Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Waktu Berkualitas


__ADS_3

Sepanjang hari benar-benar dihabiskan Abraham untuk menjaga Mira. Bahkan Papa muda itu tampak lebih banyak menggendong Mira sepanjang hari ini. Mama Diah yang melihat Abraham yang sudah bangkit kembali pun merasa begitu senang.


"Syukurlah, Abraham sudah kembali pulih. Mama tahu bahwa tidak mudah bagi Abraham untuk menerima semuanya. Namun, syukurlah ... Abraham kini sudah kembali bahagia, semua ini berkat kamu, Sha," ucap Mama Diah.


"Enggak juga, Ma ... itu karena Mas Abraham adalah pria yang kuat dan tangguh. Sejak dilahirkan, Mas Abraham sudah ditetapkan Tuhan untuk menjadi sosok yang kuat dan bisa menghadapi berbagai keadaan," balas Marsha.


Mama Diah kemudian tersenyum kepada menantunya itu, "Salah satu sumber kekuatan Abraham itu kamu, Sha. Di saat dia terpuruk, ada kamu yang menguatkan dan memotivasi dia. Terima kasih," ucap Mama Diah.


"Jangan berterima kasih, Ma. Sudah selayaknya seorang istri menjadi support system bagi suaminya. Marsha akan terus berusaha untuk mendukung Mas Bram. Semampu Marsha," balasnya.


Keduanya tampak tersenyum melihat Abraham yang kini tampak mengajak Mira mengobrol itu. Marsha kemudian menatap kepada Mamanya, "Mama sendiri apakah sudah tidak apa-apa?" tanyanya.


"Ya, pasti ada apa-apa, Sha. Cuma mungkin karena kami sudah tidak bersama untuk waktu puluhan tahun, jadi agak biasa. Cuma, Mama sempat shock," balasnya.


Marsha kemudian menatap Mama Diah, "Kalau ada apa-apa cerita saja sama Marsha, Ma. Mungkin dengan bercerita, berbagi, beban di hati akan kian terasa ringan," ucapnya.


"Iya Sha ... Mama baik sekarang. Kamu selalu mensupport Abraham saja. Dia sukar untuk percaya kepada orang lain, sukar membagi perasaannya, tetapi lihatlah dia bisa berbagi apa pun denganmu. Jadi, terus dampingi Abraham," balas Mama Diah.


"Iya Ma ... Marsha akan berjanji untuk selalu mendampingi Mas Bram. Menjadi pendamping hidup yang sepadan dan seimbang untuk Mas Bram," jawab Marsha dengan sepenuh hati.


Begitu malam telah tiba, dan Mira sudah tertidur. Waktunya untuk Abraham dan Marsha quality time bersama.


"Aku seneng deh Mas, hari ini kamu sudah ke bentukmu yang semula. Mira pasti senang banget, seharian banyak dipegang Papanya," ucap Marsha membuka obrolan malam itu.


"Aku mencoba bangkit Shayang. Aku merasa bersalah, karena sibuk menata hatiku sampai aku abai dengan Mira. Maafkan aku," balasnya.


Marsha kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu meminta maaf. Bagaimana pun setiap orang membutuhkan waktu untuk menata hati dan pikirannya. Sekarang, sudah bahagia kan? Bisa bangkit?" tanya Marsha.


"I will. Aku akan berusaha Shayang," balas Abraham.


Marsha kemudian mengangguk dan mengangkat ibu jarinya kepada suaminya itu. "Inilah alasan kuat kenapa aku selalu bangga kepadamu, Mas ... kamu adalah pria yang kuat dan mau bangkit. Keadaan yang sukar pun tidak akan menghimpitmu, tetapi kamu bisa mencari jalan untuk setiap permasalahan yang kamu hadapi," balas Marsha.


Abraham pun tersenyum, "Biar aku cepet pulih, sirami ladang batinku Yang," ucapnya.

__ADS_1


Astaga, rupanya kali ini Abraham tidak main-main. Usai seminggu berpuasa, rupanya kali ini Abraham meminta haknya.


Bukan menjawab, nyatanya Marsha justru menangkup wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya. Wanita itu mengikis jarak sejengkal wajahnya dengan sang suami dan melabuhkan bibirnya, mengecup permukaan bibir yang lembut dan kenyal milik suaminya itu.


