
Dalam diam, rupanya Abraham mengamati bagaimana istrinya itu sedang melakukan sounding dengan bayinya yang masih berada di dalam kandungan. Pria itu tersenyum, karena dengan mengamati dari jauh, justru istrinya itu terlihat sosok yang penyayang dan lemah lembut. Sisi keibuan Marsha justru kian terlihat.
Tanpa sepengetahuan Marsha, diam-diam Abraham mengambil potret istrinya yang tengah duduk dan melakukan sounding itu. Perlahan pria itu mengusap layar handphonenya dan memperbesar hasil jepretannya itu. Senyuman pun mengembang di sudut bibirnya.
"Kamu sudah terlihat keibuan sekali, Shayang ... betapa beruntungnya aku memiliki kamu dalam hidupku. Istri yang baik, dan aku yakin bahwa kamu akan menjadi seorang Mama yang hebat dan penuh kasih sayang. Momen-momen seperti inilah yang membuatku begitu bahagia," gumam Abraham dengan lirih.
Setelah itu, Abraham perlahan berjalan dan menghampiri istrinya yang tengah terduduk di ranjang. Pria itu menelisipkan satu tangannya ke pinggang istrinya.
"Kamu baru ngapain Shayang?" tanyanya sembari melabuhkan sebuah ciuman di pipi istrinya itu. Bukan lantaran pipi Marsha yang semakin chubby sehingga sangat enak untuk dicium, tetapi memang itulah ungkapan cinta dan kasih sayangnya untuk istrinya itu.
"Aku baru sounding si baby nih Mas ... sudah 37-38 weeks saja. Cuma masih deg-degan, si baby ini cowok atau cewek. Dari semula positif, aku hamil muda sendiri di Semarang, dan sampai sekarang rasanya ajaib banget. Enggak nyangka di fase ini. Tinggal persiapan untuk ketemu baby," balas Marsha.
Abraham perlahan menunduk dan mencium perut istrinya itu. Kemudian Abraham menumpukan kepalanya di paha istrinya dan menghadap perut buncit istrinya itu.
"Hai Baby ... kamu cewek atau cowok, Nak? Beberapa minggu lagi kita akan bertemu. Papa sangat senang bisa bertemu denganmu," ucap Abraham.
Marsha tersenyum, tangannya mengusapi kepala Abraham yang berada di pahanya. Rasanya sangat senang bisa melihat suaminya yang bersikap seperti ini.
"Enggak terasa ya Mas ... ya ampun, Abraham Junior atau Marsha Junior nih," balas Marsha.
"Benar Shayang ... cuma ya apa pun jenis kelaminnya nanti dia tetap anak kita. Buah hati kita berdua," balas Abraham.
Bahkan Abraham pun turut melakukan sounding, rupanya mendengar suara sang Papa, si baby yang masih di dalam perut itu pun merespons, dia bergerak di dalam sana. Pergerakannya yang layaknya sebuah tendangan yang membuat Abraham tertawa.
"Ya ampun, kamu gerak, Nak ... aktif banget sih kamu .... nanti kalau kamu sudah lahir, nanti Papa gendong yah," ucap Abraham sembari mengusapi perut istrinya.
Marsha semakin tersenyum, tangannya masih bergerak untuk mengusapi kepala suaminya yang masih bertumpu di pahanya dan mengajak babynya itu berbicara. Di matanya, Abraham pun adalah pria yang penuh kasih sayang dan sangat perhatian.
__ADS_1
"Kamu tidak beli apa-apa gitu buat persiapan kelahiran Shayang?" tanya Abraham kemudian.
"Enggak ... udah dapat endorsan itu Mas, gak usah beli. Jadinya kan bisa hemat," balas Marsha.
"Kalau mau beli ya beli saja, Shayang ... aku isiin saldo kamu yah," ucap Abraham.
Akan tetapi, Marsha dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Gak usah, Mas ... buat biaya persalinan nanti saja," balas Marsha.
Menurut Marsha, daripada membeli beberapa barang yang memang sudah dimiliki, lebih baik untuk pembiayaan persalinan nanti. Sebab, memang biaya persalinan itu cukup mahal, dan lebih baik dana dialokasikan untuk ke sana.
Abraham kemudian tersenyum kepada istrinya itu, "Tenang saja ... untuk persalinan sudah aman, Shayang. Kamu tidak usah berpikir itu. Yang penting, kamu bersalin dengan aman dan nyaman," balas Abraham.
"Makasih Papa ... udah dipersiapkan dengan sedemikian rupa. Tinggal temani aku bersalin nanti ya, Mas," pinta Marsha.
"Iya ... nanti aku temani bersalin. Kamu serius mau persalinan normal?" tanya Abraham lagi.
Abraham kemudian beringsut, kemudian pria itu menjadi duduk dan segera memeluk Marsha, "Iya ... aku temanin. Aku akan selalu menemani kamu saat persalinan nanti. Kita akan menyambut si baby bersama," balas Abraham.
"Wah, senangnya ... tuh adik, pasti kamu senang sekali karena Papa baik banget dan juga akan dampingi Mama nanti. Siap-siap bertemu Mama dan Papa yah," balas Marsha.
