
Rupanya untuk urusan mengubah suasana hati suaminya menjadi lebih rileks dan lebih bagus, Marsha adalah juaranya. Terbukti, setelah beberapa kali berpose di depan kamera, Abraham pun menjadi kian rileks saja.
"Tuh, makin ke sini makin rileks kan. Kamu kalau santai dan senyum gini tambah cakep tau," ucap Marsha dengan melirik suaminya itu.
Abraham pun tersenyum, tangannya terangkat dan memberikan usapan di puncak kepala istrinya itu, "Kamu ini bisa saja sih ... padahal aku ya sejak tadi santai," balas Abraham.
"Enggak, mana ada santai. Kamu tegang banget tadi waktu difoto. Kok bisa sih Mas? Kan kamu ini fotografer, berteman dengan lensa kamera dan lighting kayak gini," tanya Marsha dengan tertawa melihat wajah suaminya.
"Beda Shayang ... fotografer itu seperti sutradara kan di belakang layar. Mereka yang bisa mengarahkan peran belum tentu bisa berperan. Sama seperti aku, yang bisa memotret, belum tentu bisa nyaman dan rileks saat dipotret," jawab Abraham.
Yang dikatakan Abraham sepenuhnya benar, bahwa memang dirinya handal untuk memotret dan mengarahkan gaya. Akan tetapi, untuk berpose di depan kamera bukanlah dirinya. Ada rasa canggung, tegang, kaku, dan juga grogi. Oleh karena itu, Abraham tadi pun terasa tegang dan tidak nyaman. Padahal jika sudah memegang kamera, Abraham terlihat begitu piawai.
"Berarti Papa harus sering-sering foto sama aku, biar hasil fotonya bagus," balas Marsha.
Mendengar ucapan istrinya, Abraham pun terkekeh geli. "Kamu ini bisa saja. Kalau kamu tuh memang udah passionnya di modelling. Jadi, pose apa pun hasilnya bagus. Kamu itu fotogenik banget," balas Abraham.
Dipuji oleh suami sendiri, tentu membuat Marsha begitu senang. Jarang-jarang juga mendapatkan pujian dari Abraham. Hanya saja, Marsha tahu bahwa tanpa pujian atau kata-kata manis, cinta yang Abraham miliki untuknya jauh lebih manis.
"Sudah sore ya Mas ... abis ini pulang kan?" tanya Marsha kepada suaminya itu.
"Jalan-jalan sore yuk Shayang ... mau enggak?" tawar Abraham kepada istrinya.
"Aku telepon Mama dulu, Mas ... enggak enak kalau Mama nungguin di rumah," balasnya.
__ADS_1
Abraham pun menganggukkan kepalanya, memberi waktu untuk istrinya untuk menghubungi Mama Diah terlebih dahulu. Abraham justru senang karena Marsha bisa menyayangi Mamanya dan menjadi layaknya seorang anak kandung bagi Mamanya.
Marsha segera mengambil handphone di slingbag miliknya, dan segera mencari nomor Mama Diah di sana.
Mama Diah
Memanggil
"Halo, Mama ...."
"Ya, halo ... ada apa Sha?" jawab Mama Diah di seberang sana.
"Mama, kalau Marsha dan Mas Bram pulang agak terlambat boleh tidak Ma? Mas Bram mau ajakin Marsha jalan-jalan sore," pamitnya kepada Mama Diah.
Rasanya Marsha begitu lega mendengar ucapan Mama Diah. Justru terlihat bahwa Mama Diah begitu longgar dan tidak mengekang Abraham dan juga dirinya untuk berada di rumah. Kendati demikian, sebagai seorang menantu, Marsha pun akan berpamitan terlebih dahulu kepada Mama Diah.
"Baik Ma ... Marsha dan Mas Bram mau jalan-jalan sore sebentar. Makasih Ma," ucapnya dan segera menyelesaikan sambungan telepon itu.
Setelahnya, Abraham segera mengajak Marsha untuk berjalan-jalan sore. Berkendara di Ibukota, mereka melihat sebuah tempat yang sedang hits di Jakarta, tempat subkultur anak-anak Citayam yang begitu hits dengan outfit kekiniannya dan berlenggak-lenggok di jalanan layaknya model profesional.
"Mas, beli minuman di saja yuk ... sambil lihat anak-anak itu. Seru banget sih outfitnya," ucap Marsha.
"Boleh, aku parkirkan mobilnya dulu yah," balas Abraham.
__ADS_1
Setelah mendapatkan tempat parkir, kemudian Abraham mengajak Marsha untuk memasuki sebuah kafe di pinggir jalan raya itu. Kemudian keduanya memesan minuman dan camilan.
"Jangan pesan kopi loh Shayang," ucap Abraham yang memperingatkan Marsha terlebih dahulu.
"Iya ... aku minum Hazelnut Cokelat saja kok Mas, es batunya less saja," balas Marsha.
Kemudian Abraham memesan minuman untuk mereka berdua, dan Marsha beberapa kali melihat orang-orang yang berlalu-lalang dan memenuhi kawasan bernama Dukuh Atas itu.
"Dulu tempat ini sepi banget loh. Hanya jembatan penyebrangan untuk transit Busway. Setelah ada MRT, dan banyak kafe di area ini, banyak ramai. Terus juga semakin populer setelah Citayam Fashion Week itu," ucap Marsha dengan arah pandangan keluar jendela.
"Bener Shayang ... cuma kalau fashion show di zebra cross gini bahaya sih. Soalnya ini jalan raya, dan banyak kendaraan lewat. Pejalan kaki pun yang hendak menyebrang jadi susah kan, soalnya ini fasilitas umum," balas Abraham.
Mendengar apa yang disampaikan Abraham, Marsha pun tertawa, "Sekarang orang-orang itu berpikirnya out of the box, Mas. Berlenggak-lenggok di karpet merah itu sudah biasa. Makanya sekarang berlenggak-lenggok di jalan raya, di zebra cross. Tuh, lihat Mas ... outfitnya padu-padan dan bisa clik gitu," balas Marsha.
Abraham menganggukkan kepalanya dan mengamati ada orang yang tunjuk Marsha. Gaya busana kekinian khas anak Ibukota. Bahkan ada beberapa orang yang sudah siap dengan kamera mereka untuk memotret temannya yang berfashion show ria.
"Kita ini lucu ya, Shayang ... nyore malahan di area pusat subkultur kekinian kayak gini. Kamu mau nyoba jalan di situ dan aku potret. Walau enggak membawa kamera digital, pake kamera handphone saja hasil jepretanku bagus kok," ucap Abraham.
Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Berlenggak-lenggok di jalan raya bahaya, Mas ... apalagi aku sedang hamil. Keselamatanku dan bayiku nomor satu," jawabnya.
Tangan Abraham bergerak dan menggenggam tangan Marsha, mengusapnya dengan lembut. "Kamu makin dewasa, Sha ... aku suka. Benar, keselamatan kamu dan bayi kita nomor satu. Aku cinta kamu!"
Menikmati sore bersama walau hanya sekadar menikmati minuman kesukaan dan membangun obrolan yang hangat sudah cukup untuk Abraham dan Marsha. Saat hati saling berpaut satu sama lain, kegiatan yang sederhana saja akan terasa begitu istimewa.
__ADS_1