“Iya,” balas Marsha begitu telah menjauhkan jarak wajahnya.


Abraham pun tersenyum lebar, tidak mengira kali ini istrinya itu akan mengabulkan apa yang dia minta. Marsha lantas kembali mencium bibir suaminya itu, mengecup permukaan bibir itu hingga keduanya sama-sama berdecak, dan menyapukan lidahnya di bibir itu. Menyesap lipatan bibir suaminya bergantian atas dan bawah. Wanita itu memejamkan matanya, seolah benar-benar ingin menikmati perasaannya kali ini untuk sang suami.


Tangan wanita itu bergerak yang meremas rambut suaminya, menyentuh permukaan telinga suaminya dengan perlahan, pergerakan tangannya kian turun dan membelai leher Abraham dengan lembut. Hingga membuat pria itu mengangkat wajahnya kian naik ke atas dan membiarkan istrinya itu bermain-main atasnya.


Marsha dalam hati tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan suaminya itu. Bibir wanita itu perlahan turun dan mendaratkan kecupan-kecupan basah dan hangat di garis leher suaminya, tangannya bergerilya dan menelusup di balik kaos yang dikenakan suaminya itu. Meraba dada suaminya yang bidang, meraba punggung suaminya yang kokoh, dan bibirnya kembali mengecupi bibir Abraham.


“Ah, Shayang … kamu,” ucap Abraham dengan menghela nafasnya.


Seakan-akan cara istrinya memegangnya, menyentuhnya, membelainya sekarang ini justru menyulut api dalam diri Abraham. Pria itu ingin menikmati semua yang dilakukan sang istri atas tubuhnya.


Hingga akhirnya tangan Abraham bergerak dan menyentuhkan tangan Marsha ke inti tubuhnya yang sudah sepenuhnya menegang, semua ciuman, semua pagutan, semua sentuhan yang diberikan oleh istrinya benar-benar membuat dirinya panas dingin sekarang ini.


Sembari menghela nafasnya, Marsha lantas bertanya kepada suaminya.


Abraham mengangguk, memberikan akses sepenuhnya bagi wanita itu untuk melakukan apa pun terhadapnya. Abraham menyandarkan punggungnya di sofa dan akan menikmati semua tindakan yang tengah dilakukan Marsha.


Marsha memberanikan dirinya menyentuh pusaka sang suami. Meremasnya perlahan, jantungnya berdebar-debar sekarang ini. Akan tetapi, hasratnya seakan mengatakan untuk mampu melakukan yang lebih. Untuk itu, Marsha kembali menggenggam pusaka itu, menggerakkannya naik dan turun. Tidak terkira bagaimana reaksi sang suami yang di atas.


Abraham lantas bangkit, kedua tangannya langsung bergerak dengan begitu cepat dan tepat, lantas membawa Marsha kembali duduk di pangkuannya.


“Sudah cukup, main-mainnya,” ucap Abraham kemudian.


Keduanya membawa bibir mereka untuk kembali bertemu, kembali menyapa, kembali memagut, mengecup, melu-mat, dan menciumnya dengan kian dalam. Kedua tangan Abraham, berusaha mengangkat kaos yang dikenakan istrinya, hingga membuat kaos itu terlepas dan Abraham segera melemparkannya begitu saja. Pria itu membuka matanya, tatkala melihat pembungkus renda di area dada istrinya, berwarna pink muda yang lembut. Tanpa permisi, tangan Abraham meremas gundukan kembar itu, menekannya perlahan, satu tangannya menelisip di balik punggung Marsha hingga membuat pembungkus itu terlepas.


Pria itu lantas melepaskan sendiri kaos yang masih dia gunakan. Lantas dia, melucuti sisa-sisa kain yang menempel pada tubuh keduanya. Abraham sedikit mengangkat tubuh Marsha, mendaratkan pantat wanita di pangkuannya, di atas pahanya. Menyatukan inti tubuh keduanya, membuat Marsha memejamkan matanya dan meremas helai rambut suaminya.


“Ah, Mas,” de-sahnya kala itu saat merasakan milik suaminya yang telah menusuk masuk seolah mengenai dinding rahimnya. Jari-jemari Marsha yang lentik meremas bahu suaminya, dan dia mencerukkan wajahnya di leher suaminya.

