Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Lika-Liku Kehidupan


__ADS_3

Ketika membagikan oleh-oleh kepada Bu Sara, rupanya banyak yang mereka obrolkan. Secara khusus tentang kehidupan. Kali ini, Abraham dan Sara pun seakan melihat sisi lain seorang Sara yang adalah orang yang sederhana. Mereka juga tidak percaya jika dulu, Bu Sara terbiasa makan Nasi Kucing. Nasi putih yang dibungkus dengan sedikit sambal dan bandeng itu menjadi makanan yang biasa disantap oleh Sara. Tidak mengira, bahwa sekarang Sara bisa menjadi seorang istri CEO dan pemilik waralaba yang beberapa meraih brand choices awards.


“Bu Sara dulu pernah hidup susah yah?” tanya Marsha kemudian.


Ternyata di sana Bu Sara pun langsung menganggukkan kepalanya, “Iya … dulu. Bertahan hidup sendiri, karena Mama dan Papa sudah tiada. Hidup sebatang kara, dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Kalau sehari-hari bisa makan Nasi Kucing dan Pecel Lele sudah nikmat sekali,” cerita Sara kepada Marsha dan Abraham.


Ketika Bu Sara tengah bercerita, rupanya ada suaminya yaitu Pak Belva yang turut mendengarkan. Pria itu tersenyum, dan kemudian mengambil tempat duduk di sisi istrinya.


“Itu masa lalu, Yang … sekarang, kamu bisa makan apa pun yang kamu mau,” balas Belva.


“Mas, kok tiba-tiba ke sini sih? Katanya tadi ada kerjaan,” balas Sara.


Belva pun tersenyum, “Aku nungguin kamu tadi. Rupanya kamu baru ngobrol di sana sama Bram dan istrinya,” balas Belva.


Abraham pun tersenyum, “Maaf ya Bos … jadi mengganggu,” balasnya.


Dengan cepat Belva pun menggelengkan kepalanya, “Santai saja … gimana, sudah selesai liburannya? Sudah lebih tenang dong?” tanya Belva kemudian.


“Lumayan Bos … setidaknya pemberitaan di media sudah mereda,” balas Abraham.

__ADS_1


Sara pun lantas menatap Marsha di sana, “Kamu kuat ya, Sha … tidak mudah menjadi kamu. Walau sudah tidak bersamanya, tetapi nama kita masih dibawa-bawa, masih disangkut-pautkan. Seolah kita kehilangan privasi. Aku yakin, kamu adalah wanita yang kuat,” ucap Sara sekarang ini kepada Marsha.


“Iya Bu Sara … tapi ya bagaimana lagi. Jejak digital tidak bisa dihapus. Walau saya sudah menghapuskan, mereka masih memiliki back-up-nya. Jadi ya, sudah … setidaknya bisa lebih tenang, dan dia sudah mendapatkan hukuman,” balas Marsha kemudian.


“Mas Bram tidak apa-apa kan?” tanya Sara kemudian.


“Tidak apa-apa Bu Sara … sebenarnya, Melvin Andrian itu adik saya. Kami satu Papa, hanya beda Mama,” jelas Abraham.


Mendengar apa yang disampaikan Abraham, baik Belva dan Sara tampak terkejut. Tidak mengira bahwa misteri illahi begitu kejamnya, membuat Abraham adalah kakak dari Melvin, walau mereka berbeda ibu.


“Serius?” tanya Belva kemudian.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Iya Bos … jadi, kalau dulu misal saya jadi berantem sama dia, itu artinya saya berantem sama adik saya sendiri,” balas Abraham.


“Untung kalian memiliki karakter yang berbeda,” balas Belva.


“Itu karena Mama-Mama kami juga mendidik dan membesarkan anaknya berbeda. Ya, saya tidak tahu dulu bagaimana dia dididik dan dibesarkan. Hanya saja, kalau Mama saya, ya kami hidup sederhana. Nilai dan norma itu dijunjung tinggi sama Mama. Dari saya kecil, Mama yang bekerja dan mengurus saya. Mungkin hidup saya sama seperti Bu Sara dulu, bisa makan setiap hari, sekolah setiap hari saja sudah beruntung banget,” balas Abraham.


Kali ini Sara yang tersenyum, “Cuma Mas Abraham mengincipi bangku kuliah, aku tidak sama sekali,” balasnya.

__ADS_1


Nah, giliran Marsha dan Abraham yang kali ini menjadi terkejut. Tidak mengira bahwa wanita cantik di hadapannya ini rupanya juga tidak pernah mengincipi bangku kuliah.


“Bu Sara pendidikannya sampai apa?” tanya Marsha.


“Hanya SMA, Sha … begitu lulus dan dapat ijazah, aku langsung bekerja. Sedih banget kalau inget waktu itu, ketika aku akan UAN, Mama dan Papa kecelakaan dan tiada. Bayangkan, hari pertama mengikuti UAN, rasanya aku hampir gila,” cerita Sara pada akhirnya.


Cerita ini pun baru Belva dengar sekarang. Tidak menyangka kisah sedih istrinya begitu pilu. Juga, cerita kali ini belum pernah Sara ceritakan sebelumnya. Sampai Belva menatap wajah istrinya di sana.


“Ya ampun, Bu Sara … Bu Sara juga kuat banget yah,” balas Marsha yang tampak shock.


“Bukan kuat sih, Sha … kadang hanya sok kuat saja. Habis bagaimana lagi, mau tidak mau harus mengikuti UAN, dan juga aku butuh ijazah biar bisa segera kerja. Ya, makanya tadi aku bilang, aku setuju dengan perkataan Mas Bram yah … lika-liku hidup itu tidak pernah ada yang tahu. Misalnya hidupku sendiri, banyak kesusahan hidup yang aku alami, pernah sehari itu tidak bisa makan. Atau makan menunggu pemberian Om dan Tante, adiknya Mama. Sehingga ketika aku memiliki uang dalam nominal yang banyak, yang aku pikir aku akan menggunakannya untuk hal yang berguna, makanya aku bisnis makanan dan minuman, supaya aku bisa memberi makan kepada mereka yang membutuhkan,” cerita Sara.


“Luar biasa Bu Sara,” balas Marsha dan Abraham bersamaan.


Bu Sara pun tersenyum di sana, “Ya, itulah hidupku. Yang sebenarnya biasa-biasa saja. Penuh air mata kalau melihat ke masa lalu. Cuma, ya itu aku mau untuk berproses. Jatuh bangun dalam bisnis, aku juga mengalaminya, sehingga aku tidak ragu. Aku mau belajar, ketika aku jatuh sembilan kali, maka aku akan bangkit sepuluh kali. Tidak apa-apa,” balas Sara.


Marsha, Abraham, dan Belva yang mendengarkannya pun merasa kagum dengan sosok Sara. banyak kisah pilu yang Sara hadapi, tetapi benar, setiap kali wanita itu jatuh, maka di saat itu juga Sara akan bangkit. Walau tenaga rasanya sudah habis terkuras, tetapi Sara tidak ragu untuk bangkit dan mencoba.


“Bersyukur kami mengenal Bu Sara,” balas Abraham kemudian.

__ADS_1


“Gimana Bram, jadi keluarga kami saja … jodohkanlah Mira dengan putraku,” pinta Belva kali ini.


Seluruh orang yang ada di sana pun tertawa. Ya, Marsha, Sara, dan Abraham sama-sama tertawa. Tidak mengira bahwa seorang Belva Agastya menawarkan hal tersebut kepada Abraham.


__ADS_2