
Sepanjang malam Marsha lalui dengan tidur bersama Abraham. Bahkan sepanjang malam juga, Abraham memeluk Marsha. Tidak akan membiarkan Marsha bergelung sendirian di dalam selimut. Tangannya yang kokoh memeluk Marsha, sehingga tidur wanita itu kian hangat rasanya.
“Pagi Sha,” ucap Abraham pagi itu begitu melihat Marsha mengerjap dan terbangun di pagi itu.
“Bram,” sahutnya dengan suara yang masih serak khas orang baru bangun tidur.
“Bisa tidur nyenyak semalam?” tanya Abraham.
Tidak perlu ditanya lagi, bahkan sejak semalam Marsha dengan begitu mudahnya terlelap. Bahkan sepanjang malam, Marsha tidak terbangun. Efek lelah bercinta, atau memang pelukan Abraham yang begitu hangat sehingga membuat tidurnya kian lelap.
“Aku mau pergi, Bram,” ucap Marsha pagi itu.
“Kemana?” tanya Abraham.
“Ke Kantor kepolosian,” jawab Marsha.
“Untuk?” Abraham kembali bertanya.
“Melaporkan Melvin, aku ingin memberi pelajaran kepadanya,” sahut Marsha.
Di pagi ketika dia baru membuka mata, justru Marsha teringat untuk melaporkan Melvin ke pihak berwajib. Teringat kembali dengan ucapan Melvin kemarin, rasanya kali ini Marsha harus benar-benar membuktikan bahwa dirinya bukan wanita yang lemah. Dia akan membalas perbuatan Melvin kepadanya.
“Tapi, ini hari minggu … besok saja yah. Besok aku antar ke kepolisian,” balas Abraham.
“Ah, aku sampai lupa kalau ini adalah hari minggu,” sahut Marsha.
Mungkin karena terlalu banyak pikiran, membuat Marsha sampai lupa hari. Barulah dia tersadar saat Abraham mengatakan bahwa ini adalah hari minggu.
“Besok aku antar ke kantor polisi yah. Untuk tuduhan apa?” tanya Abraham lagi.
“Kekerasan dalam rumah tangga,” balas Marsha.
__ADS_1
“Baiklah, besok aku antar,” sahut Abraham.
Kemudian Abraham segera beringsut, pria itu menyadarkan punggungnya di headboard, dan tangannya memberikan usapan di kepala hingga rambut Marsha. Pagi hari yang indah bagi Abraham, karena dia bisa terbangun di tempat yang sama bersama Marsha. Semoga saja harapannya untuk bersatu dengan Marsha bisa sepenuhnya terwujud.
“Kamu mau di atas ranjang seperti ini terus?” tanya Abraham dengan tiba-tiba.
“Eh, sebentar Bram … aku sedikit ingin bermalas-malasan,” aku Marsha dengan jujur.
Abraham tersenyum, “Santai saja, Sha … aku tidak keberatan kok. Istirahatlah, aku mandi dulu yah,” balas Abraham.
Pria itu sedikit menundukkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Marsha.
Chup!
“Aku cinta kamu, Sha,” ucap Abraham.
Sepeninggal Abraham, Marsha tersenyum dengan menutupi wajahnya itu dengan kedua telapak tangannya. Diperlakukan dengan begitu lembut oleh Abraham membuat paginya penuh dengan rona cinta. Namun, sayangnya itu adalah rona cinta terlarang.
Kurang lebih dua puluh menit berlalu, Abraham keluar dari kamarnya dengan wajah yang segar dan tentunya semerbak aroma Woody menyapa indera penciuman Marsha. Parfum yang dikenakan Abraham masih sama sejak mereka sama-sama kuliah dulu. Marsha ingat betul bahwa kali pertama Abraham mengenakan parfum aroma itu karena dia yang membelikannya untuk Abraham.
"Bikin sarapan?" tanya Abraham.
"Iya, ambil bahan-bahan di lemari es," jawab Marsha.
"Kayaknya kalau kita menikah, kita bisa menjadi pasangan yang harmonis deh, Sha," sahut Abraham.
Namun, lantaran menyebut perihal pernikahan, Marsha tidak menanggapinya. Jika menikah lagi, Marsha pikir semuanya itu terlalu cepat. Sehingga Marsha memilih diam dan mengalihkan pembicaraan sesegera mungkin.
