
“Peluk aku, Bram,” ucap Marsha dengan berlinang air mata.
Sebuah ucapan syarat akan permintaan yang mengatakan bahwa Marsha membutuhkan pelukan Abraham sekarang ini. Pelukan hangat yang sedikit menenangkannnya. Sebab, di titik terendahnya, sebuah pelukan adalah tindakan yang lebih dari cukup dari seseorang yang begitu perhatian kepadanya.
Abraham mengangguk, pria itu kembali mendekap tubuh Marsha dengan melingkarkan kedua tangannya di tubuh Marsha. Tidak masalah seberapa lama Marsha meminta pelukan darinya, Abraham akan dengan sukarela memeluk Marsha.
“Kamu istirahat di sini saja, Sha … pakai kamar itu. Setelah kamu tenang, aku akan mengantarmu ke Semarang,” ucap Abraham kali ini kepada Marsha.
Sebenarnya Marsha pun begitu kalut. Dirinya bimbang bagaimana bisa dia menginap di apartemen milik Abraham. Bagaimana pun dirinya masih menjadi istri Melvin, dan menginap di tempat pria lain rasanya tidak layak. Namun, yang dikatakan Abraham sebelumnya benar bahwa pulang dan menyetir mobil jarak jauh dari Jakarta ke Semarang tentunya berbahaya.
“Bram, tapi ….” Marsha berbicara dan hendak menolak.
“Tidak apa-apa, Sha … ke kamar itu. Aku akan tidur di sofa ini. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku, lagipula ini sudah larut malam. Sebaiknya kamu istirahat,” ucap Abraham.
Marsha menggigit bibir bagian dalamnya, kian tidak enak hati harus menempati kamar Abraham. Sang pemilik apartemen justru tidur di sofa yang berada di ruang tamu. Namun, juga tidak mungkin Marsha tidur dalam satu kamar bersama Abraham.
“Baiklah, Bram … aku pinjam kamar kamu yah,” balas Marsha.
Abraham menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian menuntun Marsha untuk masuk ke dalam kamarnya. Membantu Marsha berbaring, bahkan mengenakan selimut di tubuh Marsha.
“Istirahatlah, Sha … jangan takut, ada aku. Kalau ada apa-apa, aku di luar,” ucap Abraham.
“Makasih Bram,” balas Marsha sembari menganggukkan kepalanya secara samar.
Untuk kali ini, Marsha memilih tidur. Tubuhnya begitu sakit dan kecapekan. Sedikit tidur agaknya akan membuat tubuhnya lebih baik. Sementara matanya juga rasanya begitu perih karena kelamaan menangis. Biarlah malam membuainya dalam tidur, dan esok pagi Marsha akan beraktivitas dan menyusun rencana selanjutnya. Sungguh, dia tidak ingin kembali lagi ke rumah Melvin. Lebih baik, dia pergi dari rumah atau kembali ke kota asalnya, di Semarang.
***
__ADS_1
Keesokan paginya …
Deringan di handphone dan ratusan direct message yang masuk ke dalam handphonenya membangunkan Marsha pagi itu. Wanita itu terbangun lebih dari jam 08.00 pagi, mungkin karena semalam dirinya tidur sudah lebih dari tengah malam, dan juga rasa sakit di tubuhnya yang membuat Marsha bangun lebih siang.
Marsha beringsut dan mengubah posisinya, kini Marsha bersandar di headboard dengan merapikan rambut panjangnya yang berantakan. Lantas, tangannya terulur dan mengambil handphonenya yang berada di atas nakas.
‘Istri Aktor Papan Atas Tersicuk Sedang Berselingkuh’
Kedua mata Marsha cukup terkejut dengan berbagai pemberitaan di portal situs dunia hiburan dan beberapa postingan di media sosial itu. Marsha membawa jari-jarinya dan berselancar di sana. Rupanya semua pemberitaan itu mengacu kepada foto dirinya dan Abraham yang sudah di-blur dan disebarluaskan.
Setahu Marsha bahwa yang memiliki foto itu adalah Mama Saraswati. Apakah mungkin Mama Saraswati yang sengaja menggunakan foto-foto itu. Bahkan Marsha terhenyak melihat postingan emotikon patah hati di media sosial Melvin. Bahkan di akun media sosial itu, Melvin sudah menghapus semua postingannya bersama dengan Marsha.
