
Menjelang sore, saat Marsha dan Abraham bersiap untuk meninggalkan Rumah Sakit, justru ada tamu yang datang dengan tiba-tiba ke Rumah Sakit. Sehingga jadwal kepulangan Marsha, Abraham, dan Baby Mira agak mundur lagi.
"Permisi," terdengar suara wanita yang mengetuk kamar perawatan Marsha.
Di dalamnya Abraham dan Marsha pun sama-sama bingung. Sebab, menurutnya mereka tidak menerima pesan dari kerabatnya atau kenalan yang mengatakan hendak datang untuk menjenguk si Baby Mira. Akan tetapi, karena sudah terdengar suara ketukan dari luar, Abraham pun berdiri dan hendak membukakan pintu.
"Ya, siapa?" tanya Abraham.
Rupanya tepat di depan pintu sudah berdiri Pak Belva, Bu Sara, dan juga si cakep Elkan yang siang menjelang sore itu menyempatkan diri untuk datang ke Rumah Sakit dan menemui Marsha.
"Shayang ... ada Bu Sara dan keluarga nih," ucap Abraham.
Mendengar bahwa yang datang adalah Bu Sara dan keluarganya, Marsha pun berdiri hendak menyambut dan menyalami orang-orang yang baik dan memberikannya tawaran pekerjaan itu. Sehingga Marsha pun sedikit berjalan dan segera menjabat tangan Bu Sara, Pak Belva, dan Elkan.
"Eh, gak usah berdiri Marsha ... duduk saja. Santai saja," ucap Bu Sara yang terlihat layaknya ngilu karena melihat Marsha yang memaksa berdiri dan menyambut mereka.
"Tidak apa-apa kok Bu," balasnya.
"Gimana kabarnya Bram? mantap kan menemani istri melahirkan?" tanya Pak Belva kepada Abraham.
Dengan cepat Abraham pun menggelengkan kepalanya, "Luar biasa banget, Bos ... sebenarnya saya mual, tetapi bagaimana lagi harus menjadi suami siaga untuk istri," ucapnya.
Baru kali ini Abraham berkata jujur bahwa dia merasa mual, perutnya terasa penuh dengan tenggorokan yang sudah sangat tidak enak. Akan tetapi, karena ingin menjadi suami siaga dan terus mendampingi Marsha, maka Abraham bertahan.
"Pas apa yang bikin mual?" tanya Belva lagi.
__ADS_1
Abraham pun tertawa dan melirik ke arah istrinya yang memilih duduk di brankar, "Ya, semuanya Pak ... dari pembukaan itu udah luar biasa banget. Saya dan istri hanya sendiri di sini," cerita Abraham lagi.
Sara yang mendengarkan cerita Abraham pun turut tertawa, "Cuma, sudah menjadi suami yang menemani istri bersalin itu sudah keren Mas Abraham. Melihat bagaimana perjuangan seorang istri. Makanya, lihat istri kesakitan di antara hidup dan mati, gitu suami masih berani selingkuh. Itu udah enggak bener," ucap Bu Sara.
"Tidak ada yang selingkuh Sayang ... aku cuma buat kamu," ucap Pak Belva yang memberi penegasan kepada istrinya bahwa dia tidak akan pernah bermain hati.
"Benar Bu ... saya gak akan main-main sama Marsha deh ... melihat bagaimana perjuangannya yang luar biasa sekali," balas Abraham.
"Yakin nih? Pak Belva dan Bu Sara saksinya loh," sahut Marsha.
Abraham pun segera menganggukkan kepalanya dengan begitu yakin, "Yakin dong Shayang ... gak akan main-main sama kamu. Janji gak akan selingkuh!"
Abraham menjawab semuanya itu dengan begitu terang-terangan sampai semua yang ada di dalam ruangan itu kembali tertawa. Kemudian Bu Sara pun kembali bertanya kepada Marsha.
"Jadi, babynya cewek yah?" tanya Bu Sara.
Rasa deg-degan yang muncul bukan hanya menanti bayinya lahir, tetapi deg-degan menebak bayinya laki-laki atau perempuan. Sensasinya lebih terasa.
"Benar banget ... wah, baby girl pasti lucu deh," ucap Bu Sara.
Kemudian Pak Belva yang sedari tadi sembari memangku Elkan pun turut bersuara, "Tambah satu lagi, Ma ... baby girl juga," sahut Pak Belva.
"Yes Ma ... baby ... gil," ucap Elkan dengan suaranya yang belum terlalu jelas.
Sungguh, Marsha dan Abraham pun gemas dengan Elkan yang terlihat juga sependapat dengan Papanya yang mengikuti baby girl.
__ADS_1
"Kak Elkan mau baby girl yah? Nih, Onty dan Uncle Bram punya Baby girl. Kak Elkan mau lihat?" Marsha bertanya kepada Kakak kecil berwajah tampan itu.
"Yes ... yes ... au!"
Elkan menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Bu Sara pun mendekat dan membawa Elkan untuk melihat baby girl yang begitu mungil dan cantik itu. Elkan bahkan menggerakkan tangannya dan hendak menyentuk si baby, tetapi Sara segera menahan tangan putranya itu.
"Eh, tidak boleh sembarang memegang baby yah ... Kak Elkan tanya dulu dong sama Mamanya si Baby. Boleh pegang enggak? Tanya dulu yah," ucap Bu Sara.
"Oleh, egang baby (Boleh pegang babynya)?" tanya Elkan dengan menatap wajah Marsha.
"Iya, boleh ...."
Elkan pun dengan dibantu Mamanya, menyentuh tangan adik bayi itu. Saat menyentuh tangannya saja, Elkan sudah tersenyum dan terlihat menunjukkan geli dengan kulit yang lembut dan tubuh yang kecil dari bayi yang baru lahir itu.
"cantik ... antik, Ma ... namana sapa? (Cantik ... bayinya cantik, Ma ... namanya siapa?)" tanya Elkan lagi.
"Namanya Miranda, Kak Elkan," jawab Marsha.
Sara pun turut tersenyum mengamati wajah bayi bernama Miranda itu, "Ya ampun ... cantik banget sih. Bulu matanya lentik banget. Bibirnya mungil. Cuma memang hidung dan dagunya mirip Papanya," ucap Sara yang seakan melakukan profiling pada bayi kecil itu.
"Auu baby, Ma ... au," ucap Elkan lagi yang seakan juga menginginkan bayi itu.
"Kak Elkan berdoa dulu ya ... minta sama Allah biar Mama dan Papa diberikan baby. Cuma kalau mau baby tidak bisa besok langsung ada. Adik bayi harus tinggal di perut Mama 9 bulan dulu," jelas Sara memberikan pengertian kepada Elkan.
__ADS_1
"Ya ... iya," balas Elkan.
Marsha dan Abraham yang melihat Elkan pun begitu gemas. Bukan hanya cakep, tetapi Elkan juga pintar dan juga bisa mengatakan apa yang dia mau. Rasanya sangat menyenangkan bisa kapan-kapan lagi bisa playdate bersama anak-anak Bu Sara dan juga Pak Belva.