
Selang berganti hari, Marsha merasakan kondisi badannya yang lebih capek bahkan Marsha juga merasa bahwa dia merasa lebih mengantuk dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya. Untung saja, Mira begitu kooperatif, ketika Marsha benar-benar mengantuk dan tertidur, rupanya Mira juga ikut tidur dengan Mamanya. Untuk masalah bermain dan kegiatan lainnya bisa dibicarakan baik-baik dengan Mamanya di rumah.
Sama seperti hari ini, Marsha dan Mira tidur dan saling memeluk di kamar Mira. Ukuran ranjang yang hanya single bed itu nyatanya justru dipakai tidur oleh Mama Marsha dan juga Mira. Begitu terbangun, Marsha menggeser tubuhnya perlahan dan melihat Mira yang masih tertidur. Hingga akhirnya, Marsha memilih turun ke dapur perlahan dan makan. Perutnya terasa begitu lapar padahal dia sudah makan. Namun, rasanya masih begitu lapar.
Kala itu kurang lebih jam 14.00, ketika hendak makan, terdengar suara gerbang berbunyi dan kemudian ada suara orang membuka pintu. Marsha pun menghentikan makannya, dan melihat ke depan, siapa yang tiba-tiba datang dan membuka pintu.
"Shayang," sapa Abraham begitu pintu sudah dibuka dan melihat Marsha yang berdiri tidak jauh dari pintu.
"Mas, kok sudah pulang? Harusnya pulang jam 17.00 sore kan?" tanyanya.
Abraham pun tersenyum dan menggeser berdirinya, "Coba lihat siapa yang datang?"
Marsha menengok ke luar dan melihat ada Mama Diah di sana. Marsha pun seketika meneteskan air matanya sungguh tidak mengira jika mama mertuanya itu kembali datang ke Jakarta. Padahal dalam hati, Marsha juga sangat menanti-nantikan Mama Diah. Hanya saja memang dia tidak berani untuk berbicara, lebih suka memendam semuanya.
"Mama ... kok enggak ngabarin terlebih dulu," ucapnya dengan memeluk Mamanya.
Mama Diah pun tersenyum dan memeluk Marsha. Sungguh, hubungan keduanya tidak seperti mertua dan menantu, tetapi justru terlihat seperti seorang ibu kandung dengan putrinya. Sangat baik dan akrab satu sama lain. Mama Diah justru tertawa dan mengusapi punggung Marsha di sana.
"Kok malahan nangis," balasnya.
"Kangen Mama ... gitu Mama ke sini juga tidak ngasih kabar dulu," balasnya.
"Kan mau buat kejutan ... kalau ngasih tahu dulu, namanya bukan kejutan dong," balas Mama Diah.
__ADS_1
Abraham yang berdiri di dekat Marsha dan Mamanya pun berdehem, "Ehem, duh, mulai Bram jadi anak pungut di sini," balasnya.
Marsha dan Mama Diah pun tertawa, "Sini, mau dipeluk Mama?" tawarnya kepada Abraham.
Lantas Abraham menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak ... duduk Ma," balasnya.
"Padahal Marsha itu menunggu Mama loh ... katanya dulu kalau Marsha mau melahirkan, Mama mau ke Jakarta. Kok ini kandungan Marsha sudah 34 minggu dan Mama belum ke sini. Sudah mulai panik loh Ma," balasnya.
"Pasti Mama ke sini. Tidak mungkin Mama tidak ke sini ... Mama tahu kamu juga butuh Mama dan harus ada yang menjaga Mira. Belum terlambat kan?" tanya Mama Diah.
"Belum Ma ... terima kasih ya Ma," balas Marsha.
"Sama-sama, Sha ... ini Mama bawakan kesukaan kamu. Lumpia Mbak Lien, Dodol Mubarok, dan Kue Tanduk. Ada Bandeng Juwana juga. Nanti berikan untuk Bu Sara juga yah," ucap Mama Diah.
