
Keesokan harinya, Marsha pun bersiap untuk menemui Abraham di siang hari. Layaknya orang yang merasa kasmaran, Marsha pun bersiap. Memastikan dirinya di depan cermin, merias wajahnya dengan riasan yang flawless. Walaupun nanti dia akan menutup wajahnya dengan menggunakan masker, tetapi setidaknya Marsha ingin terlihat cantik di hadapan Abraham.
Benar-benar perasaan dan tindakan yang gila. Sebab, Marsha justru merias diri dan ingin tampil maksimal untuk pria lain. Pria yang bukan suaminya. Sementara, untuk Melvin dirinya merasa biasa saja, dan hanya nyaman mengenakan piyama rumahan saja.
Merasa dirinya sudah siap, Marsha bahkan menyemprotkan parfumnya yang beraroma Vanilla yang begitu lembut di beberapa titik di tubuhnya mulai dari leher hingga pergelangan tangan. Sikap Marsha menunjukkan bahwa wanita itu layaknya remaja yang tengah kasmaran saja. Setelahnya, Marsha pun keluar dari rumahnya dan mengemudikan mobilnya sendiri untuk menemui Abraham di kafe yang sudah dijanjikan Abraham sebelumnya.
Ketika mengemudikan mobil, Marsha pun merasa jantungnya berdebar-debar. Hanya sekadar bertemu Abraham saja, dirinya seolah merasakan jatuh cinta lagi dengan pria itu. Hampir setengah jam mengemudikan mobilnya, akhirnya Marsha di sebuah kafe yang sudah dijanjikan oleh Abraham itu. Sebelum turun dari mobil, Marsha mengenakan masker untuk menutupi wajahnya dan mengenakan kacamata untuk menyamarkan penampilannya. Maklum, Marsha adalah istri seorang publik figur, jadi memang Marsha sering kali keluar dari rumah dengan menggunakan masker.
“Sha, kamu sudah datang?” tanya Abraham yang melambaikan tangannya dan berjalan menghampiri Marsha. Pria itu tersenyum dan menyambut Marsha dengan hangat.
Di hadapan Abraham, Marsha berusaha untuk bersikap biasa saja. Akan tetapi, dalam hatinya tidak terpungkiri bahwa Marsha merasa senang bisa kembali bertemu dengan Abraham.
“Iya, akses ke sini macet,” sahut Marsha.
“Tidak apa-apa, yang penting kamu datang,” balas Abraham. “Aku sudah pesankan Americano Less Sugar untuk kamu … minum dulu,” ucap Abraham.
“Makasih Bram,” balas Marsha.
Wanita itu menggerakkan tangannya dan meraih minuman kesukaannya yang sudah dipesankan oleh Abraham itu. Berniat untuk meminumnya sedikit untuk mengusir rasa haus di tenggorokannya.
“Kamu tidak minum?” tanya Marsha kepada Abraham.
“Minum … hanya saja, aku ingin melihat wajahmu terlebih dahulu,” ucap Abraham yang memang menatap Marsha dengan tatapan yang seolah-olah memuja wanita yang pernah singgah di masa lalunya dulu.
__ADS_1
“Lebay deh,” sahut Marsha dengan tersenyum dan memalingkan wajahnya dari Abraham.
Bak, terpesona dengan kecantikan Marsha, Abraham pun menggerakkan tangannya dan menggenggam tangan Marsha.
“Kamu cantik, Sha … selalu cantik,” puji Abraham kali ini.
Bersemu merahlah wajah Marsha di sana. Kali ini, Marsha mengakui dalam hatinya bahwa kata-kata manis dari Abraham bisa menggetarkan hatinya. Bahkan Marsha merasa nyaman bersama dengan Abraham. Titik kenyamanan yang membuat Marsha tidak keberatan saat Abraham menggenggam tangannya, memberi usapan di punggung tangannya, dan juga menatapnya dengan sorot mata yang seolah memuja dan menginginkan Marsha.
“Jangan menggoda istri orang, Bram,” balas Marsha sembari tersenyum kepada pria itu.
“Jika menggoda istri orang dan mendapatkanmu, aku rela, Sha,” sahut Abraham dengan serius.
Sama halnya dengan Marsha, Abraham pun juga merasakan kian nyaman bersama Marsha. Bahkan kontak fisik yang memang hanya sebatas genggaman tangan mengalir begitu saja. Menatap wajah wanita cantik itu, membuat Abraham merasa bahagia.
“Yang mana?” tanya Abraham.
“Aku boleh memanfaatkanmu?” tanya Marsha. Wanita yang itu memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata Abraham. Mencari tahu apakah benar bahwa Abraham tidak keberatan untuk dia manfaatkan.
“Iya … tidak masalah,” balas Abraham. Pria itu mengeratkan genggaman tangannya di tangan Marsha. Membawa tangan itu dekat ke arah wajahnya, dan mendaratkan kecupan di punggung tangan Marsha yang halus itu.
“Aku tidak masalah, kamu manfaatkan. Aku juga tidak akan merasa rugi. Semoga saja dengan memanfaatkanku, hidupmu bisa penuh dengan kebahagiaan,” ucap Abraham lagi.
Sentuhan bibir Abraham di punggung tangannya membuat Marsha terkesiap. Tidak dipungkiri permukaan bibir yang kenyal dan hangat itu mampu membangkitkan gelenyar asing di dalam diri Marsha.
__ADS_1
“Yakin? Jika, aku memanfaatkanmu, apakah kamu perlu imbalan dariku?” tanya Marsha.
Dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak perlu imbalan. Simbiosis Mutualisme agaknya lebih menguntungkan, Sha,” sahut Abraham.
Jika Marsha membutuhkan teman yang bisa memberikan setitik warna dalam hidupnya, Abraham juga bisa merasakan kebahagiaan karena pada dasarnya masih ada rasa yang tersisa di dalam hati Abraham untuk Marsha.
“Sebenarnya ini salah, Bram,” ucap Marsha dengan lirih.
Bukannya dia tidak bisa berpikir dengan otaknya dan merasakan dengan hatinya. Hanya saja memang Marsha sepenuhnya sadar bahwa pertemuannya dengan Abraham adalah hal yang salah.
“Memang salah … tetapi, mari kita nikmati bersama,” balas Abraham.
“Cara menikmatinya?” tanya Marsha.
“Senyaman kamu saja, Marsha … kita bisa menjadi teman mengobrol, teman ngopi, atau teman dalam bentuk yang lainnya. Aku sama sekali tidak keberatan,” jawab Abraham.
Marsha diam, menimbang-nimbang dalam hatinya. Andai saja kebahagiaan hidup berumahtangga dia dapatkan, tidak mungkin dirinya bermain hati dengan Abraham. Andai saja suaminya memberikan waktu untuknya dan bisa memuaskan hasratnya untuk mencintai dan dicintai, Marsha tidak ada mencari kesenangan dan kebahagiaan di luar rumah.
Menyadari kesalahan yang sudah terjadi, Marsha pun menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, sekadar menjadi teman mengobrol dan teman ngopi tidak masalah,” sahut Marsha.
“Teman lebih dari itu juga tidak masalah, Sha … teman tapi mesra, aku pun tidak keberatan,” balas Abraham.
__ADS_1
Senyuman terbit begitu saja di sudut bibir Marsha. Kali ini, bermain-main dengan dosa dan memberikan kebahagiaan untuk diri sendiri akan ditempuh oleh Marsha. Semoga saja titik kenyamanan yang dia rasakan sekarang ini, tidak akan kian tersulut dan menjadi gairah yang akan membakar dirinya. Semoga saja.