"Sarapan, Bram ... kamu pasti lapar," jawab Marsha.
"Baiklah, makasih ya Sha ... Yang," balas Abraham.
__ADS_1
Bahkan Abraham dengan sengaja menyebut Marsha dengan tambahan 'sayang'. Pria itu kembali melakukan kebiasaannya di masa lalu. Saat dia masih menjadi kekasih Marsha di tahun-tahun yang lain. Tersulut kembali untuk bernostalgia dan mengulang cerita indah bersama.
***
Keesokan harinya …
Marsha benar-benar membuktikan rencananya untuk melaporkan Melvin ke pihak yang berwajib. Kali ini Marsha yang tanpa didampingi kuasa hukum, melaporkan untuk tuduhan kekerasan dalam rumah tangga kepadanya.
Pihak kepolisian untuk memeriksa semua bukti dan hasil visum yang Marsha lakukan. Berita acara pemeriksaan juga sudah diterbitkan, dan pihak kepolisian berjanji akan segera melakukan penyelidikan kepada Melvin Andrian.
Sebenarnya sungguh disayangkan bahwa rumah tangga sang pesohor yang namanya dikenal luas di seantero negeri itu harus ditimpa berbagai masalah dan menyangkut ke ranah hukum. Namun, Marsha juga harus membela dan memperjuangkan haknya sebagai perempuan. Hampir dua jam lamanya Marsha berada di kantor kepolisian, dan sekarang Marsha sudah kembali ke apartemennya.
“Sudah Sha?” tanya Abraham.
“Iya, sudah … katanya kepolisian akan melakukan penyelidikan kepada Melvin,” jawab Marsha.
“Hasil visum sudah kamu sertakan?” tanya Abraham lagi.
“Iya sudah … hasil visum, foto-foto dari setiap luka yang aku terima juga aku sertakan,” jawab Marsha.
Abraham menganggukkan kepalanya mendengar cerita dari Marsha itu, kemudian pria itu menautkan tangannya ke dalam tangan Marsha, menggenggamnya dengan begitu erat.
“Sudah jangan terlalu dipikirkan … kamu sudah melakukan apa yang benar. Melvin pasti akan mendapatkan karmanya,” ucap Abraham kali ini.
“Semoga saja, Bram … semoga hukum di negeri kita ini tidak tajam ke atas dan tumpul ke bawah. Aku tahu Melvin adalah publik figur, namanya begitu besar di dunia akting. Pasti masalah ini akan berakibat ke kariernya,” balas Marsha.
“Tidak perlu dipikirkan. Setiap orang akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan. Kamu bahkan juga menerima berbagai komentar negatif dari publik. Semua ada akibatnya, Marsha. Tergantung bagaimana kita menyingkapinya,” balas Abraham.
Marsha menghela nafas, dan sedikit memijat pelipisnya yang terasa sedikit pening saat itu. “Semoga saja Melvin tidak berupaya untuk melarikan diri dari pelaporan ini. Aku hanya ingin dia bertanggung jawab untuk semua luka yang dia berikan kepadaku. Sepenuhnya bukan salah dia, aku juga bersalah karena aku juga bermain api di belakangnya. Aku sepenuhnya sadar bahwa aku pun bukan istri yang setia. Hanya saja, seorang suami tidak diperkenankan main hakim sendiri dan memberikan luka untuk istrinya. Seorang suami hendak menjaga istri, melindunginya, bukan justru memaksa dalam hubungan suami istri dan mengangkat tangan atasnya,” balas Marsha.
“Iya Sha, karena itu … setelah semua berakhir. Terima aku, Sha … aku akan melindungimu. Aku akan menjagamu. Aku tidak akan menyakitimu,” ucap Abraham kali ini.
__ADS_1
Namun Marsha hanya memberikan senyuman dengan ekspresi wajah yang sukar untuk dipahami oleh Abraham. Jujur saja, Marsha belum siap untuk kembali berumah tangga. Dia harus menata hatinya lagi, menata hidupnya lagi. Membutuhkan sebuah komitmen besar untuk kembali berumahtangga. Selain itu, Marsha juga tidak ingin mengalami lagi kegagalan dalam berumahtangga. Cukup kali ini Marsha merasakan kegagalan berumahtangga, dan Marsha berharap untuk tidak mengalami kali yang kedua nanti.