
Keesokan harinya, Abraham dan Marsha kini akan mengajak Mira untuk berwisata ke Farm House yang berada di kawasan Ungaran. Di sana ada mini kebun binatang dan juga miniatur dunia yang sering menjadi destinasi wisata bagi para orang tua yang memiliki anak-anak kecil.
"Mama ikut enggak ke Farm House Ma?"
Marsha menawari kepada Mama Diah untuk ikut serta ke arah Ungaran dan mengajak Mira melihat aneka satwa di sana. Sebab, mumpung libur dan Abraham bisa mengajak anak dan istrinya jalan-jalan.
"Mama di rumah saja. Kalian menikmati liburan bertiga tidak apa-apa," balas Mama Diah.
"Baiklah Ma ... kami pamit ya Ma," balas Marsha dan berpamitan dengan Mama Diah.
Abraham segera melajukan mobilnya dari Semarang Kota menuju ke Ungaran. Dibutuhkan paling tidak satu jam perjalanan untuk sampai di Farm House. Jika Semarang Kota memiliki cuaca yang panas, di Ungaran ini hawanya begitu sejuk karena memang berada di area pegunungan Ungaran yang sejuk dan dingin.
"Mira jalan-jalan yah ... ini tempat asalnya Mama dan Papa, Sayang ... lihat sapi ya di Mini zoo nanti," ucap Marsha sembari memangku Mira itu.
"Anteng dia, Yang ... tidak nangis loh diajakin jalan-jalan," balas Abraham.
"Iya, Mira anteng ... suka kali ya Mas, diajakin pulang ke kampung halaman Papa dan Mamanya. Kalau ke Ungaran jadi kangen ke Gedong Songo dan bertemu dengan kamu di sana," balas Marsha.
Marsha teringat kala dia pergi ke Candi Gedong Songo dan justru bertemu lagi dengan Abraham di sana. Pertemuan kembali yang membawa Marsha untuk bisa menjadi milik Abraham seutuhnya dan juga sepenuhnya.
Abraham yang mendengarkan cerita Marsha pun tersenyum, "Mau ke sana? Mengulangi memori kita berdua?" tanya Abraham.
Marsha menggelengkan kepalanya, "Enggak ... di sana sering turun hujan dengan tiba-tiba. Jadi, enggak usah. Kasihan Mira, Mas. Ini aja, di ransel aku taruh payung, jaga-jaga kalau nanti gerimis atau hujan," balasnya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, perjalanan satu jam telah dilalui oleh Abraham dan kini mereka sudah tiba di Farm House. "Sudah sampai. Sebentar, aku pakai hipseat dulu yah ... biar aku yang gendong Mira," ucap Abraham.
Kemudian Marsha masih menunggu di dalam mobilnya, Marsha mengoleskan sedikit minyak telon dengan kandungan bunga Lavender supaya Mira tidak digigit nyamuk. Kemudian Marsha memposisikan Mira dalam gendongan Abraham.
"Papa mau pake topi?" tanya Marsha kemudian.
"Boleh, agak terik, Shayang," balasnya.
Marsha pun mengambilkan topi dari dalam mobil dan mengenakannya sekaligus ke kepala Abraham. "Nah, gini kan jadi tidak panas," balas Marsha.
Ketiganya kemudian membeli tiket terlebih dahulu. Mereka disambut dengan cuaca yang cukup sejuk walau matahari memang teras terik. Gemericik air dari sungai yang ada di situ membuat ketiganya merasakan sensasi yang dekat dengan alam. Juga ada patung sapi yang lucu yang menyambut mereka. Mira kecil pun tampak menunjuk-nunjuk patung sapi lucu yang ada di depan air mancur itu.
"Itu Sapi, Mira ... Sa ... Pi. Sapi. Gimana suaranya sapi?" tanya Marsha kepada bayinya itu.
