
Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa atau permasalahan melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator.
Usai persidang usai, Marsha dan Melvin pun digiring bersama untuk memasuki ruang mediasi. Seorang mediator yang adalah seorang hakim dan tentunya bersifat netral akan mencoba untuk memediasi antara Marsha dan juga Melvin.
"Silakan duduk terlebih dahulu," ucap Hakim yang mempersilakan keduanya untuk duduk.
Marsha dan Melvin kemudian duduk dengan mengambil jarak di antara keduanya. Sebab, Marsha sendiri enggan untuk berdekat-dekatan dengan Melvin.
"Sebagaimana putusan dari Majelis Hakim, bahwa gugatan perceraian pada umumnya akan diberikan masa mediasi, di mana penggugat dan tergugat bisa sama-sama menyelesaikan permasalahannya sebelum putusan diambil. Nah, jadi bagaimana dengan Saudari Marsha dan Saudara Melvin?" tanya sang Mediator kepada keduanya.
Bagi Marsha, mediasi ini hanyalah hal formalitas belaka. Keinginannya adalah bisa sepenuhnya bercerai dengan Melvin. Tak ada lagi yang Marsha harapkan dari pernikahannya kali ini.
Namun, Melvin justru menginginkan untuk bisa berdamai dengan Marsha. Mencoba untuk memulai semuanya dari awal.
"Apakah Anda sudah sepakat bercerai Saudari Marsha?" tanya sang Mediator kepada Marsha.
"Ya, benar, Pak," jawab Marsha dengan singkat.
"Anda sebagai tergugat juga ingin bercerai dengan Saudari Marsha?" tanyanya kepada Melvin.
Namun, Melvin memberi jawaban yang bertolakbelakang. "Tidak, saya menginginkan mediasi. Saya ingin mencoba memulai lagi dari awal," ucap Melvin.
__ADS_1
Pria itu terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya. Akan tetapi, Marsha melihatnya hanya sebagai upaya sebuah drama yang sedang dibangun oleh Melvin sekarang ini.
"Pernahkah Anda berpikir dan membayangkan ada pihak yang merasa kecewa dengan keputusan Anda?" tanya sang mediator lagi.
Marsha memilih diam. Dari pihaknya secara pribadi tidak ada yang merasa kecewa dengan keputusannya. Bahkan di saat publik menghakiminya, tidak ada telepon atau bentuk perhatian yang dia terima dari orang tuanya. Semuanya itu membuat Marsha tersadar bahwa Marsha harus bertanggung jawab untuk hidupnya seorang diri. Keputusan final Marsha tetaplah sama yaitu bercerai dari Melvin.
"Sebenarnya perceraian bukan jalan yang baik untuk menyelesaikan setiap permasalahan dalam rumah tangga. Jika Anda berdua masih ingin mempertahankan rumah tangga Anda, proses mediasi seperti ini dapat Anda manfaatkan untuk berbicara dari hati ke hati, mendengar pasangan dengan lebih baik. Sebagaimana dalam Hukum Islam, Allah membenci perceraian, tetapi umat-Nya justru banyak sekali yang bercerai. Sungguh ini sangat menyakiti Allah." ucap sang Mediator.
Pria yang bertindak sebagai mediator itu kemudian menatap Marsha dan Melvin, "Jadi, mediasi ini haruskah dilanjutkan?"
"Tidak," jawab Marsha.
"Iya," jawab Melvin.
Mediator sampai heran dan menggelengkan kepala menjawab jawaban serentak, tetapi tidak sepemikiran dari Melvin dan juga Marsha.
“Baiklah jika demikian, hasil dari pembicaraan kita akan saya sampaikan kepada Majelis Hakim bahwa kedua belah pihak menolak untuk melakukan mediasi. Terima kasih untuk waktu yang diberikan, Anda bisa meninggalkan ruangan.”
Usai dipersilakan keluar dari ruangan, Marsha berjalan segera keluar dari Pengadilan Agama, pun demikian dengan Melvin. Keduanya sama-sama berpikir waktu persidangan hingga proses mediasi tidak hanya membantunya untuk bersatu kembali. Justru jika bisa memilih, Marsha akan memilih satu kali persidangan pun cukup untuk membuat keduanya resmi bercerai. Sayangnya, semua itu tidak bisa terjadi, karena proses persidangan gugatan perceraian harus mengikuti prosedur yang sudah berlaku.
