
“Aku tidak keberatan kok sepanjang hari dalam keadaan polos mutlak bersamamu,” ucap Melvin dengan menunjukan senyuman menyeringai di wajahnya.
Sungguh, ucapan Melvin yang seperti ini yang membuat Marsha merasa bahwa yang Melvin butuhkan hanyalah tubuhnya. Mungkin bagi Melvin itu hanya sekadar candaan, tetapi Marsha menilai bahwa Melvin bersikap baik dan berbicara manis kepadanya karena ingin menikmati tubuhnya dan menyalurkan hasratnya.
Memang tidak salah, terlebih mengingat hubungan keduanya yang sudah sama-sama sah. Hanya saja, sebagai seorang istri, Marsha pun ingin diperlakukan dengan baik oleh suaminya itu. Sebab, kehidupan berumahtangga bukan sekadar pergulatan panas di atas ranjang. Kehidupan berumahtangga itu begitu kompleks. Jika hanya dinilai dari pergulatan panas di ranjang, bagaimana dengan berbagai hal lainnya yang mengharus suami dan istri untuk saling mengenal secara emosional. Bagaimana suami dan istri memiliki ikatan batin yang kuat. Bagaimana suami dan istri memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah demi masalah yang melanda biduk rumah tangga mereka.
“Bicara apa sih, Yang,” balas Marsha kali ini.
Segamang apa perasaannya, Marsha berusaha untuk mengimbangi Melvin dan berbicara dengan sopan.
“Bercanda Yang … ya sudah, kalau kamu mau pakai baju ya pakai saja. Tidak perlu ditutup-tutupi begitu. Toh, ya aku sudah melihat semuanya di diri kamu,” balas Melvin.
Memang benar Melvin sebagai seorang suami sudah melihat semua yang ada di diri Marsha. Lekuk-lekuk feminitas hingga area vitalnya pun Melvin sudah melihatnya, tetapi Marsha ingin Melvin lebih baik dalam memperlakukannya. Bukan sebuah permintaan yang muluk-muluk. Marsha hanya ingin butuh atau pun tidak butuh pergulatan hebat dan panas di ranjang, Melvin bisa berlaku baik kepadanya.
Lagipula, Marsha adalah seorang wanita yang diingin diperhatikan oleh suaminya sendiri. Seorang wanita yang ingin diperlukan dengan baik oleh suaminya, seorang wanita yang ingin dijaga hatinya. Akan tetapi, yang Marsha dapatkan seringkali adalah ucapan kasar Melvin kepadanya.
Tanpa menengok kepada Melvin yang masih duduk tidak jauh darinya, Marsha lantas mengambil pakaiannya dan memakainya. Berada dalam satu selimut dengan kondisi tubuh yang benar-benar polos mutlak membuat Marsha merasa tidak nyaman dengan suaminya itu. Usai berpakaian lengkap, Marsha pun kemudian berdiri dari atas ranjangnya.
“Yang, aku mau telepon dulu yah? Ada pekerjaan yang harus dibicarakan,” pamitnya kepada Melvin.
Tentu saja itu hanyalah sebuah alibi dari Marsha. Sebab, sebenarnya tidak ada sama sekali jadwal pemotretan untuk dua pekan ke depan. Akan tetapi, hatinyalah yang mendorong Marsha untuk bisa mendengar suara Abraham saat ini. Sekalipun itu hanya sekadar melalui panggilan telepon, Marsha ingin sekali mendengar suara pria itu.
“Iya … jangan lama-lama yah,” jawab Melvin.
Marsha kemudian mengambil handphonenya yang tergeletak di atas nakas dan kemudian dia segera menekan kontak Abraham dan menekan ikon telepon di handphonenya.
“Bram,” sapa Marsha dengan lirih saat panggilannya sudah terhubung.
__ADS_1
“Hmm, ya ada apa Marsha?” tanya Abraham. Dari suara pria itu menunjukkan bahwa Abraham begitu excited saat Marsha menghubunginya.
Memang tidak dipungkiri bahwa Abraham sangat menunggu telepon dari Marsha. Abraham tahu bahwa suami Marsha tengah berada di rumah. Akan tetapi, justru Abraham ingin agar Marsha bisa kembali menghubunginya. Hatinya bahkan meminta kepada Tuhan supaya dia bisa kembali mendengar suara Marsha. Kini, saat Abraham bisa kembali mendengar suara Marsha, rasanya hatinya benar-benar lega.
“Aku hanya ingin menelpon,” ucap Marsha dengan lirih.
Di tempatnya Abraham tersenyum, bahkan pria itu menyugar rambutnya sembari menundukkan wajahnya. Sungguh, sekadar mendengar Marsha yang dengan jujur mengatakan bahwa dirinya ingin menelpon membuat Abraham begitu membuncah, hatinya merasa begitu senang.
