
Sementara itu, di tempat yang berbeda Melvin kini tengah menuju ke sebuah apartemen yang sudah cukup lama tak dikunjunginya. Apartemen siapa lagi kalau bukan milik Lista? Seorang wanita yang sudah layaknya wanita simpanan untuk aktor itu. Melvin dengan wajah cerah agaknya bersiap untuk mengunjungi Lista setelah sekian lama.
Menuju ke lantai 14 di apartemen itu, Melvin memakai topi dan masker yang menutupi separuh wajahnya sudah menekan bel pintu unit milik Lista. Pria itu datang bukan dengan tangan kosong. Melainkan dengan membawa sebotol sampanye di tangannya. Agaknya malam hari ini, Melvin benar-benar ingin merayakan kebebasannya bersama dengan Lista. Sedikit Sampanye akan menciptakan rasa manis tersendiri.
"Melvin," sapa Lista setelah berbulan-bulan lamanya tidak bertemu dengan Melvin.
Ya, pertemuan terakhir Lista dengan Melvin adalah sudah beberapa bulan yang lalu, saat terjadi sebuah hubungan di bilik suami istri yang ada di Lapas. Setelah itu, Lista benar-benar tidak mengunjungi Melvin. Lista kala itu merasa sakit hati karena Melvin memaksanya untuk melakukan hubungan badan di tempat yang tidak layak.
"Boleh aku masuk?" tanya Melvin yang masih berdiri di ambang pintu.
"Masuklah," jawab Lista dengan mempersilakan Melvin untuk masuk.
Dengan senang hati, Melvin pun memasuki unit apartemen milik Lista. Mengamati ruangan di unit apartemen itu, dan kemudian mengambil tempat duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Aku sudah bebas," ucap Melvin kemudian.
"Selamat," balas Lista.
Tentu saja komunikasi di antara keduanya masih belum lancar, itu juga karena tidak ada komunikasi di antara keduanya setelah berbulan-bulan lamanya. Sehingga dialog yang terjadi pun hanya dialog singkat.
"Mau minum apa?" tawar Lista kepada Melvin.
Tampak Melvin menggelengkan kepalanya dan memberikan sebotol Sampanye kepada Lista, "Aku membawanya ... tuangkanlah sedikit untuk kita," pinta Melvin.
__ADS_1
Lista pun menganggukkan kepalanya, wanita itu mengambil bucket dan mengisinya dengan es batu, kemudian menempatkan botol sampanye itu ke dalam bucket. Membiarkan es batu akan mendinginkan minuman itu, kemudian Lista mengambil dua gelas untuknya dan juga untuk Melvin.
"Biar dingin dulu," ucap Lista.
"Iya ... kamu tidak menyambutku Lista?" tanya Melvin. Pria itu sudah membuka kedua tangannya, mengisyaratkan agar Lista masuk dalam pelukannya.
Lista yang terlihat ragu pun akhirnya memilih untuk tetap memeluk Melvin. Rasanya juga rindu dengan Melvin setelah sekian bulan berlalu. Dekap hangat aktor tampan itu, berpadu dengan aroma parfum woody yang begitu harum dan segar seakan menghipnotis Lista untuk berlama-lama berada dalam pelukan Melvin Andrian.
"Maafkan aku untuk beberapa bulan yang lalu," ucap Melvin. Setidaknya Melvin masih ingat dengan sesuatu yang terjadi di bilik 3 x 4 meter itu. Hari di mana Lista memberontaknya dan dengan menangis Lista keluar dari Lapas, usai itu Lista tidak pernah lagi untuk mengunjungi Melvin di lapas.
"Hmm, iya ... jangan diulangi," balas Lista.
Tampak Melvin menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengurai pelukannya, dan segera melabuhkan sebuah kecupan di pipi Lista yang mulus.
Chup!
Ada pukulan kecil dari tangan Lista yang mendarat di dada Melvin, setelah itu Lista memilih duduk di samping Melvin. Wanita itu merasa Sampanye sudah dingin, untuk itu Lista segera menuangkan Sampanye itu ke dalam gelas, kemudian memberikan satu gelas kepada Melvin.
"Untuk kamu," ucap Lista.
"Thanks ... untuk kebebasanku," balas Melvin.
Keduanya melakukan cheers bersama dan kemudian menikmati Sampanya yang kali pertama meninggalkan rasa manis di mulut, tetapi ada sedikit rasa panas di tenggorokan itu. Sedikit mencecapnya, dan kemudian sama-sama tersenyum usai meminumnya.
__ADS_1
"Ah, begitu manis," ucap Melvin yang kemudian menaruh gelas miliknya ke meja yang berada di depannya.
"Gimana perasaanmu sudah bebas?" tanya Lista kemudian.
"Bahagia ... ya, aku sangat bahagia. Setelah hampir satu tahun," balas Melvin.
Setelahnya Melvin kemudian menepuk pahanya, seolah mengisyaratkan agar Lista mau duduk di pahanya. Rupanya Lista pun menganggukkan kepalanya dan wanita itu segera duduk di satu paha Melvin. Dari jarak yang dekat, Lista mengamati wajah Melvin yang masih saja tampan. Walaupun wajah itu terlihat lebih tirus, tetapi pria itu tetap saja tampan. Sementara Melvin sendiri tampak tersenyum, pria itu membawa jari-jari tangannya menelisipkan rambut Lista ke belakang telinganya, kemudian Melvin menggerakkan ujung hidungnya menyentuhkannya ke sisi wajah Lista.
Gesekan ujung hidung yang mengenai sisi wajah Lista, tidak menunggu lama membuat Lista meremang. Wanita itu tetap tersenyum dan juga sedikit mencengkeram bahu Melvin.
"Lista, aku boleh menginginkan hakku malam ini?" tanya Melvin kemudian. "Sepuluh juta, kuberikan untukmu setelahnya," ucap Melvin yang seolah melakukan transaksi dengan Lista.
Lista diam, tetapi wajah wanita masih mengisyaratkan bentuk yang lain. Ada senyuman tipis, ada tatapan yang terpatri hanya pada sosok Melvin.
"Boleh?" tanya Melvin lagi.
"Sepuluh juta untuk?" tanya Lista kepada Melvin.
"Untuk semua yang bisa kau lakukan padaku ... sedikit keras dan mungkin kita bisa bercinta sampai pagi?" jawab Melvin.
Lista tersenyum dan menggelengkan kepalanya secara samar, "Kamu tidak berubah, Melvin ... jangan terlalu keras. Aku bisa kesakitan," balas Lista.
"Baiklah ... sekarang yah," ucap Melvin.
__ADS_1
Malam itu juga Melvin benar-benar menggunakan Lista semaunya. Namun, Melvin berusaha untuk tidak bermain terlalu keras. De-sahan demi de-sahan bersahutkan di unit milik Lista itu, dan juga seluruh isi ruangan terasa memiliki atmosfer yang panas, membara, hingga membakar keduanya. Melvin melepaskan hasratnya berkali-kali, dan benar ... Melvin dan Lista mengulangi kegiatan panas itu hingga subuh.
Bagi Melvin, ini adalah euforia yang sesungguhnya. Ketika dia bebas melakukan apa yang dia mau. Ketika dia bebas menyalurkan hasratnya yang tertahan kepada Lista. Tidak ada kebebasan selain bisa membakar tubuh dalam gelora bersalut kenikmatan dalam permainan satu malam. Itulah arti euforia kebebasan bagi Melvin Andrian.