
Tidak ingin menunggu terlalu lama, kali ini Abraham benar-benar mengajak Marsha untuk mengunjungi Obgyn. Mereka masih mengunjungi Obgyn yang dulu membantu Marsha kala melahirkan Mira yaitu Dokter Indri. Bahkan siang hari Marsha sudah mendaftar via Whatsapp terlebih dahulu supaya mendapatkan nomor antrian yang tidak terlalu lama.
Sore harinya, begitu pulang dari studio, Abraham segera mengajak Marsha untuk ke Rumah Sakit guna memeriksakan kehamilannya.
"Siap Shayang? Sekarang yah, biar nanti pulangnya tidak terlalu malam," ucap Abraham.
"Iya Mas ... ini kan juga Mira di rumah sama Mama Diah, jadi kalau bisa supaya tidak terlalu lama," balas Marsha.
Kali ini memang Marsha dan Abraham memilih ke Rumah Sakit seorang diri, tetapi di lain waktu pastilah mereka akan mengajak serta Mira. Sebab, mereka juga ingin mempersiapkan Mira menjadi kakak sejak adiknya masih berada di dalam kandungan Mamanya.
"Tidak keburu-buru, Sha ... Mira yang pasti aman bersama Mama kok. Santai saja, penting kalian menikmati pemeriksaan kali ini. Mau lanjut jalan-jalan juga boleh," balas Mama Diah.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Mamanya, membuat Marsha dan Abraham pun tertawa, "Berarti kalau kami mampir pacaran, ngedate, boleh dong Ma?" tanya Abraham.
"Boleh saja ... suami istri, sesekali ngedate bersama tidak apa-apa kok," balas Mama Diah.
"Yes, berarti ayo kapan-kapan ngedate bersama, Shayang ... biar Mira diajak Eyangnya," balasnya.
Marsha pun terkekeh geli dengan kelakuan suaminya itu, "Girang banget sih Mas ... aku susah lepas dari Mira. Sejak kecil, yang ngurusin Mira sendiri ya aku."
Memang begitu hati seorang Ibu, begitu sukar untuk bisa jauh dari anaknya. Jika sudah memiliki anak, prioritas seorang ibu pastilah kepada anaknya. Pun begitu dengan Marsha yang merasa tidak bisa jauh-jauh dari Mira.
"Ya, sudah … titip Mira ya Ma … kami ke Rumah Sakit dulu,” pamit Marsha kepada Mama Diah.
Kemudian Abraham segera mengajak Marsha ke Rumah Sakit. Menyusuri jalan Ibukota sore itu, untunglah mereka tidak kejebak macet, dan mengantri di Rumah Sakit juga tidak terlalu lama karena Marsha sudah mendaftar terlebih dahulu dengan menggunakan aplikasi Whatsapp.
“Setelah tiga tahun ke sini lagi ya Mas,” ucap Marsha dengan mengamati poli kandungan di Rumah Sakit itu.
“Iya Shayang, tidak banyak yang berubah yah,” balas Abraham.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Iya … dulu waktu aku di Semarang sih, ke bidan saja, Mas … setelah pindah lagi ke Jakarta, baru ke Rumah Sakit sama kamu,” balasnya.
Abraham kemudian tersenyum, “Sekarang aku bisa menemani kamu, dari mulai kamu hamil. Seneng banget sih,” balas Abraham.
Ini adalah pengakuan yang jujur dari Abraham bahwa dia merasa senang bisa menemani Marsha sejak awal kehamilan. Bahkan ketika Marsha memberikan kado istimewa itu saja, Abraham sudah merasa begitu senang rasanya. Kurang lebih dua puluh menit menunggu, sampai akhirnya perawat memanggil nama Marsha. Sebelumnya, Marsha harus menimbang berat badan terlebih dahulu dan kemudian dilakukan pengukuran tekanan darah.
__ADS_1
“Sudah Bu Marsha, silakan masuk,” ucap perawat tersebut.
Abraham dan Marsha pun memasuki ruang konsultasi itu, dan disambut dengan ramah oleh Dokter Indri. “Selamat malam, kelihatannya dulu pernah periksa dengan saya juga kan?” tanya Dokter Indri yang lupa-lupa ingat.
“Iya Dokter … tidak tahun lalu,” balas Marsha.
Kemudian Dokter Indri mencoba untuk mengingat-ingat wajah Marsha, dan barulah kembali ingat dengan sosok Marsha. “Wah, ini brand ambassadornya Sava Beauty Care kan? Wajahnya menghiasi skincare SBC,” balas Dokter Indri.
Jujur, Marsha justru merasa bangga. Dulu, dirinya dikenal sebagai model dan sekaligus istri aktor papan atas. Bahkan usai perceraiannya, Marsha masih dikenal sebagai janda dari sang aktor. Akan tetapi sekarang, dengan semakin berjalannya waktu, Marsha dikenal sebagai brand ambassador produk skincare milik Bu Sara itu.
“Iya … benar Dok … saya hanya BA saja,” balas Marsha.
“Pemiliknya Bu Sara itu ya Bu Marsha?” tanya Dokter Indri lagi.
“Iya, Sava itu adalah akronim dari Sara dan Belva. Milik Bu Sara dan Pak Belva Agastya,” balas Abraham.