“Kangen?” tanya Abraham.
Mendengar pertanyaan Abraham, bibir Marsha rasanya terkatup. Tidak bisa menjawab pertanyaan dari mantan pacarnya itu. Apakah ini benar-benar perasaan rindu atau sebatas pelarian supaya Marsha bisa lepas dari Melvin untuk sementara.
“Kenapa diam? Aku menunggu jawabanmu,” ucap Abraham lagi yang merasa bahwa di sana Marsha hanya diam.
“Bicaralah, aku ingin mendengarnya,” ucap Marsha kali ini.
“Dia bersamamu?” tanya Abraham kemudian.
“Iya,” jawab Marsha dengan singkat.
Senyuman Abraham perlahan sirna, pria itu mengubah posisi ponselnya di telinganya. “Marsha, aku sebenarnya ingin yang ada di samping kamu. Aku ingin memberimu banyak kebahagiaan. Aku ingin menjadi pria yang selalu ada untukmu,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.
“Lalu?” tanya Marsha lagi.
“Hanya saja, kenapa semesta seolah mempermainkannya. Di saat aku ingin berjuang dan memperjuangkan semuanya, justru kamu sudah ada yang punya. So, tidak masalah Marsha. Ingat ucapanku tempo hari bahwa kamu memiliki akses untuk memanfaatkanku,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh.
Perlahan Marsha menganggukkan kepalanya, seolah-olah bahwa dirinya tengah berhadap-hadapan muka dengan muka bersama Abraham. Hanya sekadar mendengar suara Abraham saja sudah bisa memperbaiki moodnya. Sekali lagi, Marsha tahu bahwa ini adalah kesalahan. Hubungan dan perasaanya terlarang. Namun, tetapi dia dan Abraham laksanakan dua medan magnet yang saling tarik-menarik.
__ADS_1
Belum sempat Marsha merepons ucapan Abraham, terdengar suara Melvin yang memanggilnya.
“Ayang, masih lama?” tanya Melvin kepada Marsha.
Sudah pasti panggilan sayang dari Melvin bisa terdengar oleh Abraham melalui sambungan telepon itu. Marsha melambaikan tangannya ke arah Melvin, disambut dengan anggukan kepala pria itu.
“Bram, sorry … hanya saja aku harus menyudahi panggilan ini. Terima kasih, Bram … sebatas mendengar suaramu saja sudah cukup untukku. Terima kasih, hari ini aku bisa memanfaatkanmu dengan menelponmu,” balas Marsha.
“Oke Marsha … jika ada waktu hubungi aku lagi ya … ingat selalu berbahagialah Marsha. Jika, dia tidak bisa memberimu kebahagiaan, ingatlah aku. Aku akan mengupayakan kebahagiaan untukmu,” ucap Abraham kali ini dengan sungguh-sungguh.
“Bye Bram … thank you so much,” ucap Marsha sembari mengakhiri panggilannya.
Usai menelpon dan berdiri sejenak di balkon, kemudian Marsha kembali masuk ke dalam kamar. Wanita itu kembali menaiki ranjang dan bersandar di headboard.
“Sudah menelponnya?” tanya Melvin.
“Iya, sudah,” jawab Marsha dengan singkat.
“Serius banget sih … pekerjaan apa memangnya?” tanya Melvin lagi.
“Ya, bicarakan pekerjaan selalu serius, Yang … biasa cuma jadwal pemotretan saja kok,” balas Marsha.
Ya Tuhan, dada Marsha rasanya begitu sesak. Yang dia hubungi barusan bukanlah terkait dengan pekerjaan. Melainkan perihal perasaannya yang muncul begitu saja. Perasaan terlarang yang sukar untuk dia kendalikan. Justru seolah-olah Marsha seperti pencuri yang tidak ketahuan dengan hasil tangkapannya. Hatinya merasa bersalah, tetapi tubuhnya bereaksi berlawanan. Hasrat dalam hati yang membuat Marsha seolah hilang kendali atas hatinya sendiri.
“O … makanya serius banget. Ayang, aku tidak keberatan kamu terus bekerja. Cuma kalau capek istirahat,” ucap Melvin kali ini.
“Hmm, iya … toh kan kalau tidak bekerja, aku lebih banyak berada di rumah,” sahut Marsha.
__ADS_1
Melvin kemudian menganggukkan kepalanya. Menyadari bahwa memang Marsha hanya bekerja di waktu-waktu tertentu. Selebihnya jika sama sekali tidak ada pemotretan, Marsha akan seharian berada di rumah. Melvin merasa tenang, dia tenang karena Marsha tidak ada melakukan hal-hal yang aneh di luar rumah.