Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ungkapan Kerinduan


__ADS_3

Begitu selesai makan, selang beberapa menit Mira kali ini meminta kepada Papanya untuk menemaninya tidur. Itu semua juga karena merasa Papanya bekerja lebih dari setengah hari kali ini. Ketika Abraham menidurkan Mira, Marsha memilih bersantai di dalam kamarnya. Berselancar dengan handphonenya dan juga sesekali melihat media sosial saja.


Hampir setengah jam berlalu, dan kini Abraham sudah masuk kembali ke dalam kamar Marsha, dan mengambil tempat di sisi istrinya itu.


"Mas," sapa Marsha begitu suaminya itu kembali.


"Ya Shayangku ... kamu baru ngapain?" tanya Abraham.


"Main-main sama handphone saja kok Mas," balasnya dengan menunjukkan handphonenya dan memang Marsha sedang bermain dengan media sosialnya sekarang.


"Seharian kamu ngapain aja tadi? Tumben masak Spaghetti ... biasanya kamu kan masaknya Indonesian Food," balas Abraham.


"Iya, itu tadi request dari putrinya Papa tuh ... mau dimasakin Spaghetti gara-gara dia dengar lagu anak-anak judulnya Pasta Song. Seharian nyanyian lagu ini."


Pasta, pasta, pasta everywhere!


Pasta, pasta, pasta you can share!


There's Spagehtti, Ravioli, Fettucchine or Bowtie!


Pasta everywhere!


It's up to you, which do you like?


Marsha menyanyikan pula lagu anak-anak itu, dan Abraham mendengarkannya dengan terkekeh perlahan. Lucu mendengarkannya. Istrinya yang terbiasa menyanyi lagu-lagu pop, kini justru menyanyikan lagu anak-anak.


"Pinter dia Shayang," balas Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Daripada dia bosen dan mencari Papanya. Ya udah, cooking class sama Mamanya saja," balas Marsha.


Abraham menganggukkan kepalanya pula, "Aku senang Mira tumbuh sehat dan pinter. Di usianya dia udah hafal lagu anak-anak bahasa Inggris satu bait itu sudah bagus banget. Sapa tahu nanti anakku bisa kuliah di luar negeri," balas Abraham.

__ADS_1


"Emangnya boleh kalau Mira besok kalau besar kuliah di luar negeri?" tanya Marsha.


"Boleh saja ... biar dia menggapai mimpinya. Sukur-sukur nanti pasangannya mau mendukung dan mensupport dia," balas Papa Abraham.


"Sama kayak kamu yang selalu mensupport aku," balas Marsha.


Abraham tersenyum, kemudian dengan di ranjang itu. Dia meminta Marsha untuk duduk di pangkuannya. "Sini Shayang ... aku kangen ... sini," ucapnya seraya menepuk pahanya dan meminta Marsha untuk duduk di pahanya, di pangkuannya.


Mengikuti apa yang diinginkan suaminya, Marsha pun duduk di pangkuan suaminya, tangannya mengalung indah di leher Abraham.


"Kenapa Mas?" tanyanya.


"Kangen," balas Abraham yang meraba sisi wajah Marsha, dan lantas ibu jari dan jari telunjuknya mencapit dagu Marsha di sana.


Begitu perlahan, dan pangkasan jarak yang pasti, Abraham kemudian melabuhkan kecupan demi kecupan di bibir Marsha. Dengan dua pasang mata yang masih saling memandang, di dalam tatapan yang seakan menusuk hingga ke dalam sanubari itu, Abraham kemudian memiringkan sedikit wajahnya, dan lantas dia membuka mulutnya untuk bisa memberikan hisapan demi hisapan, lu-matan demi lu-matan di bibir Marsha. Hingga dua pasang bola mata yang sebelumnya terbuka, perlahan-lahan meredup.


Dua bibir yang bertemu pun saling menyapa dalam kesan yang hangat dan basah. Dalam hisapan yang begitu dalam dan juga dalam usapan yang menggetarkan jiwa. Dalam setiap hisapan dan lu-matan, ada de-sah dan pekikan di tenggorokan keduanya. Kian dalam, Abraham mengecup dan mencumbu, kian kuat pula cengkeraman tangan Marsha di bahu suaminya.


"Aku kangen kamu Shayang," ucap Abraham dengan berbicara tepat di depan bibir Marsha.


Sedikit menarik wajahnya, lantas Abraham menatap Marsha dengan lipatan bibir bawahnya yang sudah bengkak di sana. "Mau kangen-kangenan malam ini?" tanyanya. 


"Hmm, iya," balasnya. 


Abraham tersenyum penuh arti di sana, dan dia kembali memagut bibir Marsha. Bibirnya mengecup begitu dalam, lidahnya menyapa dengan begitu basah. Hanya dengan ciuman saja, Marsha sudah benar-benar terlena. Ditambah dengan tangan Abraham yang kian bergerilya dan juga membelai lekuk-lekuk feminitas di tubuhnya. Kendati demikian, Abraham akan hati-hati dan mengedepankan kenyamanan Marsha yang tengah hamil. 


