Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Tawaran Kerja Sama


__ADS_3

Menjelang acara ulang tahun yang akan dimulai, tampak pasangan suami istri dengan menggendong seorang anak dan menggandeng anak kecil memasuki tempat acara. Pasangan yang terlihat begitu serasi dengan mengenakan pakaian berwarna biru.


Beberapa karyawan pun berdiri dan segera menyapa, menyalami pasangan muda yang baru saja masuk itu. Marsha pun turut menoleh dan melihat siapa sebenarnya yang baru saja datang. Akan tetapi, melihat dari para karyawan yang berdiri dan memberikan salam, Marsha menerka bahwa mungkin saja inilah sang Empunya Acara, Pak Belva dan istrinya.


Abraham pun mendekat ke Marsha, “Shayang … itu loh Pak Bos Belva dan istrinya. Lihat tuh, dua jagoannya lucu-lucu yah,” balas Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Serasi banget ya Mas … yang satu cakep dan istrinya cantik. Anak-anaknya juga cakep-cakep. Ya ampun, games banget Mas … itu yang digendong Mamanya, matanya bulat dan bulu matanya lentik banget,” ucap Marsha.


Refleks, ibu hamil itu pun mengusapi perutnya yang membuncit sendiri. Rasanya begitu gemas dan suka dengan Elkan yang tengah digendong Mamanya. Menurut Marsha, Elkan memiliki bulu mata yang lentik. Begitu tampan. Walaupun Evan juga sama tampannya, hanya saja bulu mata Elkan yang lentik begitu disukai Marsha.


“Digendong sendiri enggak memakai babysitter ya Mas?” tanya Marsha lagi.


“Enggak Shayang … Bu Sara memilih tidak memakai babysitter. Semuanya dikerjakan sendiri, terutama pengasuhan anak. Dari lahir semuanya dipegang sendiri sama Bu Sara,” balas Abraham.


Mendengar apa yang baru saja diucapkan suaminya, Marsha agaknya kagum dengan sosok Sara. Wanita cantik, pembawaannya kalem dan tidak sombong, dan tentunya mau mengasuh anaknya sendiri. Sangat jarang, seorang istri CEO dengan aset milyaran Rupiah memilih mengasuh bayinya sendiri. Tidak jarang para keluarga kaya raya memilih menggunakan jasa babysitter.


“Keren banget,” gumam Sara dengan lirih.


Tidak berselang lama, Belva dan keluarga pun mengambil foto terlebih dahulu, dan Abraham dengan lihainya mengarahkan gaya untuk keluarga kecil itu. Membidik dengan kamerannya. Beberapa pose pun diambil. Dekorasi yang meriah, dan senyuman keluarga kecil itu yang begitu lebar dan menunjukkan betapa bahagiannya.


“Oke, Pak Bos, sudah!” Abraham berteriak dan mengatakan untuk fotonya sudah selesai.


“Sama siapa Bram?” tanya Belva secara langsung kepada Abraham.


“Sama Istri, Bos,” balasnya dengan menunjuk Marsha yang duduk.


Atensi Belva dan Sara pun melihat ke wanita cantik dengan perut yang membuncit itu. Kemudian mereka pun berkenalan.


“Perkenalkan Pak Bos dan Bu Sara, ini istri saya,” ucap Abraham.


Marsha pun berdiri dan menganggukkan kepalanya, kemudian berjabat tangan dengan Belva dan juga Sara.


“Perkenalkan saya Marsha, istrinya Mas Bram,” ucap Marsha memperkenalkan dirinya.


“Halo, salam kenal juga,” sahut Belva dan Sara bergantian.


Setelahnya Belva menemui para karyawan dan beberapa rekan pengusaha yang juga datang. Sementara Sara berbicara sejenak bersama Marsha.


“Ikut Mas Abraham yah?” tanya Sara.


“Iya Bu … diajakin kemarin, jadi ya saya ikut,” balas Marsha dengan tersenyum.

__ADS_1


“Iya tidak apa-apa. Bisa lihat keseruan anak-anak di sini. Dinikmati saja ya pesta ulang tahunnya. Acara anak-anak biasanya akan riuh, enjoy aja,” balas Sara.


