Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Perasaan Haru


__ADS_3

Begitu Marsha sudah selesai dibersihkan, kemudian Marsha kembali dipindahkan ke ruangan rawat inapnya. Sementara Abraham sendiri, selalu setia menemani Marsha. Justru, Abraham merasa begitu senang bisa menemani istrinya di saat seperti ini. Baru beberapa menit di kamar rawat inap, sudah ada petugas dari Rumah Sakit yang mengetuk pintu.


“Permisi … pasien atas nama Bu Marsha,” sapa petugas itu.


“Iya, benar,” sahut Abraham.


“Waktunya untuk sarapan ya Bapak … karena melahirkan normal tidak ada pantangan berpuasa, jadi bisa sarapan terlebih dahulu.”


Rupanya petugas dari Katering Rumah Sakit yang masuk dan memberikan sarapan untuk Marsha dalam satu nampan. Abraham pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih kepada petugas itu.


“Makan dulu Shayang?” tawar Abraham kepada Marsha.


“Belum lapar … entah, rasa laparku hilang kemana. Usai melahirkan Mira, justru aku sama sekali enggak lapar,” balasnya.


“Cuma … kamu harus tetap sarapan biar tenaga kamu pulih. Kan, kamu juga harus memberikan ASI untuk Baby Mira. Biar nanti ASInya keluar dan nutrisi untuk Mira tercukupi. Makan yah, aku suapin,” ucap Abraham.


“Aku mau minum teh hangat itu dulu boleh Mas?” tanya Marsha.


“Boleh,” sahut Abraham.


Kemudian Abraham berdiri dan mengambilkan segelas teh hangat yang uapnya masih mengepul itu. Abraham bahkan membantu Marsha untuk meminum teh itu, bahkan Abraham turut meniupi supaya teh itu tidak terlalu panas dan membakar lidah Marsha. Perlakuan Abraham kepada Marsha benar-benar lembut.


“Diminum pelan-pelan … enak?” tanya Abraham kemudian.


“Hmm, iya … mataku jadi terbuka lagi. Cuma, masih enak Teh tubruk di rumah,” balasnya.


Abraham pun tertawa, “Nanti aku minta Mama ke sini dan bawakan Teh panas manis di tumbler buat kamu,” balasnya.

__ADS_1


“Iya, mau … sama makanannya Mama saja kalau bisa. Biasanya makanan dari Rumah Sakit kurang bumbu dan cita rasanya ya begitu saja,” balas Marsha kemudian.


Abraham pun kembali tertawa dan mengusapi puncak kepala Marsha, “Ya untuk sarapan makan ini dulu yah … nanti aku telepon Mama untuk bawain kita makanan,” jawab Abraham.


“Iya,” sahut Marsha kemudian.


“Jadi, mau makan sekarang atau nanti?” tanya Abraham kemudian.


“Sepuluh menit lagi tidak apa-apa. Kamu tidak mandi dulu Mas?” tanya Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, memang lebih baik dia menyegarkan tubuhnya dahulu. Sejak semalam sampai pagi ini memang Abraham belum mandi lagi. Pikirnya bisa menyuapi Marsha dulu, barulah dia mandi. Akan tetapi, kali ini Marsha sendiri yang meminta Abraham untuk mandi terlebih dahulu. Menyanggupi permintaan sang istri, Abraham memilih menyegarkan tubuhnya dahulu. Setelahnya, Abraham barulah kembali duduk di kursi kecil yang ada di samping brankar. Pria itu kemudian siap untuk menyuapi istrinya.


“Makan sekarang yah?” tawarnya.


“Hmm, iya … disuapin yah,” balas Marsha.


“Pasti aku suapin Cintaku … makan yang banyak, semalam kamu berjuang sekuat tenaga. Sekarang, isi tenaganya lagi yah. Makan yang banyak,” ucap Abraham.


Marsha pun menelan makanannya dengan mengunyah, bahkan menelan makanan itu perlahan. Walau rasa makanan Rumah Sakit itu hambar, tetapi berkat perhatian dan perkataan Abraham yang manis dan juga hangat, makanan itu perlahan-lahan, sesendok demi sesendok masuk juga ke dalam perutnya.