Abraham menjawab dan menirukan suara sapi, hingga Mira pun tertawa dan sambil bertepuk tangan. Begitu menggemaskannya Mira, hanya sekadar melihat patung sapi saja, dia sudah begitu senang.
Kemudian Abraham membeli tiket untuk dua orang saja, karena untuk Mira masih dianggap free tiket. Kemudian mereka memasuki kawasan Mini Zoo terlebih dahulu. Ada aneka satwa mulai dari kambing, burung dara, kura-kura, yang berada di dalam mini zoo itu. Lantaran tempat itu juga berdekatan dengan pabrik pengolahan susu sterilisasi UHT dan yogurt, maka primadona ternak di tempat itu adalah sapi. Ya, sapi dengan tubuhnya yang loreng hitam dan putih yang begitu lucu. Bahkan ada live pertunjukkan memeras susu sapi secara langsung. Marsha dan Abraham pun juga turut menontonnya.
"Tuh Yang ... tekniknya. Lucu yah," ucap Abraham.
"Hii, geli Mas," sahut Marsha.
Abraham menyenggol lengan Marsha dengan lengannya dan berbisik lirih kepada istrinya itu, "Geli kenapa Sayang? Mau digituin?"
__ADS_1
Ya Tuhan, begitu absurdnya Abraham hingga menanyakan pertanyaan yang seperti itu. Sampai Marsha menggelengkan kepalanya.
"Enggak ... ishhs, Mas i ... malu tahu. Mira, Papa kamu ini loh," balas Marsha dengan menyipitkan kedua matanya menatap Abraham di sana. Jujur saja, kadang sebel Marsha dengan sikap Abraham yang seperti itu. Suaminya itu kadang emang ngadi-ngadi.
"Serunya ke Farm House seperti ini Yang ... tahu peternakan. Jadi, Mira juga bisa belajar secara langsung. Walau pun juga dia belum sepenuhnya paham. Cuma enggak apa-apa, nanti kalau besar kita ke kebun binatang lagi ya Mira," balas Abraham.
Setelah berputar-putar dan melihat aneka satwa, kini mereka melihat Kuda Pony yang lucu. Marsha pun mengabadikan momen itu dengan kamera handphonenya. Bahkan sesekali Marsha juga berfoto bersama dengan suaminya dan Mira.
"Ke Mini Mania abis ini yah ... lihat miniatur ikon dunia," ajak Abraham kepada Marsha.
Sehingga keduanya berjalan, menyeberangi jembatan, dan menuju ke area mini mania. Di sana memang ada miniatur bangunan ikonik di dunia seperti Menara Eiffel di Paris, Menara Miring Pisa di Italia, Candi Borobudur di Magelang, Patung Liberty di New York, dan juga berbagai bangunan ikonik lainnya.
"Aku belum pernah mengajakmu ke luar negeri, tetapi setidaknya aku bisa menunjukkan kepadamu mini mania. Jalan-jalannya di sini dulu ya Shayang ... next kita bisa ke luar negeri," ucap Abraham.
Terbersit keinginan Abraham untuk bisa mengajak istrinya itu jalan-jalan ke luar negeri. Memperlihatkan bangunan ikonik atau menunjukkan salju kepadanya, tetapi Abraham sadar bahwa itu belum bisa dia lakukan.
"Tidak penting, Mas ... berada di sisimu adalah hal yang terindah untuk aku. Tidak perlu aku keliling dunia, asal bisa bersama kamu dan Mira," balas Marsha.
Abraham tersenyum di sana, "Makasih Shayangku ... kamu ngertiin aku banget."
"Saling mengerti dan memahami satu sama lain, Mas. Aku tidak perlu melihat semua ini karena duniaku yang nyata adalah kamu dan Mira. Duniaku yang aku sayangi dan cintai."
Itu adalah ungkapan yang tulus dari Marsha bahwa dia tidak ingin keliling dunia dan melihat tempat-tempat yang menakjubkan. Cukup baginya untuk terus bersama suami dan anaknya, dunianya yang nyata.
__ADS_1