Setelahnya acara ulang tahun dimulai dengan seorang MC yang didatangkan dari kalangan selebritis untuk memandu jalannya acara. Begitu banyak hadiah doorprize yang diberikan kala itu. Semua anak-anak sangat senang, Evan dan Elkan pun berbaur dengan teman-temannya.


Hingga akhirnya, hampir dua jam acara berjalan dan berakhir. Begitu beberapa tamu sudah pulang, nyatanya Sara kembali mendatangi Marsha.


“Baru ngapain nih? Maaf yah, pesta anak-anak jadi yang datang banyak anak-anaknya,” ucap Sara yang mengambil duduk di samping Marsha dengan memangku Elkan.


“Baru nungguin Mas Bram saja, Bu … soalnya di sini juga tidak ada yang saya kenal, heheheh.” Marsha menjawab dengan tertawa, kedatangannya di situ sepenuhnya memang hanya ingin mengikuti Abraham saja. Bosan di apartemen, dan berakhir dengan mengikuti Abraham dan kru dari pegawai di studio foto milik Abraham yang bertugas di lokasi acara.


“Kan kita sudah kenalan, jadi kenal dong sama saya,” balas Sara dengan tertawa. “Santai saja … tidak usah terlalu sopan dan formal sama saya, dari umur mungkin saya hanya beberapa tahun di atas kamu,” balas Sara.


Marsha pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Iya Bu Sara … terima kasih, iya, tadi sudah kenalan sama Bu Sara … jadi, sekarang sudah kenal,” balas Marsha dengan tersenyum. Dari perkenalan pertama saja, Marsha sudah berpikir bahwa istri sang CEO ini adalah orang yang baik.


Setelahnya, Sara tampak sedikit mengamati wajah cantik Marsha. Sungguh, dengan kondisi hamil dan tanpa make up berlebih, Marsha terlihat begitu cantik. Namun, kenapa wajah Marsha ini pernah dia lihat sebelumnya. Di mana? Sara pun berusaha untuk mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan Marsha.


Beberapa saat mengingat, akhirnya Sara pun ingat. Ya, Marsha adalah seorang model yang hampir satu tahun yang lalu namanya trending di mesin pencarian dan Twitter.


“Maaf, apa benar … kamu Marsha Valentina? Hmm, kalau tidak salah hampir satu tahun yang lalu ….”


Ucapan Sara terpotong karena Marsha segera menyahutnya.


Bagaimana pun masa lalu yang dahulu sudah dilihat banyak orang, sehingga untuk mengelak pun rasanya sukar. Daripada berbohong atau menghindar, Marsha memilih mengakuinya. Toh, masa lalu tidak bisa diubah, tetapi semua sudah tertinggal di belakang karena kini Marsha bisa mengubah masa depannya bersama dengan Abraham. Menatap masa depan dengan pria yang tulus dan sangat mencintainya, Abraham. Untuk itu, tidak ada keraguan lagi di dalam diri Marsha.


“Tidak apa-apa Marsha. Semua orang punya masa lalu. Biarkan masa lalu tetap berada di belakang, dan kamunya yang harus terus berjalan ke depan,” ucap Sara yang memberikan motivasi kepada Marsha.


Mendengar apa yang baru saja Sara ucapkan, hati Marsha terasa hangat. Wanita yang ada di hadapannya ini memang luar biasa. Tidak hanya cantik, istri seorang CEO, pebisnis waralaba, tetapi juga seorang wanita yang sangat baik. Menurut Marsha, rasanya Belva Agastya sangat beruntung memiliki Marsha sebagai istrinya.


“Makasih Bu Sara … maaf, kalau dulu pasti Ibu lihat wajah saya dan nama saya jadi tagline di berbagai media infotainment yah?” tanya Marsha dengan tertawa.


“Iya … saat itu trending sekali. Hampir di semua berita infotainment di televisi keluar. Wah, jadi ini aku beruntung bertemu dengan artis dong,” sahut Sara dengan terkekeh geli.


