Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Formasi Lengkap


__ADS_3

Mendengar bahwa jenis kelamin bayinya adalah laki-laki, tentu Abraham merasa senang. Demikian juga dengan Mira yang ternyata lebih menginginkan seorang adik laki-laki. Mendengar bahwa adik bayinya akan berjenis kelamin laki-laki, Mira pun tampak tertawa di sana.


“Adik babynya cowok ya Pa? Cakep nanti ya Pa?” tanya Mira.


Abraham yang mendengarkan pertanyaan dari Mira pun turut tertawa di sana, “Semua pria juga cakeplah Kak Mira,” balasnya.


Kemudian Mira justru menggelengkan kepalanya perlahan, “Enggak … yang cakep cuma Papa dan Kakak El,” balasnya.


Begitu lucunya Mira, anak berusia tiga tahun saja sudah bisa mengerti mana cowok yang cakep dan juga tidak. Kian lucu, karena di mata Mira yang cakep hanyalah Papa Abraham dan juga Elkan saja. Padahal Papa Belva dan Evan juga begitu cakep. Namun, di mata Mira yang cakep hanya Papanya dan Kakak El saja.


“Itu Papa Belva dan Kak Evan juga cakep,” balas Abraham.


“Lebih cakep Papa,” balas Mira.


Dokter Indri dan Marsha yang mendengarkan obrolan dari Mira dan Papanya pun tertawa di sana. Sampai Dokter Indri bertanya kepada Marsha.


"Lucu ya Mira ... bisa kepikiran kalau yang cakep cuma Papanya dan Kakak itu. Siapa memangnya Bu Marsha?" tanya Dokter yang tampak ingin tahu.


"Oh, itu anak tetangga kami, Dokter ... kebetulan dekat dan Mira sering main bersama. Mungkin ada rasa sayang, jadi bilangnya Kakak itu yang cakep," balas Marsha.


Ya, menurut Marsha juga mungkin Mira merasa sayang kepada anak tetangganya yang dari keluarga Sultan itu karena sering bermain bersama. Ada rasa sayang antara Kakak dan adik. Lagipula, adalah wajar jika seorang anak kecil merasa disayangi oleh anak yang lebih dewasa darinya, sehingga seolah mendapatkan seorang kakak.


"Namanya siapa Bu Marsha?" tanya Dokter Indri lagi.


"Namanya Elkan," balas Marsha.


"Elkan Agastya kah? Kalau benar, saya juga menangani Bu Sara istrinya Pak Belva," sahut Dokter Indri.


Marsha pun menganggukkan kepalanya. Apakah memang dunia ini sempit sehingga Dokter Indri pun rupanya adalah Dokter Kandungan Bestienya, yaitu Bu Sara. "Benar Dokter ... saya dan Bu Sara tetanggaan. Jadi, anak-anak sering main bersama," balasnya.


"Oh, begitu ... tapi memang Elkan itu cakep sih Bu," balas Dokter Indri.


Sembari mengobrol, ada perawat yang membersihkan sisa-sisa USG gell di perut Marsha, dan kemudian Dokter Indri mencetakkan hasil USG untuk Marsha. Setelahnya, Marsha dibantu untuk turun dari brankar dan dipersilakan untuk duduk di depan meja Dokter. 


"Jadi, kehamilannya bagus ya Bu Marsha. Janinnya berkembang dengan baik, berat badannya juga seimbang. Namun, asam folat masih harus diminum sampai janin berusia 9 bulan nanti yah, dan saya berikan kalsium karena si bayi juga sedang dalam bertumbuh tulang rawannya," jelas Dokter Indri. 


"Baik Dokter," balas Marsha. 

__ADS_1


"Masih ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dokter Indri lagi. 


Marsha menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak Dok, sudah jelas. Terima kasih," balasnya. 


"Baik Bu Marsha … pemeriksaan rutin lagi di bulan depan yah."


Usai itu, mereka berpamitan dan kemudian mereka membayar biaya pemeriksaan dan menebus resep di apotek yang masih berada di dalam area Rumah Sakit itu. Terlihat Mira yang mulai kelihatan mengantuk, sehingga Abraham menggendong Mira. 


"Kasihan Mas, Mira sudah ngantuk," ucap Marsha. 


"Tidak apa-apa Sayang. Aku masih kuat menggendongnya. Gendong kamu juga masih kuat kok Yang," balas Abraham. 


Marsha tersenyum di sana, "Aku makin berat Mas, berat badanku naik banyak," balas Marsha. 


"Tidak apa-apa. Penting kamu sehat dan bahagia. Sebab, Ibu hamil harus bahagia," balas Abraham. 


"Sudah bahagia kok Mas," balasnya. 