Abraham mengurai pelukannya, kemudian dia membelai sisi wajah Marsha. Pria itu tersenyum dan mengamati wajah istrinya itu. Diperhatikan oleh suaminya sendiri justru membuat Marsha merasa malu, hingga akhirnya Marsha mengajukan pertanyaan kepada suaminya itu.
"Mas, kalau ada stretchmarks di tubuhku gimana? Misal di perut atau paha mungkin," tanya Marsha.
Dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya, "Enggak ... enggak keberatan, dan enggak ngaruh juga buatku, Shayang. Justru strecthmarks bagi Ibu hamil itu bukti pengorbanan kamu sebagai ibu. Emangnya kamu stretchmarks ya?" tanyanya.
"Ya, enggak sih ... cuma kan aku tambah gemuk nih. Kulit aku kan mengembang, terkadang gatal rasanya, cuma ya sejauh ini enggak aku garuk sih," jawabnya dengan tertawa.
__ADS_1
Memahami pasangan sebenarnya bukan sekadar saat suami bertanya A, maka istri akan menjawab B. Komunikasi pasangan suami istri itu tidak sesederhana itu. Terkadang banyak kode yang harus dipecahkan dan juga butuh rasa kepekaan untuk memahami apa yang tengah diucapkan oleh masing-masing pasangan. Bahkan tidak jarang ada perkataan yang bergeser maknanya. Misalnya, masih lama? Itu sebenarnya adalah kode pasang kita tengah membutuhkan bantuan dari pasangan kita.
Maka dari itu, Abraham pun perlahan bangkit. Dia mengambil sebotol minyak zaitun yang ada di meja rias, kemudian pria itu kembali duduk di ranjang bersama istrinya. Tanpa bertanya, pria itu sedikit mengangkat piayam istrinya hingga menunjukkan perut buncit istrinya yang tengah hamil itu. Kemudian, dia menuangkan sedikit minyak zaitun di bagian perutnya dan juga mengoleskannya secara rata.
"Yang gatal bagian yang mana lagi Shayang? Biar aku kasih minyak zaitun. Ya, kalau bisa jangan digaruk, Shayang. Kalau ada yang gatal, bilang saja sama aku, nanti aku olesin minyak zaitun, ya walaupun kalau kulit kamu strecthmarks enggak masalah juga buatku," ucapnya sembari terus meratakan cairan minyak zaitun di perut istrinya itu.
Setidaknya Abraham menjadi sosok yang peka dan begitu istrinya mengatakan bahwa bagian kulitnya ada yang gatal, maka Abraham tanpa banyak bicara segera berdiri dan mengoleskan minyak zaitun. Langsung bertindak, begitu istrinya mengatakan dan mengeluhkan sesuatu.
"Makasih banget Papa ... baik banget sih," ucap Marsha berterima kasih kepada suaminya.
"Aku harus pandai-pandai membaca kode yang kamu kirimkan Shayang. Kakinya mau langsung dikasih minyak zaitun enggak?" tanyanya kepada istrinya.
Bahkan Abraham juga tidak keberatan jika harus mengoleskan minyak zaitun ke bagian kaki istrinya. Sebab, itu adalah bentuk kasih sayang dan perhatiannya kepada istrinya.
"Enggak, jangan. Enggak sopan, Mas," sergah Marsha dengan cepat.
"Biasa saja Shayang ... suami pegang kaki istri tidak masalah. Kita setara Shayang. Istri bukan hanya menghuni dapur, bagiku ... istriku ini penghuni hati dan hidupku. Sini, kalau mau dikasih biar aku olesin sekalian, biar kulit kaki kamu juga terawat. Setahu aku kan kandungan vitamin E dari minyak zaitun itu kan bagus untuk kelembaban kulit. Bukan masalah sopan dan tidak sopan, aku cuma pengen merawat kamu," jawabnya dengan membaca kandungan yang tertera di dalam botol minyak zaitun itu/
Diperlakukan dengan sangat baik oleh suaminya membuat Marsha begitu bahagia, "Makasih Mas Bram sudah merawatku dengan sedemikian rupa. Jadi, malu deh ... sungkan sama suami sendiri," jawab Marsha.
Kebaikan dan perhatian yang berlebihan memang terkadang membuat seseorang merasa tidak nyaman. Sebab, jika kita tidak mampu membalas semua sikap tersebut, justru meninggalkan rasa tidak enak di dalam hati.
"Kamu juga merawatku juga sangat baik, Shayang ... Ini bukan tindakan balas budi, tetapi karena aku cinta sama kamu," jawab Abraham dengan yakin.
Marsha pun tersenyum, perlahan dia mendekat guna mengikis jarak antara dia dengan suaminya itu. Perlahan tetapi pasti, Marsha melabuhkan bibirnya di pipi suaminya. Menciumnya dengan penuh perasaan dan dengan wajah yang tersenyum ceria.
"Apa pun yang kamu lakukan, aku menghargainya dan sangat menyukainya. I Love U, Mas Bram," ucapnya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
__ADS_1
Abraham pun tersenyum, dia turut melabuhkan bibirnya di atas bibir istrinya, mengecupnya dengan begitu dalam dan membiarkannya di sana untuk sekian detik lamanya, "I Love U too, Shayangku!"