
Semalam rasanya, Marsha tidur dengan begitu pulas. Hingga malam itu, di dalam pelukan Abraham, Marsha pun tidur dengan begitu pulas. Pagi ini, wanita itu terbangun perlahan, mengerjapkan matanya beberapa dan hal pertama yang dia lihat hari ini adalah wajah Abraham yang berbaring di sampingnya.
Kilasan bagaimana mereka berdua kembali memadu kasih semalam rasanya kembali melintas di pikirannya. Hingga Marsha pun tersenyum, tidak menyangka semalam akan menjadi penyatuan yang manis, hangat, dan tentunya halal bersama dengan Abraham.
Saat Marsha hendak beringsut untuk turun dari ranjangnya, nyatanya justru Abraham kian mengeratkan pelukannya di tubuh Marsha. Seolah tidak mengizinkan Marsha untuk turun dari ranjang itu.
“Pagi Shayang,” sapa Abraham dengan suara yang serak khas orang baru bangun tidur.
Marsha pun terdiam, mungkinkah dirinya saat menatap wajah Abraham tadi sebenarnya Abraham sudah terbangun?
“Hmm, pagi Bram,” sapanya kali ini.
Abraham kemudian membuka matanya lebar-lebar dan memberikan senyuman untuk istrinya itu.
“Kenapa kamu tadi memandangiku? Hmm,” tanya Abraham kali ini.
Marsha justru menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak memandangimu,” sahutnya dengan masih mencoba menutupi wajahnya.
“Aku tahu, beberapa menit tadi kamu sedang memandangiku,” jawab Abraham.
“Benarkah?” tanya Marsha.
Abraham kembali menganggukkan kepalanya, “Ya, benar … aku bahkan tahu kamu tersenyum usai memandangiku,” jawab Abraham dengan penuh percaya diri.
Setelah itu, Marsha berusaha mengurai pelukan Abraham yang terasa membelitnya, “Lepaskan aku, Bram … aku harus mandi,” pintanya.
Akan tetapi, bukan melepaskan Marsha, dan ada justru Abraham masih setia memeluk Marsha. “Sebentar … aku masih ingin memelukmu. Bisakah kita seharian seperti ini?” tanya Abraham lagi.
Marsha menggelengkan kepalanya, “Tidak … kalau terus seperti ini, aku bisa masuk angin, Bram,” jawabnya.
“Rasanya … aku sekarang tidak ingin jauh-jauh darimu, Sha,” ucap Abraham dengan mengecup kening Marsha.
Sedikit mendorong dada Abraham, Marsha pun turun dari tempat tidur, wanita itu segera memilih segera ke kamar mandi, bahkan Marsha menutup pintu kamar mandi itu dari dalam. Setidaknya Marsha ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu.
“Shayang, buka pintunya … aku ikut mandi,” ucap Abraham dengan mengetuk pintu.
__ADS_1
“No, aku duluan … kamu nanti saja,” teriak Marsha dari dalam kamar mandi.
Hampir dua puluh menit berlalu, dan kini Marsha sudah keluar dengan wajah yang segar dan tentunya wangi. Aroma parfum vanilla yang lembut dan manis seketika memenuhi isi ruangan itu.
“Kamu mandi dulu, Bram,” ucap Marsha kali ini.
“Shayang, kamu lupa dengan permintaanku semalam?” tanya Abraham kali ini dengan wajah yang tampak merajuk.
“Mandi dulu, biar seger,” balas Marsha.
“Ya sudah, aku mandi yah … tapi, nanti jadi kan … pagi hari,” balas Abraham.
Marsha hanya tersenyum dan mendorong punggung suaminya itu memasuki kamar mandi. Saat Abraham mandi, Marsha sedikit merapikan ruangan kamarnya. Memisahkan pakaian kotor semalam dan memasukkan dalam tas tersendiri, dan merapikan selimut. Setelahnya, Marsha memilih duduk di sofa, merasakan sapaan hangat matahari di pagi itu. Masih jam 06.00 pagi, tetapi matahari sudah tersenyum di atas sana.
Abraham pun sudah keluar dari kamar mandi, dengan rambutnya yang setengah basah. Dia kemudian mengambil duduk di samping Marsha, mencuri sebuah ciuman di pipi istrinya itu.
“Pagi istriku,” sapa Abraham kali ini.
“Pagi suamiku,” balas Marsha.
“Manis banget sih,” ucap Abraham yang sudah mendaratkan kecupan di leher Marsha yang saat itu dekat dengan bibirnya.
“Apanya yang manis, parfumnya atau aku?” tanya Marsha tiba-tiba.
“Kamu,” balas Abraham.
Abraham menahan tengkuk Marsha, dan dia segera melabuhkan ciumannya di bibir Marsha. Dua bibir yang kembali saling bertaut. Marsha tersenyum dengan memejamkan matanya perlahan saat Abraham menciumnya, tangannya melingkari leher Abraham, dan Marsha pun membalas ciuman Abraham. Di saat Abraham memagut bibirnya, Marsha melakukan yang hal sama. Di saat Abraham menghisap lipatan bibirnya, Marsha melakukan hal yang serupa. Itu adalah ciuman yang panas, matahari pagi yang menyapa justru kian menghangatkan tubuh keduanya di pagi hari ini.