Bagi Mama Diah, untuk urusan oleh-oleh, sudah pasti dia akan memberikan untuk Sara juga. Sebab, bagi Mama Diah, keluarga Agastya juga dekat dengannya dan sudah seperti kerabatnya sendiri.
"Iya Sha ... bagi Mama, mereka juga sudah seperti keluarganya Mama. Mereka juga sangat baik kepada kalian berdua. Makanya Mama juga selalu membawakan untuk mereka," balas Mama Diah.
"Benar Ma ... mereka sudah seperti keluarga untuk Marsha dan Mas Bram. Setidaknya memiliki tetangga yang baik itu sudah bersyukur, Ma," balas Marsha.
"Benar Sha ... tetangga juga adalah saudara. Kamu berikan ke Bu Sara dulu yah. Seperti biasa Lumpianya hanya tahan 3 hari dan juga Bandengnya bisa satu minggu. Ini yang presto jadi tinggal goreng saja, sudah dibumbui dan tidak ada durinya," ucap Mama Diah.
Menuruti perintah dari Mamanya, akhirnya Abraham mengantarkan Marsha ke rumahnya Bu Sara dulu, sementara Mama Diah memilih menengok Mira sebentar yang tertidur. Tidak ingin mengganggu, kemudian Mama Diah memilih mandi dengan air hangat dan istirahat di dalam kamarnya.
__ADS_1
Di kediaman Agastya, Marsha dan Abraham pun sudah memasuki rumah besar milik Agastya dan bertemu dengan Bu Sara di sana.
"Tumben siang-siang ke sini, Sha," ucap Bu Sara yang kaget karena siang hari Marsha ke rumahnya. Sebab, biasanya Marsha ke rumah mereka ketika sore.
"Iya Bu Sara ... maaf mengganggu istirahatnya Bu Sara yah," balas Marsha.
"Enggak mengganggu sama sekali. Justru kamu kalau siang kesepian di rumah, main saja ke sini," balas Bu Sara.
"Beberapa siang ini saya lebih banyak tidur, Bu ... sudah fase pinggang berat dan mengantuk parah," balasnya.
"Biasa Sha, sudah trimester akhir. Sudah mulai engap yah ... kamu gerah juga enggak? Aku dulu gerah banget, sampai sehari mandi berkali-kali," balas Bu Sara.
"Iya Bu ... gerah banget. Sampai sering tidak keluar dari kamar yang ada AC-nya. Oh, iya Bu ... sampai lupa kan saya. Ini ada oleh-oleh dari Mama Diah. Beliau datang lagi dari Semarang," ucap Marsha.
Bu Sara menerima oleh-oleh dari Mama Diah dan tertawa, "Kebetulan banget loh ... aku itu kemarin itu berkata dalam hati. Wah, musim hujan gini lumpia Semarang enak, hangat-hangat gitu. Eh, sekarang beneran dapat Lumpia Semarang. Sampaikan terima kasih untuk Mama yah. Ajakin Mama ke sini, nengokin cucunya yang cewek," balas Bu Sara.
"Iya Bu ... nanti lain kali kami ke sini sama Mama," balasnya.
"Harus dong ... Mama kamu setia ya Mas Bram ... sudah waktunya persalinan akhirnya ke sini. Jadi, nanti waktu Marsha bersalin bisa fokus dan Mira sudah ada neneknya," balas Bu Sara.
Abraham yang sejak tadi diam pun akhirnya berbicara juga. "Benar Bu ... tadi juga barusan ngasih tahu Bram kalau berangkat dari Semarang. Benar-benar kejutan sih," balas Abraham.
"Setidaknya ada orang tua itu enak yah. Kalau kita bersalin kan ada yang membantu dan juga ada yang mengasuh Mira. Padahal nanti kalau tidak ada Mama di sini, Mira dititip di sini tidak apa-apa. Biar bisa main sama Elkan," balas Bu Sara.
__ADS_1
"Rencana B saya begitu Bu Sara ... cuma takut merepotkan Bu Sara," balas Marsha.
"Enggak repot lah, Sha ... kita keluarga, Sha ... saling tolong-menolong. Tidak apa-apa," balasnya.