makanan yang sudah dia beli, sudah tersaji di sana.


"Yuk, makan dulu," ucap Abraham.


Pria itu memperlakukan Marsha dengan begitu manis, bahkan Abraham juga menarik kursi dan mempersilakan Marsha untuk duduk. Perhatian demi perhatian yang Abraham berikan tentu saja adalah bentuk perhatian yang disukai para kaum Hawa, termasuk Marsha.


Tak ingin hanya dilayani kayaknya ratu. Marsha kemudian mengisi piring kosong Abraham dengan makanan yang tersaji di sana. Tidak lupa, Marsha mengisi gelas kosong milik Abraham dengan air putih. Setelahnya, barulah Marsha mengambil untuk dirinya sendiri.


"Selamat makan," ucap Abraham yang mempersilakan Marsha untuk makan.

__ADS_1


Marsha yang semula tidak berniat makan, kini dia justru menikmati makan malamnya. Dibarengi obrolan-obrolan hangat bersama Abraham membuat Marsha justru makan dengan lebih lahap.


"Pelan-pelan makannya … sampai belepotan kayak gini sih," ucap Abraham yang menyeka noda saus dari Ayam Kuluyuk yang ada di sudut bibir Marsha.


Marsha tersenyum saat jari telunjuk Abraham menyentuh bibirnya dan berusaha menyeka noda saus di sana. Namun, segera Marsha mengambil tissue dan menyeka noda saus itu dengan menggunakan tissue.


"Makasih Bram," jawabnya.


"Sama-sama … katanya tadi enggak laper, sekarang makannya lahap banget sih," ucap Abraham.


Marsha tersenyum, memang benar beberapa saat yang lalu dirinya tidak berselera makan. Akan tetapi, justru Marsha makan dengan lahapnya. Terkhusus Ayam Kuluyuk yang dibelikan Abraham memiliki cita rasa yang benar-benar enak. Membuat Marsha ingin makan banyak.


Hampir setengah jam berlalu, keduanya menghabiskan makanan itu sampai tandas. Kemudian Marsha segera berdiri dan hendak mencuci peralatan makan yang baru saja mereka pakai. Abraham pun turut membantunya, ada kalanya pria itu berdiri di belakang Marsha, tampak seperti memeluknya dari belakang, tangannya turut membilas peralatan makan yang usai mereka kenakan.


“Kelihatan kalau kita menikah, kita bisa membangun rumah tangga yang harmonis deh, Sha,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.


Lagi-lagi senyuman terbit di wajah Marsha. Rasa nyaman tiap kali bersama dengan Abraham benar-benar membuat lebih banyak tersenyum. Hatinya pun merasa hangat dengan setiap perlakuan baik yang diberikan Abraham kepadanya.


Sampai tidak berselang lama, terdengar bunyi bel dari pintu unit milik Abraham. “Sebentar yah, aku lihat dulu siapa yang datang,” ucap Abraham.


“Biar aku saja, Bram,” sahut Marsha karena saat itu semua peralatan makan juga sudah selesai dia cuci.


“Baiklah,” sahut Abraham.


Marsha pun segera beranjak dari dapur dan berniat untuk membuka pintu. Wanita itu masih mengulas senyuman di wajahnya, dan kemudian membuka pintu itu perlahan. Senyuman yang semula terpulas indah di wajahnya pun perlahan sirna. Tergantikan dengan ketegangan dan lidah terasa begitu kelu saat ini.


“Tante Diah?”

__ADS_1


“Marsha?”


Kedua wanita itu sama-sama terkejut. Tidak mengira setelah sekian waktu berlalu, dan kini keduanya kembali lagi dipertemukan. Tante Diah adalah Mama dari Abraham. Wanita yang di masa lalu pernah tidak merestui hubungan Marsha dengan Abraham. Untuk itulah, Marsha saat itu yang masih begitu mencintai Abraham akhirnya memilih memutuskan pria itu. Ketika cinta tanpa restu, jalan yang diambil Marsha beberapa tahun yang lalu adalah memutuskan Abraham.


__ADS_2