
Tidak terasa sudah tiga hari lamanya Marsha berada di Semarang. Di Semarang, Marsha benar-benar menenangkan dirinya. Tak ayal, justru suasana hati Marsha menjadi lebih baik, tidurnya menjadi lebih nyenyak, dan juga selera makannya yang lebih baik.
Tentu ini adalah perubahan yang baik, sampai Mama Diah merasa memang Marsha lebih sehat dan bahagia. Selera makannya juga lebih baik. Dulu di Jakarta, hanya memakan beberapa sendok saja Marsha sudah merasa kenyang. Sekarang, Marsha bahkan bisa menambah porsi makannya.
"Lebih bahagia di Semarang ya Sha?" tanya Mama Diah kepada menantunya itu.
"Iya Ma ... selera makan Marsha lebih baik di sini. Baru tiga hari sudah naik dua kilogram. Mira juga senang bisa main di sini," ucapnya dengan memperhatikan Mira yang sedang bermain-main di rumah Eyangnya itu.
"Syukurlah ... Mama juga mengamati kalau kamu menjadi lebih baik sekarang."
"Mungkin Marsha juga penat dengan kesibukan Ibukota dan rutinitas yang sehari-hari begitu saja Ma ... jadinya bikin cepat emosi," balas Marsha.
Ya, ada satu hal yang Marsha pahami mungkin juga kurangnya waktu melakukan hal-hal yang baru. Hanya di rumah dan juga mengasuh Mira, selebihnya kegiatan Marsha juga tidak jauh-jauh dari rumah membuat suasana hatinya menjadi buruk. Namun, ketika di Semarang, menikmati suasana baru, dan juga merasakan hal-hal yang bukan sekadar rutinitas membuat Marsha merasakan moodnya membaik, emosinya juga stabil.
"Lain kali, kalau memang kamu tidak bahagia, cari kebahagiaan sendiri. Ambil jeda di sela-sela mengurus rumah dan mengasuh Mira. Misal kamu nonton film kesukaan kamu, pergi ke salon, atau apa gitu. Ibu hamil jangan bersedih terus. Banyak nangis malahan selama hamil," balas Mama Diah.
Marsha kemudian bercerita kepada Mamanya, "Dulu awal hamil Mira itu, Marsha sebenarnya juga secara emosi meledak-ledak Ma ... hamil pertama dan sendirian. Waktu itu, Marsha juga ada di Semarang yah, pernah Marsha dari Ungaran menyetir mobil sampai ke Semarang kota untuk beli Lumpia Gang Lombok. Mungkin merasa tidak ada yang menikahi, jadinya ya sudah lah ... apa-apa sendiri. Kalau teringat sesuatu yang menyakitkan ya Marsha larinya nangis," cerita Marsha.
__ADS_1
Mama Diah mendengarkan cerita Marsha, tidak mengira juga bahwa menantunya itu sebenarnya merasakan emosinya lebih meledak ketika hamil Mira dulu. Perjalanan naik turun area Ungaran menuju Semarang bagi Ibu hamil yang mengemudikan mobil sendiri memang berbahaya, banyak jalanan yang turun dan kemudian menanjak.
Hanya saja kala itu, Marsha merasa sendiri dan tidak memiliki suami, sehingga apa-apa dilakukan sendiri. Sekarang, karena sudah memiliki Abraham, dia pikir bahwa suaminya akan menuruti apa yang dia mau. Walau memang ibu hamil yang ngidam itu pengennya remeh temeh, tetapi itulah yang dia inginkan.
"Bukan Marsha mengadu ya Ma ... cuma kan Marsha pengen Roti Gambang, ya mbok iya berangkat beliin. Toh, kalau Mas Bram tidak di rumah di akhir pekan, Marsha juga tidak meminta. Malam, Marsha minta jangan tidur dulu, Marsha pengen menikmati waktu berdua, tapi Mas Bram kelelahan. Kok rasanya, selama Marsha hamil justru tidak diperhatikan sama suami sendiri. Padahal dulu, Mas Bram itu sabar banget ... bisa mengerti Marsha, sekarang kok rasanya ogah-ogahan gitu. Sampai Marsha pengen martabak aja, dia mual mencium adonan martabak. Akhirnya, Marsha turun beli sendiri dan makan sendiri di dekat penjualnya. Sedih Ma," cerita Marsha dengan jujur.
Sekali lagi ini bukan mengadu, tetapi memang Marsha bisa bercerita apa pun kepada Mama mertuanya. Toh, Mama Diah juga bijaksana dan bisa menyingkapi segala sesuatunya. Sehingga Marsha bisa menceritakan perasaannya. Sedikit bercerita, membuat hati merasa lega.
"Terus, sekarang ... setelah berjauhan dengan Abraham, kamu kangen enggak?" tanya Mama Diah.
"Memeluk rindu seorang diri, Ma ... Mas Bram tidak kangen Marsha," balasnya.
Ini adalah ungkapan jujur, karena dalam tiga hari ini hanya beberapa kali saja pesan yang Abraham kirimkan. Rasanya juga, Marsha hanya dirinya sendiri yang menggenggam rindu, tetapi tidak suaminya.
Mama Diah kemudian menepuki bahu Marsha di sana, "Dia juga kangen kamu kok ... dia bilang sama Mama kalau dia sangat kangen kamu dan Mira," balasnya.
Marsha menangis di sana, tersedu-sedan dengan linangan air mata yang terus membasahi pipinya. Mungkin bagi Marsha, ini adalah saat terburuk untuknya.
__ADS_1
"Aku juga kangen kamu, Shayang ....."
Ketika Marsha menangis, dia mendengar suara bariton yang tidak asing di telinganya. Tidak mungkinkan suaminya itu menyusulnya sampai ke Semarang.
Rupanya dari depan pintu ada Abraham yang datang dengan memanggul ransel di bahunya. Melihat Abraham yang tiba-tiba datang, tangisan Marsha justru kian pecah. Benar-benar sampai sesegukan rasanya.
"Sudah jangan nangis. Nanti perutnya kram lagi. Tuh, yang kamu kangenin sudah datang ... Bram juga kangen kamu, bukan rindu seorang diri," balas Mama Diah.
Memang dalam tiga hari, Abraham lebih banyak berkomunikasi dengan Mama Diah. Tak jarang, Mama Diah diam-diam memotret Marsha dan juga mengirimkannya kepada Abraham. Mertua yang baik tidak akan membiarkan anak dan menantunya bertengkar dan tidak menyelesaikan masalahnya. Mertua yang baik akan membuat jembatan dan membantu anak serta menantunya untuk berbaikan, melakukan rekonsiliasi dan juga bisa menyelesaikan semua perkara dengan kepala dingin.
Abraham segera melepas ransel di punggungnya, dan berjalan untuk memeluk Marsha di sana.
"Aku juga kangen kamu ...."
Abraham mengatakan bagaimana perasaannya kepada Marsha. Perasaan bahwa dia benar-benar kangen. Abraham dalam tiga hari ini juga melakukan instrospeksi bahwa pulang ke rumah tanpa ada istri dan anak begitu menyiksa. Abraham juga membaca bahwa mood dan emosi ibu hamil bisa naik turun, tetapi dia yang kurang peka. Dalam kesendirian, Abraham menyadari kesalahannya.
Dalam pelukan Abraham, tangisan Marsha kian pecah rasanya. Ini adalah pertemuan yang tidak dia bayangkan. Merasa hanya dirinya yang merindukan suaminya, tetapi yang terjadi suaminya itu rela datang jauh-jauh ke Semarang.
__ADS_1