Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Usaha Mendapat Restu


__ADS_3

Di saat Marsha tidak mengungkapkan fakta tersembunyi itu, nyatanya semesta memiliki cara tersembunyi untuk memberikan jawaban kepada Abraham. Ada setitik air mata yang mengalir dari pelupuk mata Abraham. Ada tangisan dan isakan dari Marsha. Penuh haru rasanya, di luar gerimis rintik-rintik yang turun justru menambah suasana yang begitu haru.


Air mata yang jatuh nyatanya membuat momen itu begitu dramatis. Ada perasaan lega di dada Abraham begitu tahu bahwa memang janin yang berusia 12 minggu di dalam rahim Marsha itu adalah bayinya.


Abraham menghela nafas kasar, tak bisa lagi menahan, kini Abraham pun memeluk Marsha dengan begitu eratnya. Walau tangan Marsha sepenuhnya luruh dan tidak membalas pelukan Abraham, tetapi Abraham tetap memeluk wanita itu.


“Marsha … aku tahu, kamu sudah melalui masa yang begitu berat hampir tiga bulan ini. Sekarang, berjuanglah bersamaku yah. Dia membutuhkan orang tua yang lengkap. Buah hati dan tentunya buah cinta kita berdua,” balas Abraham.


“Bram,” ucap Marsha yang kian membawa kedua tangannya untuk membalas pelukan Abraham itu. Air matanya kian berderai. Marsha sadar bahwa Abraham tulus kepadanya, tetapi bagaimana dengan Mama Diah sendiri? Terlebih saat mengetahui bahwa kini Marsha tengah hamil, yang ada justru Marsha menjadi kian takut jika Mama Diah menolaknya dan mengatainya wanita murahan karena hamil di luar nikah.


Abraham mengurai pelukannya, dan menyeka air mata di wajah Marsha. “Sudah, jangan menangis … sejak bertemu sampai sekarang kamu sudah banyak menangis. Jadi, jangan menangis lagi. Aku tanya sekarang, biarkan hatimu yang memilih. Mau berjuang bersamaku?” tanya Abraham lagi.


“Aku coba,” balas Marsha pada akhirnya.


“Oke, besok kita temui Mama yah? Jangan takut, Marsha … biar aku yang berbicara,” balas Abraham.


“Besok?” tanya Marsha dengan wajah yang kaget dan seakan belum siap.


“Iya, besok … waktuku di Semarang tidak banyak Marsha. Jadi, biarkan aku bergerak dengan cepat selagi aku ada di Semarang,” balas Abraham.


 Abraham mengatakan hal yang sebenarnya. Waktunya di Semarang, tidaklah banyak karena itulah, dia ingin bergegas mengajak Marsha untuk menemui Mama Diah. Tidak perlu ragu, karena Abraham sendiri yang akan menjelaskan semuanya kepada Mama Diah.


“Kamu akan kembali ke Jakarta?” tanya Marsha.


“Iya, cuma untuk mengurus sesuatu di sana. Kalau kamu ingin tinggal di Semarang, tidak masalah … kita bisa tinggal di Semarang bersama,” balas Abraham dengan yakin.


Untuk mendapatkan Marsha, semuanya akan Abraham pertaruhkan. Terlebih mengetahui usia kandungan Marsha yang sudah 12 minggu, maka tidak ada waktu lagi bagi Abraham. Sebelum perut Marsha kian membesar, Abraham ingin segera menikahi Marsha.

__ADS_1


“Jadi, gimana … besok aku jemput yah? Kita ketemu Mama … jangan kabur lagi, Sha. Percayalah, jika aku akan berjuang untuk cinta kita berdua. Kamu bisa mempercayai aku kan?” tanya Abraham kali ini.


“Iya, aku percaya,” balas Marsha pada akhirnya.


Akhirnya, Marsha mengucapkan bahwa dia percaya pada Abraham. Untuk pria yang sudah benar-benar tulus kepadanya itu, Marsha akan mencoba untuk percaya. Memberikan kesempatan dan berusaha untuk berjuang.


***


Keesokan harinya …


Tepat jam 09.00 pagi, Abraham sudah kembali ke Ungaran. Kali ini, pria itu tampak tersenyum lebar saat bertemu Marsha. Untuk kali pertama Abraham akan membawa Marsha kepada Mamanya, dan meminta restu langsung dari Mamanya itu.


