
Usai keluarga Agastya pulang, Marsha dan Abraham masih membersihkan rumah, dan mencuci peralatan makan yang tadi mereka gunakan. Sementara Mira menunggu di ruang tamu dengan membuka buku Ensiklopedia yang diberikan oleh Elkan. Dari jauh, Marsha tersenyum agaknya anaknya itu terlihat sangat bahagia, mengingatkannya waktu dulu mendapatkan hadiah pertama dari Abraham membuatnya bahagia. Sampai dia bawa tidur.
"Kenapa senyam-senyum gitu Mama Marsha?" tanya Abraham.
"Tuh, putri kamu ... dapat hadiah dari Elkan sebahagia itu. Mengingatkanku pada diriku yang dulu," balas Marsha.
Abraham pun tertawa, "Jadi, dia putriku atau putrimu?" balasnya.
Marsha turut tertawa, "Putri kita berdua," balas Marsha.
"Tuh, kan benar gitu ... baru benar. Dia putri kita berdua. Jadi, ya sudah seperti aku dan kamu. Emang kamu masih ingat waktu kali pertama pacaran denganku, kamu dapat apa coba?" tanya Abraham.
"Ingat dong ... bantal hati berwarna pink tulisannya Special For You. Masih ada di rumah itu, Mas ... di kamarku," balas Marsha.
Abraham tersenyum, rupanya memang Marsha masih mengingat pemberiaan pertama darinya. Tentu Abraham juga senang karena Marsha masih mengingat pemberiannya.
"Dulu aku masih anak kuliahan Shayang ... menyisihkan uang saku dari Mama buat beliin kamu sesuatu. Sekarang sudah kerja, sudah menjadi suami kamu, malahan gak pernah beliin kamu yah," balas Abraham.
Marsha menggelengkan kepalanya sejenak, "Kan sekarang kamu sudah menafkahi aku dan Mira. Itu sudah pemberian yang sangat besar. Terima kasih Papa Abraham," balas Marsha.
__ADS_1
"Menafkahi itu kewajiban Shayang ... kalau hadiah, malahan sekarang belum. Nanti kapan-kapan aku kasih hadiah," balas Abraham.
"Punya kamu dan Mira, serta Si baby nanti sudah hadiah yang paling indah buat aku, Mas," balas Marsha.
Sebab, Marsha memang tidak menginginkan hal-hal yang bernilai duniawi. Dengan Abraham di sisinya dan selalu menemaninya saja, sudah sangat cukup untuk Marsha. Ditambah dengan hadirnya Mira dan adiknya nanti, kian menyempurnakan kebahagiaan dalam hidupnya.
"Kamu masih ingat pernah kasih aku cincin dari silver itu enggak Mas? Tanda kalau kita sudah pacaran dan pacarannya serius. Kamu ingat?" tanya Marsha kemudian.
"Ingat dong ... masih emangnya?" tanya Abraham lagi.
"Masih ... semua pemberian darimu masih kok. Bantal berbentuk hati, cincin, pembungkus cokelat saat valentine, dan juga kaos couple kita waktu alay dulu," balas Marsha dengan tertawa.
Usai menyelesaikan semua peralatan makan, Abraham dan Marsha pun menghampiri Mira di sana.
"Yuk, naik ke atas Mira," ucap Abraham.
"Gendong Pa," pinta Mira dengan begitu manjanya.
Abraham pun akhirnya menggendong Mira dengan tangan Mira yang masih memegang buku dan boneka beruang dari Elkan itu. Abraham tersenyum, mungkin dulu kalau dia bertemu Marsha saat Marsha masih kecil akan seperti ini jadinya, melihat Mira seolah Abraham melihat Marsha versi kecil.
__ADS_1
"Papa, Mira sayang loh sama Kakak El," ucapnya perlahan.
"Hmm, kenapa Mira sayang sama Kakak El?" tanya Abraham.
"Iya, Kak El baik banget ... tadi dia mengajari Mira membaca loh, Pa ... katanya Mira harus jadi anak yang pintar waktu sekolah."
Abraham menganggukkan kepalanya perlahan, "Yang dikatakan Kak El benar Sayang ... Mira nanti kalau sekolah yang rajin dan pandai yah. Jadi anak yang berprestasi," balasnya.
"Iya Pa ... Kak El juga pintar. Sudah gitu baik sama Mira," balasnya lagi.
"Iya, yang penting Mira juga bisa belajar kalau ketemu sama Kak El. Sayang boleh, tapi harus belajar ... jangan berantem yah," pesan Papa Abraham kepada putrinya itu.
Mira menganggukkan kepalanya, "Iya ... kalau berantem nanti sama kayak Mama dan Papa, yang bikin Mama nangis," jawabnya.
Abraham seketika menatap Marsha, rupanya putrinya itu masih menyimpan memori ketika Marsha menangis karena dirinya yang kurang peka. Padahal ketika anak-anak mengingat sesuatu biasanya ingatan bersifat parsial atau sementara, atau bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama. Semoga saja Mira tidak terus mengingat-ingat hal ini dan bisa melupakannya.
"Maafkan Papa yah ... Papa sudah buat Mama menangis dulu," balasnya.
Mira pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Papa ... jangan diulangi ya Pa ... kan Mama cinta sama Papa. Katanya Mama, Papa adalah orang terhebat buat Mama," ucap Mira yang seakan curhat dengan Papanya.
__ADS_1
Hati Abraham menjadi begitu tersentuh ketika Mira saja bisa mengatakan bahwa dia adalah orang terhebat untuk Marsha. Sebagai seorang suami, Abraham merasa begitu bahagia jadinya. Memang dirinya tidak sempurna, tetapi rupanya dia justru bisa menjadi sosok yang hebat untuk Marsha.