Kian dalam ciuman Abraham, kini tangan Marsha justru menarik ke atas kaos yang dikenakan Abraham, membuat suaminya itu tampil shirtless di hadapannya. Dalam pangkuan Abraham, dengan kedekatan yang begitu intim, Marsha sudah bisa merasakan pusaka suaminya yang sudah begitu mengeras. Ditambah gesekan tubuh keduanya, Marsha benar-benar bisa merasakan keadaan turn on yang amat sangat mutlak. 


Seakan ingin memuaskan hasrat suaminya yang mengaku rindu. Kali ini, Marsha perlahan turun dari pangkuan suaminya. Lantas, dia melepaskan benang demi benang di tubuh suaminya. Dia melihat pusaka yang tegak berdiri. Marsha menggenggamnya, menggerakkannya naik dan turun. Abraham yang menggila dengan menengadahkan wajahnya dan de-sahan yang merasakan pria itu benar-benar merasakan kenikmatan. Kian nikmat, mana kala ada sapaan yang basah dan hangat dari lidah dan rongga mulut Abraham yang membuatnya menggeram. 


"Oh, Shayang."

__ADS_1


Kenikmatan tak tertahankan, kenikmatan yang menyentuh dari ubun-ubun kepala sampai ujung kakinya. Nikmat, dan luar biasa. Itu adalah dua kata yang dirasakan Abraham sekarang ini. 


Tak ingin membiarkan Marsha bekerja keras seorang diri. Abraham pun menyadarkan dirinya, dia menarik wajah Marsha dari bawah sana. Pria itu mengecup bibir Marsha di sana, dan lantas membaringkan tubuh Marsha dengan sebelumnya membuat sang istri polos mutlak di hadapannya. 


Bulatan indah buah persik yang menggoda, Abraham sapa dengan rongga mulutnya yang hangat. Menghisapnya. Mengulumnya. Memberikan gigitan demi gigitan kecil di puncaknya. 


"Mas ... Oh, Mas!" 


Marsha bergerak gelisah mana kala merasakan mulut sang suami memberikan gigitan di puncaknya hingga benar-benar menegang dan berkilap. Tangan Marsha meremas rambut Abraham, bahkan dia membenamkan wajah suaminya di dadanya. Marsha memekik, ketika gigitan itu berganti ******* yang membuat menggeliat. 


Dia merasa terombang-ambing dalam badai kenikmatan mana kala Abraham menginvasi lembah di bawah sana dengan lidahnya. Sapuan lidah yang hangat dan basah benar-benar memporak-porandakan lembah itu. Membuatnya kian basah. De-sahan Marsha dan juga pekikannya justru membuat Abraham begitu bersemangat di sana. 


"Uh, Mas!"


Tubuh Marsha menegang, darahnya seakan berdesir hebat dan sensasi terpaan badai yang membuatnya mencapai puncak-puncak kenikmatan. 


Abraham kembali bersandar di head board tempat tidurnya, lantas dia meminta Marsha untuk duduk di pangkuannya lagi. 


"Di pangkuanku, Sayang ... supaya tidak menekan perut kamu," ucapnya. 


Menurut. Marsha pun perlahan duduk di pangkuan suaminya, dengan sebelumnya menyatukan pusaka yang tegak berdiri itu ke dalam cawan surgawinya yang begitu hangat, basah, dan erat. 


Tingkat kelembaban berpadu sempurna dengan hunusan Sang Pusaka yang kian licin bergerak, menusuk, menghujam, serta padu dalam gerakan maju dan mundur. Ada tangan Abraham yang meremas bulatan indah di depan matanya, mata yang terkadang terbuka menjadi tanda bahwa keindahan dan kenikmatan ini sungguh nyata. Ditambah dengan mencenkeraman tangan Marsha di bahunya dan cengkeraman cawan surgawi yang sungguh memabukkan. 


"Nikmat Sayang ... astaga! Kamu senikmat ini!"


Abraham meracau, mende-sah, dengan mata yang sepenuhnya tertutup kabut. Sungguh indah. Namun, Abraham tahu bahwa ambang batasnya hampir tiba. Dia menusuk dari bawah dengan begitu keras, bibirnya bergerak dan memberikan gigitan di leher Marsha, menghisapnya hingga tercetak tanda merah. 


Disertai dengan gerakan seduktif yang kian lama kian kacau. Hingga Marsha mende-sah dan merengek di sana. Pun dengan Abraham yang benar-benar merasakan kenikmatan. 


"Sampai Shayang ... aku sampai."

__ADS_1


"Aku ... juga, Mas."


Hingga dibatas keduanya benar-benar meledak. Tubuh yang bergetar hebat dan peluh yang memberi kesan liat dan basah. Di pangkuan suaminya, Marsha memejamkan matanya dengan begitu rapat, mencerukkan wajahnya di antara leher dan dada suaminya dengan pelukan yang begitu erat. Sungguh luar biasa, ledakan yang membuat keduanya pecah. 


__ADS_2