Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kumpul Bocah


__ADS_3

Pesta ulang tahun yang bukan sekadar ulang tahun karena sore hari itu tampak Abraham dan Belva menggeser meja, sehingga area di dekat sofa yang ada di ruang tamu menjadi lebih luas. Selain itu, Marsha juga menggelar karpet supaya Evan, Elkan, dan Mira bisa bermain bersama.


“Tante, mainannya Mira apa?” tanya Evan kepada Marsha.


“Mainannya boneka dan buku saja itu Kak Evan … Kak Evan mau mainan apa?” balas Marsha kemudian.


Evan pun tampak menganggukkan kepalanya, “Mira cewek sih, jadi mainannya boneka yah … tidak punya robot atau Lego ya Tante?” tanyanya.


Itu memang karena Evan begitu menyukai robot, action figure, dan juga Lego. Jika sudah selesai belajar di rumah, Evan bisa menghabiskan waktu untuk menyusun Lego. Rasanya membuat Lego dan menyusunnya seolah membuat Evan belajar untuk fokus dan juga menyusun strategi dengan mainannya yang sedang dirakit satu per satu.


Bu Sara pun tersenyum, “Iya Kak Evan … Mira kan cewek jadi sukanya boneka, nanti kalau Mama hamil lagi dan adiknya cewek, juga mainannya boneka,” balas Bu Sara.


Evan nyatanya justru menganggukkan kepalanya, “Cewek aja Ma kalau bisa … kan Evan sudah punya Adik El, jadi kalau Mama hamil lagi ya cewek saja, nanti biar bisa main sama Mira. Evan main sama Adik El, dan Mira main sama adik yang cewek,” balasnya.


Itulah Evan, walau sekecil itu, tetapi dia bisa berpikir dengan logika. Tipekal anak yang cerdas. Marsha dan Abraham yang mendengarkan Evan pun juga kagum, Evan bisa memadukan bahwa cowok harus main sama cowok, dan cewek akan main dengan cewek.


“El main sama Mira,” balas Elkan tiba-tiba.


Bahkan dengan begitu lucunya, Elkan turut mengambil boneka dan memberikan kepada Mira yang kali itu juga duduk di sofa. Terlihat seorang Kakak yang bermain dengan adiknya sendiri.


“Adik El enggak main sama Kakak?” tanya Evan lagi.


Elkan pun menggelengkan kepalanya, “Di rumah kan sudah main terus sama Kakak … di sini El main sama Mira ya Kak,” balasnya.

__ADS_1


“Oke deh,” sahut Evan yang juga tidak marah.


Sehingga Elkan sore itu tampak bermain boneka dengan Mira, bahkan Elkan ingin juga memangku Mira, terlihat gemas dengan Mira yang cantik. Mungkin di hadapan Elkan saat itu, Mira yang masih kecil layaknya boneka hidup yang lucu dan juga menggemaskan.


“Hati-hati, El … nanti adiknya menangis loh,” ucap Belva yang memperingatkan Elkan untuk tidak berusaha memangku Mira. Takut jika Mira salah dipegang dan bisa membuat sakit dan akhirnya menangis.


“Papa, pangku adiknya,” pinta Elkan kemudian.


Menuruti permintaan anaknya, Papa Belva pun segera memangku Mira, bahkan Papa Belva tampak begitu gemas dengan bayi perempuan itu, dan berbisik kepada istrinya, “Ayo Ma … satu lagi yang cewek seperti ini. Lucu banget, mana wanginya floral. Kalau Evan dan Elkan kan pilihan parfumnya yang maskulin, walau mereka masih anak-anak,” ucap Papa Belva kepada istrinya.


“Belum dikasih Mas … berdoa dulu bisa segera on the way,” balas Mama Sara.


Papa Belva pun menganggukkan kepala, “Iya, nanti berdoa di sepertiga malam,” balasnya.


“Mantap sekali Bos … doanya di sepertiga malam,” balasnya dengan tertawa.


“Harus dong … biar makin didengar dan dijawab sama Allah,” jawab Belva.


“Ayo Bu Sara … Pak Belva sudah pengen itu,” ucap Marsha kemudian kepada Bu Sara.


Kemudian Sara pun melirik kepada Marsha, “Kita hamilnya barengan aja, Sha … kayaknya lucu kan kalau hamil bisa barengan gitu,” balas Sara dengan tiba-tiba.


Marsha pun menggelengkan kepalanya, “Mira masih satu tahu Bu … biar lepas ASI dulu, kasihan kalau belum waktunya dan sudah lepas ASI,” balas Marsha.

__ADS_1


Memang Mama Diah sudah meminta Marsha dan Abraham untuk menambah anak lagi. Akan tetapi, Marsha merasa Mira masih begitu kecil. Masih satu tahun, sehingga kasihan jika sekecil itu dan dirinya sudah harus mengandung lagi. Oleh sebab itu, Marsha berharapnya setelah Mira lepas ASI saja baru memulai untuk memikirkan adik untuk Mira.


“Satu tahun kelamaan, Sha,” balas Bu Sara kemudian.


“Makanya itu, Bu Sara dan Pak Belva yang duluan saja. Nanti kami nyusul,” balasnya.


Abraham pun tertawa, “Memiliki anak saja janjian loh, Bestie banget ya Sayang,” ucap Abraham.


“Iya Mas … biar seru. Sama-sama dung nanti,” balas Marsha dengan terkekeh geli di sana.


Mama Diah yang sedari tadi diam pun turut berbicara juga, “Ayo Bu Sara … Kakak Elkan sudah besar juga, sudah bisa berbicara lancar, sudah waktunya memiliki adik,” balasnya.


“Doakan ya Bu … saya juga udah pengen, cuma nunggu nih kapan Tuhan menjawabnya. Yang terakhir ini, Bu … usai ini tidak ingin memiliki anak lagi,” balas Sara dengan tertawa.


“Amin … Ibu doakan Bu Sara akan segera mengandung yah. Biar makin ramai rumahnya, kalau main barengan jadi makin seru,” jawab Mama Diah.


Ketika para orang tua sedang mengobrol, Evan kembali sibuk membaca buku-buku milik Mira. Walau hanya buku dari flanel dan juga board book untuk anak batita, tapi Evan justru membaca semuanya, karena tidak mungkin jika dia akan bermain boneka. Sementara Elkan justru sibuk bermain dengan Mira. Ketika Mira duduk, Elkan akan ikut duduk. Ketika Mira tengkurap di karpet, Elkan akan ikut tengkurap. Keduanya seolah saling copy-paste. Para orang tua yang melihat sikap Elkan dan Mira pun sampai ketawa-tawa, Belva dan Abraham pun mengabadikan momen itu untuk kenang-kenangan.


“Seru yah bisa kumpul bocah,” ucap Bu Sara kemudian.


“Iya Bu … seru banget. Kak Evan dan Kak Elkan juga baik banget,” balas Marsha.


“Sering-sering main bersama gini, Sha … biar anak-anak bisa kumpul dan bermain bareng. Senang banget melihat mereka bertiga main bersama kayak gitu,” balas Bu Sara dengan tersenyum bahagia mengamati Evan, Elkan, dan juga Mira.

__ADS_1


__ADS_2