Tentu saja kegiatan Melvin di media sosial ini juga menjadi tajuk pemberitaan di beberapa situs dunia hiburan. Bahkan banyak sekali artikel mengenai dirinya dan Melvin yang berseliweran di situs media hiburan.
‘Aktor Melvin Andrian, Dikhianati oleh Istrinya Sendiri.’
‘Mengenal Sosok Istri Melvin Andrian’
‘Prahara Rumah Tangga Sang Aktor’
Begitu banyak artikel terkait pemberitaan mengenai Melvin dan dirinya. Marsha sama sekali tidak menyangka bahwa masalah rumah tangganya justru menjadi konsumsi publik sekarang ini. Tentu, Marsha lah menjadi sosok yang disalahkan sekarang ini. Banyak direct message dan melakukan tagging nama Marsha di Instagram yang menghujat Marsha. Seolah-olah pihak yang bersalah di sini adalah Marsha, dan Melvin adalah korban. Penghakiman dari publik itu sangat menyakitkan. Mereka menghakimi hanya berdasarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Terutama fans fanatik Melvin Andrian yang terang-terangan mencibirnya dan mencap Marsha sebagai wanita murahan.
Ini tentu bukan pagi yang baik bagi Marsha, tetapi pagi ini adalah pagi yang berat karena masalah rumah tangganya ternyata justru naik ke media dan menjadi konsumsi publik.
“Kamu melakukan playing victim, Melvin … aku yang kamu aniaya. Namun, kamu membuat diriku seolah-olah pihak yang bersalah dalam masalah ini. Aku akui bahwa aku bersama Abraham. Aku merasa getaran perasaan saat bersamanya. Namun, untuk semua ini ada pemicunya. Bagaimana kalau publik tahu bahwa kamu sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrimu sendiri, Vin? Kamu jahat, Vin … kamu menggunakan masalah rumah tangga untuk melambungkan kariermu dan membuat publika menghakimi aku,” gumam Marsha dengan begitu sesak.
Sampai akhirnya terdengar ketukan di pintu kamar Marsha, tentu tidak lain itu adalah dari Abraham.
__ADS_1
“Sha, sudah bangun?” tanya Abraham.
“Hmm, sudah,” sahut Marsha.
Abraham datang dengan membawa segelas susu hangat di tangannya dan pria itu mengambil tempat duduk di tepian ranjang itu. Menatap Sara dengan sorot mata yang berbeda kali ini.
“Minum susu hangat dulu, Sha,” ucapnya sembari menyodorkan segelas susu hangat itu.
“Tidak Bram, aku tidak mau,” balas Marsha.
Atensi Marsha masih sepenuhnya melihat pada handphone yang kali ini berada di genggamannya. Kemudian Abraham segera meraih handphone itu dari tangan Marsha.
“Berikan handphone kamu. Please, sehari ini jangan melihat handphone yah,” pinta Abraham.
“Aku sudah melihat semuanya, Bram … dia melakukan playing victim. Aku korbannya, tetapi seolah-olah Melvin yang kesakitan dan menjadi korban,” balas Marsha dengan senyuman getir di wajahnya.
“Biarkan saja, Sha,” balas Abraham pada akhirnya.
“Hari ini aku mau keluar boleh?” tanya Marsha.
“Ke mana?” tanya Abraham.
“Aku akan melayangkan gugatan cerai kepada Melvin,” sahut Marsha.
“Diskusikan dengan pengacara dulu, Sha … kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Abraham. Setidaknya Abraham hanya tidak ingin Marsha mengambil keputusan dengan gegabah. Rumah tangga itu bukan main-main, dan Abraham benar-benar Marsha berpikir matang terlebih dahulu.
“Iya, aku yakin.” Marsha menjawab dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Kali ini berpisah adalah keputusan yang tepat yang diambil oleh Marsha. Lagipula, dari pemberitaan ini sudah terlihat arah jalan yang diambil Melvin. Pria itu seolah-olah menjadi korban dan membuat publik bersimpati kepadanya. Marsha justru kian bisa melihat bagaimana liciknya Melvin yang dengan teganya mengangkat masalah pribadi menjadi pemberitaan publik. Bahkan dari semalam itu tidak ada telepon dan pesan yang Melvin lakukan. Semua ini sudah jelas dan kian membulatkan tekad Marsha untuk melayangkan gugatan kepada Melvin.