“Sudah siap?” tanya Abraham kepada Marsha.


“Iya,” balasnya sembari menganggukkan kepalanya.


“Perlu, tapi nanti saja,” balas Marsha.


Akhirnya Abraham berpamitan dengan Eyang Partinah, dan dia membawa Marsha ke Semarang, bertemu dengan Mamanya. Sepanjang perjalanan, Marsha memang lebih banyak diam. Beberapa kali juga, Marsha tampak mengusapi tangannya sendiri, sebagai tanda bahwa dirinya resah kali ini. Terlebih saat mobil yang dikemudikan Abraham sudah memasuki kawasan perumahan di mana rumah Abraham berada. Marsha sampai mengambil nafas banyak-banyak untuk mengisi paru-parunya, dan menghembuskan perlahan dengan mulutnya. Sangat grogi rasanya.


“Kenapa, kamu pucat?” tanya Abraham.


“Aku takut,” jawab Marsha dengan jujur.


“Ada aku … kita hadapi bersama-sama,” ucap Abraham sembari menggenggam tangan Marsha.


Pria itu dengan tenang menggandeng tangan Marsha dan mengajaknya untuk memasuki rumahnya.

__ADS_1


“Mama,” ucap Abraham begitu memasuki rumahnya.


Mama Diah pun keluar dari kamarnya, wanita paruh baya itu pun terkejut saat melihat putranya pulang dengan membawa Marsha. Pandangan mata Mama Diah kini jatuh pada tangan keduanya yang saling bertaut.


“Tante,” sapa Marsha dengan takut … wanita itu menundukkan wajahnya, cemas sebenarnya. Namun, Marsha berusaha menguatkan dirinya sendiri.


“Iya,” sahut Mama Diah.


Kemudian Abraham pun membawa Marsha duduk di ruang tamu, berhadap-hadapan dengan Mamanya yang sudah terlebih dahulu duduk dan hanya ada meja dari kayu yang memisahkan mereka.


“Mama, Abraham menemukan Marsha di Semarang dengan tidak sengaja … jadi, begini Ma … beberapa bulan lalu, kami telah melakukan kesalahan, sama seperti yang Abraham akui kepada Mama dulu. Sekarang, Marsha tengah hamil anak Abraham, Ma. Dengan rendah hati, Abraham minta kepada Mama tolong restui kami berdua, Ma,” ucap Abraham secara langsung.


Sementara Mama Diah hanya diam, wanita itu membawa kedua tangannya bersidekap di dada, mengalihkan pandangannya dan enggan untuk melihat Abraham.


Merasa bahwa Mamanya tidak merespons, kali ini Abraham melepaskan genggaman tangan Marsha dari tangannya, dan pria itu kini bersimpuh di hadapan Mamanya.


“Bram, jangan Nak ….”


Mama Diah pun bersuara, tak kuasa melihat Abraham yang sampai bersimpuh di depan kakinya.


“Ma, Bram sayang kepada Mama … Mama satu-satunya orang tua yang Bram miliki, tetapi Marsha juga satu-satunya wanita yang Bram cintai. Tolong restui kami berdua,” pinta Bram dengan menundukkan wajahnya dan bersimpuh di kaki Mamanya.


Momen yang begitu penuh kesedihan itu, dengan sendirinya Marsha berderai air mata. Pria tangguh yang dia cintai kali ini benar-benar merendahkan dirinya untuk mendapatkan restu dari Mamanya sendiri. Tak kuasa melihat Abraham, Marsha pun melepas sling bag yang masih melingkar di bahunya, Marsha turut bersimpuh di samping Abraham. Wanita itu pun kembali menangis di depan kaki Mama Diah.


“Mama … maafkan Marsha. Kami memohon restu dari Mama … mohon restui Marsha dan Bram, Ma,” pintanya dengan terisak.


Seumur hidup, baru kali ini Marsha memohon dengan bersimpuh. Mendampingi Abraham, dan juga berjuang bersama dengan pria yang adalah ayah biologis dari janinnya itu.

__ADS_1


__ADS_2