Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Pagi yang Lebih Baik


__ADS_3

Semalaman beristirahat, kini Marsha bangun terlebih dahulu. Dia segera bergegas untuk turun ke dapur dan membuatkan sarapan untuk keluarganya. Tidak lupa, Marsha mengingat pesan yang diberikan Abraham semalam supaya dia bisa membuatkan masakan kesukaan Mama Saraswati untuk menenangkan hatinya.


Hanya saja, sekilas teringat kenangan di masa lalu, di mana Mama Saraswati sering kali mencibir masakan Marsha yang katanya kurang enak dan rempahnya kurang kuat. Jika, mengingat yang dulu-dulu memang membuat Marsha merasa begitu insecure. Namun, Marsha sudah sepenuhnya berjanji bahwa dia ingin mengikuti panutannya, yaitu suaminya sendiri dengan menempatkan semua masa lalu di tempatnya. Kini, Marsha lebih memilih memasak sesuai dengan kemampuannya saja, dan yang penting baginya kan Abraham selalu mengatakan bahwa masakannya enak, dan Abraham juga selalu melahap habis makanan yang dibuat oleh Marsha.


Mulailah Marsha mengambil Bawang Merah, Bawang Putih, dan Cabai sebagai bumbu dasar dan menguleknya sampai halus. Kemudian dia mengambil bahan-bahan yang ada di lemari es seperti ayam, telor, sosis, dan sedikit sayuran. Menyiapkan nasi goreng, Marsha juga sekaligus membuatkan Bubur MPASI untuk Mira, sehingga ketika sarapan semuanya bisa langsung makan, termasuk dengan Mira. Marsha mendahulukan membuat Bubur dengan bahan ayam, wortel, tomat, dan sedikit daun seledri dan membuatnya menjadi bubur. Hanya perlu menghaluskannya ketika Mira akan makan. Selanjutnya, Marsha mulai menumis bumbu halus, menumisnya sampai berbau harum, kemudian memasukkan nasi dan bahan lainnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, nasi goreng pun sudah tersedia. Tidak lupa, Marsha mulai menyeduh teh karena memang dia dan Abraham menyukai untuk meminum teh di pagi hari. Setelah urusan dapur selesai, Marsha naik ke atas dan mulai membangunkan suaminya dan Mira.


“Sudah bikin sarapannya?” tanya Abraham yang ternyata sudah bangun.


“Iya, sudah,” balas Marsha.


“Makasih yah … sudah selalu bangun lebih pagi dan mengisi perut seluruh anggota keluarga dengan masakan yang enak,” ucap Abraham.


Setidaknya jika tidak ada istri yang bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan, sudah pasti anggota keluarga akan merasakan perut kosong dan juga kelaparan. Sepenuhnya Abraham yakin itu juga karena Marsha yang mau bangun lebih pagi, kadang harus berbelanja sayur terlebih dahulu dan juga memasak. Ketika anak dan suaminya masih tidur, Marsha sudah bangun lebih dahulu.


“Sama-sama Mas … terima kasih juga sudah bekerja dengan begitu giat untuk kita sekeluarga,” balas Marsha.


Begitu juga dengan Marsha yang berterima kasih karena Abraham menjadi kepala keluarga dan bekerja begitu giat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan Mira. Ada kalanya memang istri harus mengucapkan terima kasih kepada suami yang sudah bekerja keras dan membanting tulang untuk seluruh keluarga. Tanpa suami yang bekerja keras, sudah pasti kebutuhan keluarga akan terbengkalai, dapur pun bisa tidak mengepul.


“Sama-sama Shayang … itu Mira sudah bangun, yuk kita mandiin dulu. Sudah waktunya mandi dan nanti tidak sarapan,” balas Abraham.

__ADS_1


Sehingga pagi itu mereka membersihkan diri terlebih dahulu, dan kemudian Abraham turun menggendong Mira untuk sarapan. Sementara Marsha turun dan membawakan handuk bersih untuk Mama Saraswati, pikirnya biar Mama Saraswati bisa mandi dan membersihkan badan juga.


Ketika mereka sampai di bawah, rupanya Mama Saraswati juga baru keluar dari kamarnya dan bersiap dengan sling bag di bahunya, seolah Mama Saraswati hendak pulang pagi itu.


“Mama,” sapa Marsha begitu melihat Mama Saraswati.


“Marsha … Bram,” sahut Mama Saraswati dengan lirih.


“Ayo sarapan dulu, Ma … Marsha sudah membuat nasi goreng,” ucap Marsha.


Tampak Mama Saraswati menggelengkan kepalanya, “Eh, tidak … nggak usah, Sha … justru Mama merepotkan kamu,” balasnya.


“Sama sekali tidak merepotkan kok, Ma. Ayo Ma … makan dulu, nanti juga Mama silahkan mandi dulu. Kamar mandi di bawah di showernya juga ada air panasnya kok Ma, bisa sekaligus membersihkan diri dulu,” ucap Marsha.


“Mari sarapan dulu, Tante,” ucap Abraham kemudian.


Ucapan dan bahasa yang digunakan Abraham begitu sopan, sampai Mama Saraswati tampak menghela nafas di sana, dan kemudian barulah Mama Saraswati berjalan menuju ke meja makan. Bahkan Abraham mempersilakan Mama Saraswati untuk duduk.


“Silakan,” ucapnya.


Walau kalimat yang digunakan Abraham singkat, tetapi Abraham melakukannya dengan tulus, dan memang niatnya hanya untuk Mama Saraswati turut sarapan sebelum pulang.

__ADS_1


“Maaf yah merepotkan kalian berdua,” ucap Mama Saraswati.


“Tidak repot sama sekali, Ma,” sahut Marsha.


Sebab, memang Marsha sudah terbiasa juga untuk membuat sarapan. Sehingga memang Marsha tidak merasa repot. Aktivitas paginya menjadi Ibu rumah tangga memang demikian.


Pagi itu, Marsha makan sambil menyuapi Mira. Sementara Mama Saraswati seolah seperti menahan tangis saat menikmati nasi goreng buatan Marsha. Sementara Abraham sudah pasti begitu lahap dengan sepiring nasi goreng di hadapannya. Bahkan Abraham sampai nambah, karena memang di lidahnya masakan Marsha benar-benar enak dan menggugah selera. Sehingga pantas saja, begitu menikah dengan Marsha, tubuh Abraham kian bertambah berat badannya.


“Mama usai ini pulang ya, Sha … kan sudah pagi juga,” ucap Mama Saraswati.


“Iya Ma … tidak apa-apa. Mama mau naik apa?” tanya Marsha kemudian.


“Naik taksi saja, Marsha … daripada bingung nanti,” balas Mama Saraswati.


Kemudian Marsha menatap ke suaminya, “Bareng sama Mas Abraham saja, Ma … Mas Bram juga sekalian ke Studio kok,” balas Marsha.


“Eh, tidak usah, Sha … Mama enggak enak. Mama justru merepotkan kalian berdua. Kalian berdua sudah banyak membantu Mama. Terima kasih banyak,” balas Mama Saraswati.


“Bareng saya tidak apa-apa, Tante … biar Bram antar,” balas Abraham.


“Bram ….”

__ADS_1


Mama Saraswati mengucapkan nama Abraham dengan lirih. Teringat bagaimana dulu jahatnya dia dengan melarang mendiang Papa Wisesa untuk menemui anak kandungnya yang saat itu tinggal dan besar di Semarang. Sekarang, di kala dia terdesak dan dalam kesusahan, justru Abraham lah yang menolongnya.


__ADS_2