Tangan Abraham yang semula menahan tengkuk Marsha, kini pun mulai memberikan usapan di rambut Marsha, usapan di telinganya yang membuat Marsha menghela nafas, usapan di lengan, dan usapan yang berakhir di area dadanya.
“Boleh pagi ini Istriku?” tanya Abraham kepada Marsha.
Marsha masih tidak merespons, lantas Abraham membawa tangan Marsha dan mengusapkannya ke pusakanya yang sudah tegak berdiri. “Dia sudah bangun karenamu,” ucap Abraham. Sebuah kalimat yang membuat wajah Marsha rasanya begitu panas.
Tidak ada jawaban, tetapi Marsha justru memberanikan itu menyentuh pusaka itu. Memberikan sedikit remasan, dan menggerakkan naik dan turun. Bahkan tangannya menyelinap masuk di balik celana yang dikenakan Abraham. Hingga telapak tangannya yang halus merasakan hangatnya pusaka Abraham.
__ADS_1
“Semuanya milikmu, Shayangku,” ucap Abraham dengan mengusapi kepala Marsha.
Marsha tersenyum, wanita itu turun dari pangkuan Abraham, dan mulai memasukkan pusaka itu ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Memberikan pelayanan pertamanya sebagai seorang istri untuk suaminya. Membawa pusaka itu bersarang di rongga mulutnya, memberikan hisapan dan usapan lidahnya yang membuat Abraham mende-sah dan menghela nafas.
“Ah, astaga Shayang,” racau Abraham kali ini. Tangannya mengusapi kepala Marsha.
Namun, tidak berselang lama, Abraham menarik wajah Marsha, dan pria itu kembali menciumi bibir Marsha. Abraham adalah lelaki sejati yang menerima saja dengan service terbaik dari istrinya. Tidak, dia tidak akan membiarkan Marsha melakukan semua itu. Cukup bermain-mainnya. Sebab, lelaki sejati akan memberikan kenikmatan untuk istrinya.
“Sudah, cukup Shayang … terima kasih,” ucap Abraham.
Marsha melihat Abraham dengan tatapan yang berbeda, tapi tidak berselang lama, Abraham menarik kaos yang dikenakan Marsha. Membawa wanita itu dalam pangkuannya, dan Abraham tanpa ragu menenggalam area dada Marsha ke dalam rongga mulutnya. Memberikan hisapan di sana, memberikan gigitan, dan lu-matan. Lidahnya bergerak liar dan memporak-porandakan kesadaran Marsha. Sementara itu, tak ingin menunggu lama, Abraham meloloskan celana Marsha, jari telunjuknya mulai menginvansi lembah di bawah sana. Memberikan usapan sebagai sapaan awal, dan perlahan jari itu mulai menyisir dan memberikan tusukan hingga cengkeraman tangan Marsha di bahu Abraham kian kuat.
“Uh, Bram,” ucap Marsha dengan menghela nafas.
“Nikmati Shayang … tiga hari ini milik kita berdua,” ucap Abraham.
Ah, Marsha sungguh hilang akal. Ada area dadanya yang mendapatkan hisapan dan lu-matan dari mulut Abraham, sementara lembah di bawah sana terus mendapatkan invansi dari Abraham. Sampai tubuh Marsha mengejang hebat, sesuatu yang basah dan hangat keluar dari cawan surgawinya.
Sensasi basah dan hangat itu, lantas membuat Abraham sedikit mengangkat pinggul Marsha, menyatukan tubuh keduanya. Pusaka yang masih tegak berdiri perlahan-lahan memasuki sarangnya.
“Ah, Marsha … gerakkan pinggulmu, Shayang,” pinta Abraham kali ini.
Berusaha keras, Marsha menggerakkan pinggulnya berlahan, bertahan dengan memegangi leher Abraham. Kian lama gerakannya semakin kacau.
Gerakan Marsha kian kacau dengan de-sahan demi de-sahan yang mengalun dari bibirnya. Tak kuasa dengan terpaan badai, Marsha menelungkungkan tubuhnya berpegang pada paha Abraham.
"Bram," ucapnya dengan wajah yang terselimut gairah.
Wajah Abraham yang diselimuti kabut gairah membuat Abraham kian memejamkan matanya. Belama-lama bergerak, dan menghentakkan pinggulnya membuat Marsha lemas rasanya.
Menyadari bahwa Marsha telah mengalami pelepasan berkali-kali bahkan terlihat lemas, Abraham kali ini menggerakkan pinggulnya, menghujam dari bawah. Gerakan sedikit kasar, dan penuh tenaga. Sampai membuat Marsha tak kuasa lain bertahan. Pun sama dengan Abraham yang menggeram dan merasakan tubuhnya kembali bergetar saat merasakan dirinya menyemburkan kembali cairan penuh cinta miliknya ke dalam cawan surgawi milik Marsha.
Abraham merengkuh tubuh Marsha, mendekapnya erat sembari memejamkan matanya.
"Luar biasa Shayangku ... aku cinta kamu, cinta banget sama kamu," ucapnya kali ini.
__ADS_1
Di kala pagi datang dan surya menyapa. Pasangan suami istri masih berusaha menuntaskan misi yang sengaja diminta khusus oleh Abraham pagi itu. Mengawal pagi pertama sebagai pasangan suami dan istri dengan berbagi cinta yang bersalut kenikmatan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.