Tentu Abraham tahu karena yang membuat logo dan berbincang dengan Belva mengenai penamaan itu Abraham sangat tahu. SaVa memang akronim dari nama Sara dan Belva, dan sementara keluarga Abraham adalah brand ambassador dan konseptor digital untuk produk skin care itu.
“Luar biasa yah … Bu Sara itu pasien saya juga, sebentar lagi akan mulai melakukan operasi Caesar,” balas Dokter Indri.
“Jadi, Bu Marsha, keterangan hari pertama dan hari terakhir menstruasi sudah sekitaran 1,5 bulan yang lalu yah?” tanya Dokter Indri.
“Iya, benar Dok,” balas Marsha.
“Baik, kita akan cek yah … kalau 1,5 bulan itu jika positif janin bisa berusia antara 4-7 minggu. Oleh karena, embrio yang masih kecil, kita akan lakukan pemeriksaan dengan USG transvaginal yah,” jelas Dokter Indri.
Tongkat USG yang sudah diberikan USG gell kini siap dimasukkan ke dalam inti sari tubuh Marsha. Melihat besarnya tongkat USG Gell membuat Marsha bergidik ngeri.
"Sakit tidak Dokter?" tanyanya.
"Tidak ... tidak sakit sama sekali. Justru dengan menggunakan USG Transvaginal kita bisa organ dalam sistem reproduksi wanita, seperti rahim, saluran telur, indung telur, leher rahim, dan lainnya. Tidak sakit. Sekarang tarik nafas yah ... tolong tidak berpikir yang aneh-aneh, dan saya akan masukkan perlahan," instruksi dari Dokter Indri.
Kemudian Dokter Indri mempersilakan kepada Abraham untuk melihat ke monitor. "Silakan bisa dilihat ke monitor," jelas Dokter Indri.
Abraham pun menganggukkan kepalanya dan menatap ke monitor. Benar-benar mendebakan momen ini, sampai Abraham beberapa kali membuka matanya lebar-lebar dan melihat apa yang ada di dalam rahim istrinya.
__ADS_1
"Hasil testpacknya positif yah?" tanya Dokter Indri.
"Iya, positif, Dok," balas Marsha.
"Memang positif ya ..., tapi masih sangat kecil. Kira-kira enam minggu," jelas Dokter Indri.
Ya, embrio di dalam rahim Marsha masih begitu kecil, baru berusia 6 minggu. Masih begitu kecil, di monitor hanya terlihat layaknya bintik kecil yang berenang-renang di dalam rahim Marsha.
"Janin dengan usia 6 minggu itu ukurannya kurang lebih sebesar kacang polong dengan ukuran panjang sekitaran 2-5mm. Pada minggu ini, otak dan sistem saraf janin berkembang sangat cepat. Matanya juga sudah mulai terbentuk pada masing-masing sisi kepala dan terlihat seperti titik gelap. Jika dilihat dengan USG, tubuh janin terlapisi oleh lapisan tipis yang tembus cahaya. Ini membuat tubuhnya terlebih seperti transparan. Sistem pencernaan dan pernapasan bayi akan mulai terbentuk dengan baik. Sel-sel tunas juga berkembang menjadi bakal lengan dan kaki yang menyerupai dayung."
Penjelasan dari Obgyn yang begitu lengkap dan detail seperti ini yang membuat Marsha seolah kangen dengan momen kehamilan. Tidak mengira bahwa memang benar ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam rahimnya. Tentu Marsha dan Abraham pun begitu sangat bersyukur.
"Oke, sudah yah ... kita bisa lanjutkan dengan sesi konsultasi," ucap Dokter Indri dengan perlahan-lahan mengeluarkan tongkat USG dari inti sari tubuh Marsha, dan kemudian mencetakkan hasil USG.
"Ada mual dan muntah tidak Bu? Biasanya hamil muda seperti ini, Ibu akan dilanda mual yang hebat," tanya Dokter Indri.
Marsha menggelengkan kepalanya dan sedikit tertawa, "Tidak ... saya sehat kok, Dokter. Suami justru yang mual dan muntah," balas Marsha.
"Couvade Syndrom ya Pak? Mengganggu tidak? Jika mengganggu bisa saya resepkan obat anti mual," tanya Dokter Indri.
"Mual dan muntah pagi hari itu, Dokter ... kalau siang sampai malam sehat, nanti bangun tidur mual lagi," balas Abraham.
"Jadi, ingin obat pereda mual tidak?" tanya Dokter Indri lagi.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Boleh deh Dokter ... kira-kira berapa lama ya Dokter?" tanya Abraham.
"Menuju tiga atau empat bulan nanti bisa hilang dengan sendirinya kok Pak," balas Dokter Indri.
Marsha dan Abraham yang mendengarkannya sama-sama tertawa. Itu berarti memang mereka masih harus menunggu sampai satu bulanan sampai Couvade Syndrom bisa hilang dengan sendirinya.
"Sabar berarti ya Dokter," sahut Abraham.
"Benar Pak, itu berarti Bapak sayang banget sama Istri yah, jadi ikatan hatinya kuat sekali," goda Dokter Indri.
Abraham dan Marsha yang mendengarkannya tertawa. Biasanya memang couvade syndrom bisa terjadi karena ikatan kuat yang antara suami dan istri. Oleh karena itu, mendengar ucapan Dokter Indri, baik Marsha dan Abraham hanya tertawa.
__ADS_1