“Ah, saya bukan artis, Bu … saya sebenarnya model dan sudah lama hiatus,” balas Marsha.


“Marsha, mau tidak jadi model untuk Coffee Bay?” tanya Sara kemudian.


Agaknya sudah sekian tahun berjalan, dan kini saatnya melakukan branding dengan waralaba miliknya. Melihat Marsha, rasanya Sara ingin menjadikan Marsha sebagai brand Ambassador Coffee Bay.


“Reputasi saya tidak bagus di pasaran di Sara … publik terlanjur menghakimi saya dulu. Saya takut kalau itu justru menjatuhkan brand Ibu Sara,” jawab Marsha dengan jujur.


Ada gelengan samar dari kepala Sara, “Itu hanya penilaian publik. Bagi saya, tidak masalah. Lagipula, saya mau launching untuk toast. Bisa enggak melibat Bumil ini sebagai BA Coffee Bay & Toast?” tanya Sara kemudian.

__ADS_1


Sebenarnya tawaran ini cukup membahagiakan untuk Marsha. Mengingat dirinya yang tidak lama lagi melahirkan, tentu ini menjadi berkah tersendiri bagi bayinya.


“Saya coba obrolkan dengan suami dulu ya Bu … kesepakatannya bagaimana, nanti kami akan menemui Bu Sara. Bu Sara yakin, mau memakai saya sebagai BA? Mengingat buruknya reputasi saya di masa lalu?” tanya Marsha lagi meyakinkan Sara.


“Tidak masalah, Marsha … apa pun hasilnya kita lihat nanti. Bisnis pun pertaruhan. Bisa melejit, dan juga bisa jatuh. Santai saja, jangan merasa terbebani,” balas Sara.


Belum selesai Sara dan Marsha berbicara, Belva sudah datang menghampiri istrinya itu dengan menggandeng tangan Evan.


“Mama … Sayang, kami nyariin loh,” ucap Belva.


“Mama, Evan nyariin Mama,” teriak Evan dengan menghambur untuk memeluk Sara.


“Ini Nak … Mama baru ngobrol sama Onty Marsha,” balasnya.


Marsha tersenyum, melihat formasi lengkap keluarga Belva Agastya yang terasa hangat dan juga penuh cinta membuatnya ingin juga memiliki keluarga kecil yang hangat seperti ini.


“Hai Onty,” sapa Evan dengan ramah.


“Hai … nama kamu siapa?” balas Marsha.


“Namaku Evan, Onty … aku Kakaknya Elkan,” balas Evan yang dengan bangga mengenalkan dirinya sebagai Kakaknya Elkan.


“Pinter banget sih Evan,” sahut Marsha.


Setelahnya, Abraham pun menyusul untuk bergabung dengan memanggul tas khusus kamera DSLR di bahunya.


“Pak Belva, sudah semua yah? Nanti aku cek dan edit fotonya dulu ya Pak Belva,” ucap Abraham,


“Iya, seperti biasa saja ya Bram,” balas Belva.


Kemudian Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Siap Pak Bos,” balasnya dengan mengangkat tangan tanda hormat.


Di kesempatan ini juga, Sara kembali mengucapkan itikad baiknya. “Mas Abraham, saya mau memakai Marsha sebagai Brand Ambassador Coffee Bay boleh tidak? Sudah bertahun-tahun dan memerlukan re-branding,” ucap Sara.


Belva pun tersenyum melihat istrinya yang langsung melakukan kerja sama dengan Marsha itu. Sedikit mengamati cara pendekatan istrinya itu sebagai pemilik waralaba Coffee Bay itu.


“Kalau saya, tidak masalah sih Bu Sara … saya mendukung keputusan istri saja,” balas Abraham.


Belva kemudian berdehem, “Kalian berdua yang jadi BA-nya juga tidak masalah … nanti untuk harga bisa ngobrol sama saya,” balas Belva.


Hingga akhirnya, mereka pun tertawa. Ajang pesta ulang tahun yang justru dimanfaatkan untuk menjalin kerja sama bisnis. Rasanya menggelikan, tetapi kesempatan tidak akan datang dua kali bukan?

__ADS_1


__ADS_2