__ADS_1


Abraham membawa tangannya untuk kembali menyusuri kulit Marsha yang lembut, merabanya, memberikan sentuhan-sentuhan yang seolah menyulut partikel yang membuat tubuh keduanya kian tersulut, kian panas, dan kian basah lantaran keringat yang keluar begitu saja. Menghadirkan kesan liat dan basah.


Bibir pria itu bergerak dan mengecupi puncak bauh persik itu, memberikan sapuan dengan lidahnya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Tidak membutuhkan waktu lama, puncak buah persik itu pun membengkak dan basah.


Pinggang Marsha bergerak mengikuti instingnya. Dalam pergerakan maju dan mundur, dirinya kian kacau kali ini. Beberapa kali Marsha bahkan melenguh dan kian mencengkeram bahu suaminya itu. Gesekan demi gesekan yang terjadi membuat keduanya sama-sama terbakar.


Tubuh Marsha meliuk dengan begitu sensual, dalam dorongan hasrat yang secara samar terasa saat pusaka suaminya mendesak di bawah saja. Gesekan yang mampu mengalirkan setiap gelenyar pada tubuhnya sendiri.


Wanita itu kian meremang, saat jari-jari tangan Abraham kian menyusuri kulit punggungnya, meraba pahanya, bahkan mempermainkan buah persiknya. Keduanya bergerak dalam percikan yang seolah kian sulut-menyulut.


Abraham benar-benar terbakar, hingga pria itu tak henti-hentinya mengeksplor tubuh istrinya. Jari-jarinya sibuk memilin satu buah persik yang ada, dan bibirnya melahap dengan begitu rakus buah persik yang satunya. Hingga des-ahan berkali-kali mengalun dari bibir Marsha. Kegiatan panas yang benar-benar membakar keduanya saat ini.


“Ah, Mas … aku tidak tahan lagi,” pengakuan itu akhirnya keluar juga dari bibir Marsha.


Ya, wanita itu merasa sudah sampai di batas pertahannya. Tak mampu lagi tersulut dengan semua aktivitas yang dilakukan suaminya atasnya. Kali ini, Marsha memilih untuk tidak menjadi putri yang pemalu. Lagipula keduanya adalah sepasang suami-istri. Suaminya sendiri yang benar-benar menyulut tubuhnya dengan gelora, dan membuat Marsha berada di batas pertahannya.


Mendengar pengakuan sang istri, Abraham dengan cepat bergerak, membawa Marsha dalam gendongannya, dalam pelukannya dan membaringkan wanita itu. Abraham langsung menindihnya.


“Shayang,” Abraham pun menggeram. Sebenarnya bukan hanya Marsha yang tersulut, dirinya sendiri pun turut tersulut.


Wanita itu kian memejamkan kedua matanya saat merasakan desakan demi desakan, hujaman demi hujaman. Gerakan seduktif yang dilakukan suaminya, keluar dan masuk, menekan dan menusuk benar-benar memabukan.


Abraham lantas membuka kedua kaki istrinya itu. Menempatkan dirinya tepat ditengah-tengahnya, mengarahkan milik pusakanya pada cawan surgawi milik sang istri. Tanpa aba-aba dia menghujam masuk.


Kuat.


Dalam.


Cepat.


Menusuk hingga pusakannya tenggelam dalam cawan surgawi milik istrinya. Kesan erat, hangat, dan cengkeraman di dalam sana membuat Abraham beberapa kali memejamkan matanya, perasaan yang membuat pria itu hilang akal. Hingga akhirnya Abraham sadar bahwa dia tidak mampu lagi bertahan lebih lama lagi.


Maka Abraham pun menggeram, merengkuh tubuh Marsha dengan tangannya. Hingga akhirnya gerakan seduktif yang kacau dan penuh hujaman itu menghantarkan Abraham ke jurang kenikmatan tak bertepi. Saat cairan cintanya menyembur di dalam sana, pria itu benar-benar meledak, pecah seperti percikan kembang api dengan bunga-bunga apinya yang bertaburan di angkasa.

__ADS_1


Keduanya sama-sama hancur lebur, tersulut gelora cinta yang membara, dan membungkus keduanya dalam kenikmatan cinta yang mereka reguk bersama-sama.


__ADS_2