Hampir lima belas menit, mereka menunggu obat dan sekarang Abraham akan membawa pulang istri dan juga anaknya. Terlihat Abraham masih menggendong Mira dan kemudian mendudukkan Mira di car seat dalam posisi nyaman. Kemudian barulah dia memasuki mobil dan duduk di balik stir kemudi. 


"Pulang saja, Mas … kasihan Mira sudah bobok. Memang sudah waktunya dia bobok sih Mas. Sudah hampir jam 21.00 malam ini," balas Marsha. 


Abraham pun menganggukkan kepalanya dan melajukan mobilnya perlahan, "Oke, kita pulang yah."


Perjalanan malam itu dilalui keduanya dengan lancar. Begitu sudah sampai di rumah, Abraham lagi-lagi menggendong Mira, sementara Marsha yang membukakan pintu rumah untuk suaminya. 


"Hati-hati Mas … pelan-pelan," ingatnya kepada Abraham. 


Sang Papa pun dengan hati-hati membawa putri kecilnya itu dan menidurkannya perlahan-lahan ke dalam kamarnya. Setelah itu, Marsha dan Abraham memilih mencuci wajah, mencuci tangan dan kaki, kemudian berganti pakaian. Marsha yang sudah menaiki ranjang, memilih untuk duduk dan bersandar di head board tempat tidurnya. Masih menunggu suaminya yang turun ke dapur. 


"Belum bobok?" tanya Abraham kepada istrinya itu. 


"Belum lah, nungguin Papa," balasnya. 


Abraham pun tertawa di sana, "Sini peluk dulu … seharian belum memeluk kamu, Shayang," balas Abraham. 


Marsha pun segera mengahambur dalam pelukan suaminya dan sembari menghirupi aroma parfum suaminya itu. Benar-benar menenangkan, parfum yang selalu dia sukai. 

__ADS_1


"Aku seneng Shayang," ucap Abraham perlahan. 


"Hmm, kenapa Mas?" tanyanya. 


"Iya, kamu hamil baby boy. Jadi, kita akan memiliki formasi lengkap. Aku, kamu, Mira, dan adiknya nanti," balasnya. 


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya, sudah formasi lengkap ya Mas. Mama, Papa, dan dua anak cewek dan cowok. Sudah lengkap. Abis itu tutup pabrik ya Mas," balas Marsha. 


Mendengar istilah tutup pabrik nyatanya Abraham justru tertawa, "Pabriknya ditutup, tapi produksi jalan terus ya Shayang. Jangan kasih kendor," balasnya. 


"Bisa saja sih Mas," balasnya. 


"Iya Shayang, gitu aja. Gimana deal?" tanya Abraham. 


Marsha justru terkekeh geli di sana dan menggeleng perlahan. "Proses produksinya itu Mas. Produksi tanpa henti, memang enggak aus itu mesinnya?" balas Marsha. 


"Enggak, malahan tambah sehat mesinnya. Makasih ya Shayang. Jujur aku seneng banget akhirnya punya anak cowok," aku Abraham. 


"Seneng anaknya cowok ya Mas?" tanya Abraham dengan tiba-tiba. 


"Ya enggak. Cuma kan aku mikirnya Mira kan sudah cewek. Kayaknya seru aja kalau adiknya cowok. Eh, ternyata dikabulkan sama Allah. Dapat baby boy. Udah deh, bener-bener formasi lengkap," balas Abraham. 


Marsha pun sepemahaman dengan Abraham. Dia juga senang bisa memiliki anak laki-laki. Walaupun sebenarnya Marsha juga tidak memiliki target khusus. Mau laki-laki atau perempuan sama saja bagi Marsha. Namun, nyatanya Allah justru terlampau baik kepadanya. 


"Kehamilan sudah setengah jalan, tidak lama lagi kalau sudah 7 bulan, kita belanja lagi untuk baby boy ya Shayang. Gemes deh, nanti aku mau beliin baju superhero," balas Abraham. 


"Dibeliin jersey bola dong Papa," balasnya. 


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Boleh. Nanti dibeliin jersey yah," balas Abraham. 


"Yeay, makasih Papa Abraham," balas Marsha. 


Abraham kemudian melirik kepada istrinya, "Shayang, dulu kan Mira yang memberi nama kamu. Terus si baby ini kalau boleh aku yang kasih nama yah?"


"Iya, boleh Mas. Kamu saja yang berikan nama untuk baby boy. Nama yang keren ya Mas. Kan katanya Mira, besok adiknya cakep. Secakep Papanya," balas Marsha. 


Keduanya pun sama-sama mengingat bagaimana lucunya Mira mengatakan bahwa Papanya cakep. Di dalam hati, memang Marsha berharap bahwa putranya nanti akan tumbuh sehat, lengkap, dan sempurna, dan juga secakep Papa Abraham. 

__ADS_1


__ADS_2