Saat keduanya, sama-sama keluar dari pengadilan, nampak Melvin menghentikan Marsha.
__ADS_1
"Ayang ... ups, sorry! Marsha maksudku, keputusanmu bercerai dariku adalah keputusan yang salah. Aku tidak akan memberikanmu perpisahan yang mudah. Ingat, dan catat perkataanku ini bahwa aku tidak akan memberikan perpisahan yang mudah untukmu. Aku akan bersenang-senang dengan proses ini dan membuatmu kian menderita," ucap Melvin dengan menyeringai.
Mendengar ucapan Melvin yang terasa menusuk hati, Marsha tersenyum kecut dan memejamkan matanya, Marsha masih berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Kita lihat saja, Vin ... di antara kamu dan aku siapakah yang menang. Untuk apa berpura-pura menjalani mediasi, jika memang sudah tidak ada rasa cinta di hati? Usai ini, hidupmu akan kian sulit, Melvin. Jangan jumawa saat kamu berada di atas," sahut Marsha dengan menatap tajam kepada Melvin.
Sekarang Marsha tahu, bahwa Melvin tengah menjalankan sebuah siasat licik. Berpura-pura melakukan mediasi, hanya untuk memberikan penyiksaan kepada Marsha lagi. Kali ini, Marsha tidak akan tertipu lagi. Marsha akan melihat setiap gerak-gerik Melvin, dan meyakinkan dirinya tidak akan tertipu lagi.
"Silakan menikmati hidupmu, Vin ... percayalah apa yang kamu tabur, akan kamu tuai di kemudian hari," ucap Marsha yang syarat mengingatkan Melvin dengan hukum tabur tuai.
Seolah tidak terpengaruh, Melvin justru tertawa sumbang. Tentu saja dia menertawakan Marsha. “Aku tidak percaya dengan hal seperti itu, bagiku tidak peduli apa yang aku tabur, aku pun tidak akan menuainya. Ingat itu, jangan merasa di atas angin hanya karena kamulah yang menggugatku terlebih dahulu. Jangan merasa jumawa karena kamu memiliki bukti rekaman bahwa aku telah merundungmu. Wanita sialan!” umpatnya yang begitu marah dengan Marsha.
Sementara Marsha hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya, dia tidak merasa takut dengan umpatan Melvin. “Seorang pria akan dipercaya karena ucapannya, jika ada pria yang setiap hari hanya mengeluarkan umpatan dan hinaan, maka apa yang bisa diharapkan dan dipercayai dari pria itu? Aku rasa tidak ada. Hanya Lista lah yang bodoh karena telah menyerahkan dirinya ke dalam tangan pria hina sepertimu,” sahut Marsha seakan tidak mau kalah.
Dibalas oleh Marsha, dan disebut pria hina, rahang Melvin nampak mengeras sempurna, wajah pria itu pun memerah sebagai tanda amarahnya kian memuncak. Pria itu seolah mengangkat tangannya ke udara, siap untuk menampar wajah Marsha.
Menyadari bahwa Melvin bisa saja menamparnya, Marsha membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada, "Mau menamparku lagi, Melvin Andrian? Lakukan saja, aku tidak pernah takut kepadamu. Dengan kekerasan yang kamu lakukan, selama palu hakim belum diketokkan, kita masih suami-istri, jadi kita kamu melakukan kekerasan, pasal perihal KDRT pasti akan menjeratmu," ucap Marsha dengan memincingkan matanya.
Sekarang tidak ada lagi yang Marsha takutkan. Justru Marsha akan melawan Melvin dengan sekuat tenaganya. Marsaha tak ingin menjadi wanita yang lemah. Sekalipun hatinya rapuh, Marsha akan menunjukkan kekuatannya sebagai wanita.
Melvin perlahan menarik kembali tangannya, dan mendengkus kasar. "Wanita sialan! Aku tidak akan melepaskanmu. Suatu saat nanti aku akan membalasmu dan membuat perhitungan denganmu. Sialan!"
__ADS_1
Kembali Melvin mengumpat dan kemudian pergi berlalu meninggalkan Marsha begitu saja. Begitu kesal hati Melvin kala itu, hingga tanpa pamit Melvin meninggalkan Marsha yang sudah dianggapnya begitu menyebalkan.