“Kamu juga makan dong Mas,” ucap Marsha.


“Kamu dulu aja Shayang … kamu akan usai berjuang. Aku masih bisa menahan lapar,” balas Abraham.


Akan tetapi, dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, “Kamu juga makan … semalam bukan hanya aku yang berjuang, tetapi kamu juga ikut berjuang. Jadi, kamu makan juga ya Mas,” pinta Marsha dengan lembut.


Abraham masih memilih diam, karena memang dia memprioritas Marsha. Sudah pasti Marsha begitu lapar usai beberapa kali mengejan dan juga kesakitan sepanjang malam. Lagian Abraham bisa membeli makanan nanti di luar Rumah Sakit. Yang penting perut Marsha terisi dulu.

__ADS_1


“Mau aku siapin? Satu tanganku yang tidak diinfus bisa kok menyuapi kamu?” tawar Marsha kini kepada suaminya.


“Jangan … aku bisa makan sendiri kok Shayang … jangan melayani aku, justru biarkan aku yang melayani kamu,” ucap Abraham.


Akhirnya, pria itu turut makan bersama menu sarapan dari Rumah Sakit itu. Sembari menyuapi istrinya, dia juga mengisi makanan untuk perutnya sendiri. Benar yang dikatakan Marsha bahwa menu dari Rumah Sakit tidak berasa bumbu dan rempah-rempahnya, tetapi itulah makanan yang sehat dan tidak mengandung banyak garam.


Sampai akhirnya, menu sarapan itu benar-benar habis. Kemudian Abraham menaruh peralatan makan yang sudah kosong ke meja. Sementara Abraham segera memberikan air mineral untuk Marsha. Tidak hanya itu, Abraham juga menyiapkan obat yang harus Marsha minum usai sarapan.


“Makasih banyak Papa Bram,” ucap Marsha dengan tiba-tiba.


“Iya sama-sama Mama Marsha,” balas Abraham. “Kamu pengen apa lagi? Bilang yah, kalau mau sesuatu,” ucap Abraham.


Dengan segera Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Iya Mas … sekarang kalau kamu mau istirahat, istirahat saja. Semalaman kan kamu juga begadang. Nanti aku bangunin kalau butuh sesuatu,” ucap Marsha.


“Kamu saja juga begadang loh Shayang … kita berdua sama-sama begadang,” balas Abraham.


“Aku enggak mengantuk sama sekali kok, Mas … jadi, kamu saja yang tidur. Enggak apa-apa. Santai saja,” balas Marsha.


“Yakin? Beneran enggak apa-apa aku tidur sebentar?” tanya Abraham.


“Iya, enggak apa-apa, tidur saja. Kamu juga butuh recovery,” balas Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia memilih untuk berbaring di sofa. Jarak sofa dengan brankar milik Marsha memang beberapa meter. Akan tetapi, Abraham yakin saat Marsha memanggilnya sudah pasti Abraham akan segera bangun. Walau sebenarnya tidak tega untuk meninggal Marsha tidur sebentar, tetapi Abraham memang membutuhkan waktu untuk tidur.


Ketika Abraham tertidur, Marsha justru mengamati suaminya itu. Terlintas kembali bagaimana sabarnya Abraham yang sudah menemaninya bersalin semalaman. Abraham tidak mengeluh, saat dia merintih, menangis, dan mengeluh, Abraham justru menjadi sosok yang sangat sabar dan selalu menemani Marsha.


“Tidurlah dulu, Mas … aku tahu bahwa kamu juga kecapekan. Untuk itu, istirahatlah. Terima kasih sudah menemaniku … terima kasih sudah mensupport aku … terima kasih untuk berbagi cinta dalam momen terindah dalam hidup kita. Aku cinta kamu, Mas Abraham.”

__ADS_1


Marsha bergumam dengan lirih dan berharap bahwa perasaan cintanya akan sampai pada Abraham. Bagaimana pun Marsha akan selalu ingat bahwa Abraham benar-benar pria yang luar biasa untuknya.


__ADS_2