Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Berbagai Kecemasan


__ADS_3

“Kamu enggak kembali ke studio Mas?” tanya Marsha kepada suaminya itu.


Hari masih siang, masih bisa dimanfaatkan Abraham untuk kembali bekerja ke Studio Foto milikinya. Untuk itu, Marsha pun bertanya apakah Abraham akan kembali ke studio fotonya.


“Enggak … di rumah saja. Lagian kamu membutuhkan aku,” balas Abraham.


Sepenuhnya Abraham tahu bahwa di saat seperti ini, Marsha sangat membutuhkan dirinya. Untuk itu, lebih baik bagi Abraham untuk tetap berada di rumah dan menemani istrinya itu. Walaupun menurut Dokter Indri, pembukaan dua ke pembukaan selanjutnya bisa berhari-hari lagi. Akan tetapi, untuk kali ini biarlah dia berada di rumah dan menemani Marsha.


"Mau istirahat di dalam kamar? Aku temenin," ucap Abraham.


"Boleh Mas," jawab Marsha.


Abraham kemudian berdiri, mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Marsha dan mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar. Sebelumnya, Abraham juga berpamitan kepada Mama Diah untuk menemani Marsha istirahat dulu.


Di dalam kamar, Abraham menata beberapa bantal dengan sedemikian rupa untuk menahan pinggang istrinya, sehingga bisa membuat pinggang Marsha menjadi lebih nyaman.


"Sini ... sandaran di sini. Pinggangnya dikasih bantal biar enggak pegal," ucapnya.


Dalam hatinya Marsha terharu. Di saat dirinya merasa sakit, tidak nyaman, dan tentunya cemas, Abraham justru begitu baik kepadanya. Abraham terlihat begitu mencintainya dan memberikan perhatian penuh kepadanya.


"Makasih Mas ...."


"Sama-sama Shayang. Kamu pengen apa lagi, biar aku belikan," tawar Abraham kini kepada istrinya.


Akan tetapi, dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Enggak ... enggak pengen apa-apa kok. Pengen dipeluk kamu saja," pinta Marsha.

__ADS_1


Abraham tersenyum mendengar keinginan dari istrinya itu, pria itu segera duduk di pinggiran ranjang, menghadap Marsha, dan segera memeluk Marsha. Abraham memejamkan matanya dan memberikan usapan di kepala, bahu, hingga punggung Marsha.


"Aku cinta kamu, banget ... aku tahu kamu pasti cemas. Sama, aku pun juga cemas. Akan tetapi, jangan khawatir, kita akan menjalani semuanya bersama-sama. Kamu punya aku, Shayang," ucap Abraham.


Sebuah ucapan yang sangat dalam dan begitu lembut dari lubuk hatinya yang terdalam bahwa Abraham berjanji akan selalu mendampingi Marsha. Terlebih di saat-saat menjelang persalinan seperti ini, Abraham yakin bahwa tingkat kecemasan Marsha bisa bertambah.


"Aku takut, Mas ...."


Marsha mengakui bahwa dirinya merasa takut. Merasa tidak mampu. Sebatas kontraksi palsu saja sudah membuat Marsha merasa ketakutan. Namun, bagaimana juga bagi mereka yang baru kali pertama merasakan, sudah pasti banyak dicemaskan.


"Enggak apa-apa ... cemas dan takut itu wajar kok. Yang penting kamu harus selalu tahu bahwa aku selalu ada buat kamu," jawab Abraham.


Marsha membenamkan wajahnya di dada Abraham, dengan kedua tangan yang melingkari tubuh suaminya itu.


"Makasih Mas, sudah selalu mendampingi aku," balas Marsha.


Di dada Abraham, Marsha menganggukkan kepalanya, "Iya ... makasih Mas ... semoga saja, tidak sampai berhari-hari atau ganti minggu ya Mas. Lebih cepat lahir, lebih baik. Biar bisa ketemu dan gendong-gendong adik bayi," balas Marsha.


Memang untuk mereka yang baru saja hendak melahirkan, mengingat bahwa pembukaan bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu membuat Marsha cemas. Jika bisa, lebih baik kontraksi palsu itu akan selesai dan terjadi pembukaan aktif. Sebab, bisa bertemu dengan buah hati, tentu akan jauh lebih baik.


"Ya sabar Shayang ... si baby kan punya waktunya sendiri. Kalau sudah waktu, nanti kita pasti bertemu kok dengan si baby. Jadi, penasaran dia mirip denganku atau denganmu," balas Abraham.


"Bobok dulu saja Shayang ... buat istirahat. Jangan khawatir, aku akan selalu jagain kamu," balas Abraham lagi.


Daripada terus cemas, lebih baik memang Abraham meminta Marsha untuk beristirahat. Tidur bisa mengurangi kecemasan, lagipula dia akan tetap ada di samping Marsha.

__ADS_1


"Boleh, cuma temenin ya Mas," balas Marsha.


"Iya ... manja banget sih. Sini, Papa temenin Mama Marsha yang cantik," balas Abraham.


Pria itu membantu Marsha untuk berbaring, kemudian Abraham tersenyum dan memberikan usapan di sisi wajah Marsha, membelainya perlahan.


"Bobok dulu saja. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku akan selalu ada di sini bersama kamu. I Love U Marshaku."


Marsha tersenyum, benar yang dikatakan oleh suaminya bahwa dia tidak perlu berpikiran aneh-aneh karena Abraham akan selalu ada menemaninya. Di saat seperti ini rasanya satu-satunya orang yang Marsha butuhkan juga hanya Abraham. Pria yang menjadi suami dan calon Papa itu keberadaannya sangat penting bagi Marsha.


Abraham masih menunggu sampai Marsha tertidur, kemudian Abraham keluar dari kamarnya dan bergabung dengan Mamanya yang berada di dapur.


"Gimana Marsha, Bram?" tanya Mama Diah.


"Baru tidur, Ma ... cemas kayaknya Marsha. Abraham juga cemas sih Ma ... cuma ya gimana lagi harus menghadapi," balas Abraham.


Mama Diah pun menganggukkan kepalanya, "Benar ... harus dihadapi. Kamu jadi pria yang kuat yah, dampingi Marsha. Momen menyambut bayi itu sangat membahagiakan. Haru rasanya. Kamu akan merasakan momen puncak di mana tangisan pertama si bayi mengubah hidupmu, menjadikanmu sebagai Papa," balas Mama Diah.


"Iya Ma ... sudah pasti Bram akan mendampingi Marsha. Kami berdua akan bersama-sama menyambut baby kami," jawabnya.


"Ya sudah, kamu mau makan atau apa?" tanya Mama Diah lagi.


"Enggak, mau ambil minum saja Ma ... habis ini mau menemani Marsha lagi. Kasihan, enggak bisa ninggalin Marsha, Ma," balas Abraham.


Mama Diah tersenyum, "Sana ... dampingi Marsha. Jadi suami siaga," balasnya.

__ADS_1


Abraham pun tersenyum dan segera kembali ke dalam kamar. Lebih baik memang menjadi suami siaga. Siapa tahu dengan ditemani langsung oleh Papanya, si baby akan segera menambah pembukaannya dan segera launching tidak lama lagi.


__ADS_2