
Kebahagiaan keluarga Abraham dan Marsha kian bertambah dengan datangnya keluarga Agastya ke rumahnya. Bahkan Bu Sara dengan terang-terangan mengatakan bahwa Mira adalah calon menantu di masa depan. Bukan bermaksud Geer, hanya saja memang Abraham dan Marsha saat itu pun tertawa.
“Selamat ulang tahun ya Cantik … kue ulang tahun dari Kak Evan dan kak Elkan buat Mira yang paling cantik,” ucap Bu Sara dengan menyerahkan kue ulang tahun dengan desain karakter yang cantik untuk Mira.
“Selamat ulang tahun ya Mira … sehat selalu,” ucap Pak Belva yang memberikan elusan di puncak kepala Mira.
“Mari silakan duduk Bu Sara dan Pak Belva,” sambut Mama Diah yang mempersilakan Bu Sara dan Pak Belva untuk masuk dan bergabung untuk duduk di ruang tamu.
“Bu, datang ke Jakarta lagi yah? Wah, terima kasih kemarin untuk oleh-olehnya,” ucap Sara yang tidak lupa mengucapkan terima kasihnya kepada Mama Diah yang sudah memberikannya oleh-oleh berupa Lumpia dan Bandeng Presto.
Kedua oleh-oleh yang diberikan Mama Diah adalah favoritnya, sehingga memang Sara sangat senang bisa mendapatkan oleh-oleh dari Mama mertuanya Marsha itu. Rasanya kerinduannya dengan makanan tradisional itu pun terobati.
“Sama-sama Bu Sara … terima kasih sudah mau datang dan merayakan ulang tahun Mira,” balas Mama Diah dengan begitu ramah.
Sebagai orang yang jauh dari mertuanya, karena mertua Sara berada di Singapura, Sara merasa bahwa Marsha sangat bersyukur karena Mama Diah menganggap Marsha layaknya anak kandung. Mama Diah juga ramah, mengingatkan Sara kepada sosok Mamanya yang sudah tiada.
“Mama … Papa, kadonya dong,” ucap Evan yang mengingatkan kepada Mama dan Papanya untuk memberikan kado untuk Mira.
Memang Evan dan Elkan sengaja menyiapkan kado yang akan mereka berikan kepada Mira. Oleh karena itulah, Evan meminta kepada Papanya untuk mengambil kado yang ada di dalam mobil.
“Yuk, diambil sama Papa yuk,” ajak Belva kepada putra sulungnya itu.
“Iya Papa,” balas Evan dengan menganggukkan kepalanya.
Lantas, Pak Belva mengajak Evan untuk menuju mobilnya dan juga mengambil hadiah untuk Mira. Ada tiga hadiah di sana, satu hadiah dari Evan, satu hadiah dari Elkan, dan juga hadiah terbesar adalah dari Bu Sara.
__ADS_1
Dua anak laki-laki tampan itu kemudian mendekat kepada Marsha dan Abraham, menyerahkan hadiah untuk ulang tahun Mira.
“Mira, selamat ulang tahun yah,” ucap Evan dengan menyerahkan hadiahnya.
Marsha dan Abraham pun menerima kado dari Evan, “Terima kasih Kak Evan … Mira pasti senang banget,” balas Marsha dengan mengusapi puncak kepala Evan di sana.
Kemudian giliran Elkan yang mendekat kepada Marsha dan Abraham yang memangku Mira di sana. “Mira, happy birthday … El sayang Adik Mira,” ucap Elkan dengan begitu lucu dan menggemaskannya. Bahkan Elkan kini tampak menggenggam tangan Mira yang terlihat mungil itu.
“Wah, terima kasih Kakak Elkan … Mira pasti seneng nih dapat hadiah dari Kak El,” balas Marsha lagi.
Rupanya Elkan masih berdiri di depan Abraham dan Marsha, bahkan tangan Elkan masih menggenggam tangan mungil Mira itu. “Onty … Om …, El mau sun Adik boleh?” tanyanya terlebih dahulu.
Sontak saja semua yang ada di situ menjadi tertawa, tidak mengira juga bahwa Elkan mengatakan keinginannya untuk mencium Mira yang sedang berulang tahun. Itu juga karena setiap kali Elkan berulang tahun, Mama, Papa, dan Kakaknya akan memberikan ciuman sayang di pipinya. Maka dari itu, Elkan pun juga ingin melakukan hal yang sama kepada Mira. Sehingga Elkan bertanya apakah boleh mencium Mira.
“Boleh Kak El,” balas Papa Abraham.
Chup!
“Happy Birthday Mira … El sayang Mira,” ucapnya lagi.
Ya Tuhan, Abraham dan Marsha yang mendengarkannya pun tersenyum, tapi keduanya juga merasakan bahwa ungkapan dari seorang anak kecil adalah ungkapan yang tulus. Marsha dan Abraham pun bisa merasakan bahwa Elkan memang sayang kepada Mira.
“Sudah Adik El menciumnya,” sergah Evan dengan menarik satu tangan Elkan itu.
Usai mencium Mira yang berulang tahun, Elkan juga tertawa dan begitu senang. “El juga sayang Kakak kok.”
__ADS_1
Memang dua orang Kakak Beradik itu berbeda kepribadiannya. Jika Evan pendiam dan tenang, sementara Elkan menjadi anak yang ceria dan lebih mudah mengutarakan perasaannya.
“Fixed ini calon menantu masa depan,” gumam Sara dengan mengusapi kepala Elkan.
“Apa Ma?” tanya Elkan dengan bingung apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh Mamanya.
Mama Sara tampak menggelengkan kepalanya, “El sayang Mira?” tanya Mama Sara kemudian.
“Iya, sayang,” balas Elkan dengan yakin.
Pak Belva yang terbiasa diam dan kalem pun kali ini turut tertawa, “Bisa-bisanya kamu, El … siapa sih yang ngajarin?”
Elkan justru mendekat dan bergelayut di kaki Papanya itu, “Kata Mama kalau sayang diungkapkan Pa,” kali ini Evan yang memberikan penjelasan.
“Setuju!”
Abraham, Marsha, dan Mama Diah menyahut serempak. Sangat setuju dengan ucapan Evan itu. Memang kalau sayang lebih baik diungkapkan, tidak dipendam sendirian. Itu memang salah satu cara Sara untuk mendidik anak-anak untuk berani mengungkapkan perasaannya.
“Kan El sayang,” balasnya lagi.
Kembali Belva yang menatap Marsha dan Abraham di sana, “Kalau dari kecilnya udah sayang, semoga sampai besar nanti bisa saling sayang dan saling cinta. Serius ini Bram dan Marsha, kayaknya aku mau deh jadiin Mira sebagai menantu,” ucap Pak Belva dengan serius.
Abraham justru kembali tertawa, “Lihat nih Mira … kamu baru satu tahun sudah ada pihak keluarga yang melamar kamu. Haruskah Papa menerimanya?”
“Harus diterima dong … Elkan semoga sampai dewasa nanti sayang sama Mira yah,” balas Belva.
__ADS_1
Elkan yang masih kecil itu pun menganggukkan kepalanya, “Ya, sayang dong,” balasnya.
Entah itu jawaban asal atau benar-benar menjawab yang pasti Elkan terlihat bersungguh-sungguh. Entah yang kecil sayang, apakah nanti kala dewasa bisa juga sayang? Yang pasti seluruh orang yang hadir merasa terhibur dengan sikap dan kehangat seorang Elkan Agastya.